Nalarmerdeka.com – Ketika bendera kemerdekaan dikibarkan dan pasukan kolonial pergi, banyak yang berpikir bahwa kolonialisme sudah selesai. Frantz Fanon — psikiater, filsuf, dan revolusioner dari Martinique — berpendapat sebaliknya dengan argumen yang sangat mengganggu: kolonialisme yang paling berbahaya bukan yang memaksa melalui bedil dan penjara, tapi yang sudah merasuk ke dalam jiwa orang-orang yang dijajah sehingga mereka terus menjajah diri sendiri bahkan setelah penjajahnya pergi.
Siapa Frantz Fanon?
Frantz Fanon lahir pada 1925 di Martinique — pulau Karibia yang saat itu adalah koloni Perancis. Ia tumbuh dengan identitas yang kompleks: secara hukum warga negara Perancis, tapi mengalami rasisme kolonial setiap harinya. Ia belajar psikiatri di Lyon, Perancis, dan kemudian bekerja sebagai psikiater di Aljazair — tepat ketika perang kemerdekaan Aljazair melawan Perancis sedang bergejolak.
Pengalaman merawat pasien yang mengalami trauma kolonialisme — baik korban maupun kadang pelaku kekerasan — mengubah cara Fanon memahami hubungan antara kolonialisme, psikologi, dan politik. Ia akhirnya bergabung dengan Front Pembebasan Nasional Aljazair dan menulis karya-karya yang menjadi fondasi pemikiran antikolonial abad ke-20.
Ia meninggal pada 1961 akibat leukemia, di usia 36 tahun — tidak sempat melihat kemerdekaan Aljazair yang ia perjuangkan. Tapi ide-idenya terus hidup dan terus relevan.
Black Skin, White Masks: Kolonialisme di Dalam Jiwa
Karya pertama Fanon yang paling berpengaruh, Black Skin, White Masks (1952), adalah analisis psikologis tentang apa yang kolonialisme lakukan pada jiwa orang yang dijajah.
Fanon mengidentifikasi fenomena yang ia sebut alienasi kolonial — proses di mana orang yang dijajah menginternalisasi pandangan penjajah tentang diri mereka sendiri. Mereka mulai melihat diri mereka melalui mata penjajah: sebagai inferior, sebagai terbelakang, sebagai membutuhkan "peradaban" yang hanya bisa datang dari luar.
Konsekuensinya sangat merusak: orang yang terjajah secara psikologis memandang kulit, bahasa, dan budaya mereka sendiri sebagai sesuatu yang rendah — sementara kulit, bahasa, dan budaya penjajah dipandang sebagai aspirasi. Mereka memakai "topeng putih" di atas "kulit hitam" — mencoba menjadi penjajah mereka sendiri sebagai cara untuk lolos dari stigma yang ditempel oleh kolonialisme.
The Wretched of the Earth: Dekolonisasi yang Belum Selesai
Karya terakhir dan paling ambisius Fanon, The Wretched of the Earth (1961), ditulis ketika ia sudah tahu bahwa ia sekarat. Buku ini adalah peringatan keras tentang apa yang bisa salah dalam proses dekolonisasi.
Fanon memperingatkan bahwa kemerdekaan formal — pengibaran bendera baru, pergantian pejabat — tidak otomatis menghasilkan dekolonisasi yang sesungguhnya. Yang paling ia khawatirkan adalah kemungkinan bahwa elit nasional yang menggantikan penjajah hanya akan mereproduksi struktur kolonial dengan wajah baru — menikmati keistimewaan yang dulu dinikmati penjajah, melayani kepentingan global yang sama, dan menjaga massa tetap tereksploitasi.
Dalam kata-katanya sendiri, bahaya terbesar pasca-kolonial adalah "bourgeoisie nasional" yang lebih tertarik pada mengambil alih posisi penjajah daripada mengubah sistem yang membuat posisi itu bisa dinikmati oleh sedikit orang dengan mengorbankan banyak.
Relevansinya untuk Indonesia
Membaca Fanon dari konteks Indonesia adalah pengalaman yang tidak selalu nyaman. Beberapa pertanyaan yang ia ajukan terasa sangat relevan.
Apakah sistem ekonomi yang kita bangun setelah kemerdekaan benar-benar berbeda dari logika ekstraksi kolonial, atau hanya mengubah siapa yang mengekstraksi? Apakah elite nasional yang berkuasa sejak 1945 telah membangun struktur yang melayani kepentingan rakyat luas, atau sebagian besar mereproduksi hierarki yang menguntungkan mereka sendiri?
Dan yang paling mengganggu: apakah kita masih menginternalisasi standar-standar yang akarnya kolonial — mengukur kemajuan dengan parameter yang ditentukan oleh pusat-pusat kekuasaan global, memandang budaya dan pengetahuan lokal sebagai lebih rendah dari yang datang dari Barat?
Fanon Bukan Resep — Ia Adalah Cermin
Penting untuk tidak membaca Fanon secara dogmatis. Beberapa aspek pemikirannya — terutama argumennya tentang kekerasan sebagai elemen yang tidak bisa dihindari dalam dekolonisasi — sangat diperdebatkan dan tidak bisa diterima begitu saja.
Nilai terbesar Fanon bukan pada resep yang ia tawarkan, tapi pada cermin yang ia pegang. Ia memaksa kita untuk melihat bahwa kemerdekaan politik adalah awal, bukan akhir, dari proyek dekolonisasi — dan bahwa sisa-sisa kolonialisme yang paling dalam hidup bukan dalam undang-undang atau institusi formal, tapi dalam cara kita memandang diri sendiri dan satu sama lain.
Fanon meninggal sebelum sempat melihat apakah peringatannya terbukti benar. Tapi bagi siapapun yang membaca sejarah pasca-kolonial di Afrika, Asia, dan Amerika Latin dengan jujur, jawabannya sebagian besar mengkonfirmasi kekhawatirannya. Pertanyaan yang ia tinggalkan untuk kita: dari kolonialisme mana — eksternal maupun internal — kita masih belum benar-benar merdeka?
Penulis: Muhammad Jazuli
