Nalarmerdeka.com – Pada 2023, Surgeon General Amerika Serikat mendeklarasikan kesepian sebagai krisis kesehatan publik. Di Inggris, pemerintah sampai membentuk Menteri Kesepian. Di Jepang, ada istilah kodawari untuk orang yang mati sendirian tanpa ada yang tahu. Tapi di tengah semua laporan ini, ada pertanyaan yang jarang diajukan: apakah kesepian adalah masalah pribadi yang perlu diselesaikan individu — atau ada sistem yang secara struktural memproduksinya?
Kesepian Bukan Hanya Soal Tidak Punya Teman
Sosiolog Robert Weiss membedakan dua jenis kesepian: social loneliness (tidak punya jaringan sosial yang cukup) dan emotional loneliness (tidak punya kedekatan emosional yang bermakna). Seseorang bisa dikelilingi ratusan orang dan tetap kesepian secara emosional.
Ini penting karena menunjukkan bahwa kesepian bukan sekadar soal kuantitas interaksi — tapi kualitas dan kedalaman hubungan. Dan di sinilah sistem ekonomi mulai relevan untuk dibicarakan.
Bagaimana Kapitalisme Mengubah Cara Kita Berhubungan
Sosiolog Émile Durkheim, jauh sebelum era media sosial, sudah memperingatkan tentang anomie — kondisi di mana ikatan sosial melemah karena perubahan struktural yang terlalu cepat. Industrialisasi memindahkan orang dari komunitas tradisional ke kota-kota besar yang anonim. Hubungan berbasis kebersamaan digantikan hubungan berbasis transaksi.
Kapitalisme modern memperparah ini melalui beberapa mekanisme:
Mobilitas tenaga kerja memaksa orang berpindah kota atau negara demi pekerjaan — memutus jaringan sosial yang dibangun bertahun-tahun. Privatisasi ruang publik menghilangkan tempat-tempat di mana orang bisa berinteraksi tanpa harus membeli sesuatu. Budaya produktivitas menanamkan rasa bersalah ketika seseorang "hanya" menghabiskan waktu bersama orang lain tanpa agenda yang "berguna."
Sosiolog Vivek Murthy, dalam bukunya Together, menyebut bahwa masyarakat modern telah menciptakan kondisi struktural yang mengisolasi manusia — dan kemudian menyalahkan individu atas isolasi itu.
Media Sosial: Solusi atau Akselerator?
Ironisnya, teknologi yang dirancang untuk menghubungkan manusia justru sering memperburuk kesepian. Penelitian dari University of Pennsylvania (2018) menemukan bahwa membatasi penggunaan media sosial hingga 30 menit per hari secara signifikan mengurangi perasaan kesepian dan depresi.
Tapi masalahnya bukan hanya pada individu yang "tidak bisa mengontrol diri." Platform media sosial dirancang dengan logika kapitalisme: engagement adalah mata uang, dan konten yang memicu emosi negatif — termasuk rasa tidak cukup dan rasa iri — menghasilkan engagement lebih tinggi.
Kita bukan hanya pengguna yang ketagihan. Kita adalah produk dari sistem yang mencari keuntungan dari ketidakpuasan kita.
Lalu Siapa yang Bertanggung Jawab?
Di sinilah perdebatan menjadi menarik. Ada dua kubu besar:
Kubu pertama — yang lebih individualis — berpendapat bahwa kesepian adalah masalah keterampilan sosial dan pilihan pribadi. Solusinya: terapi, komunitas sukarela, dan perubahan kebiasaan digital.
Kubu kedua — yang lebih strukturalis — berpendapat bahwa selama sistem ekonomi terus memprioritaskan produktivitas individual di atas ikatan komunal, intervensi personal hanya akan menambal lubang yang terus diperbesar sistem.
Keduanya ada benarnya. Tapi ada bahaya dalam terlalu menekankan solusi individual: ia memindahkan beban dari sistem ke pundak orang yang sudah kelelahan.
Kalau kesepian sebagian adalah produk dari sistem — bukan sekadar kegagalan pribadi — apakah jawaban atas epidemi ini cukup dengan "keluar lebih sering dan matikan HP"? Atau kita perlu percakapan yang lebih besar tentang seperti apa bentuk masyarakat yang ingin kita bangun bersama?
Penulis: Muhammad Jazuli
