![]() |
| Ilustrasi editorial untuk artikel tentang konsep Panoptikon Michel Foucault dan bagaimana pengawasan yang tidak terlihat membentuk perilaku manusia di era digital. / Ilustrasi: Muhammad Jazuli |
Nalarmerdeka.com – Kamu pernah merasa bersalah karena tidak produktif? Pernah merasa ada yang "salah" dengan dirimu karena tidak memenuhi standar tertentu — standar tubuh, standar karier, standar perilaku sosial? Pernah bertanya-tanya dari mana standar itu datang dan siapa yang memutuskan bahwa itulah yang "normal"?
Michel Foucault menghabiskan seluruh karier intelektualnya untuk menjawab pertanyaan itu. Dan jawabannya mengubah cara kita memahami kekuasaan selamanya.
Siapa Michel Foucault?
Michel Foucault lahir di Poitiers, Prancis, pada 1926. Ia belajar filsafat dan psikologi, dan sejak awal karier akademisnya sudah menunjukkan ketertarikan yang tidak biasa: bukan pada ide-ide besar yang abstrak, tapi pada institusi-institusi konkret yang membentuk kehidupan sehari-hari manusia — rumah sakit jiwa, penjara, klinik, sekolah.
Karya-karyanya — dari Madness and Civilization (1961) hingga Discipline and Punish (1975) dan seri The History of Sexuality — secara konsisten menggali satu pertanyaan: bagaimana pengetahuan dan kekuasaan saling membentuk untuk menghasilkan apa yang kita sebut sebagai "kebenaran" dan "normalitas"?
Foucault meninggal pada 1984 karena komplikasi AIDS — di usia 57, di puncak produktivitas intelektualnya.
Kekuasaan Bukan Milik Satu Orang
Cara paling umum kita memahami kekuasaan adalah sebagai sesuatu yang dimiliki: raja memiliki kekuasaan atas rakyat, bos memiliki kekuasaan atas karyawan, negara memiliki kekuasaan atas warga.
Foucault menolak model ini. Baginya, kekuasaan bukan sesuatu yang dimiliki — ia adalah sesuatu yang beroperasi. Ia tidak mengalir dari atas ke bawah dalam satu arah. Ia ada di mana-mana, dalam setiap hubungan sosial, dalam setiap praktik institusional, dalam setiap cara kita berbicara tentang diri kita dan orang lain.
Kekuasaan tidak hanya bekerja melalui larangan dan paksaan. Ia bekerja melalui produksi — produksi pengetahuan, produksi kategori, produksi "kebenaran" tentang apa yang normal dan apa yang menyimpang.
Siapa yang Memutuskan Apa yang Normal?
Ini adalah kontribusi Foucault yang paling radikal dan paling relevan.
Dalam Madness and Civilization, ia menunjukkan bagaimana "kegilaan" bukan kategori alam yang selalu ada — ia adalah konstruksi historis yang berubah seiring berubahnya institusi yang mendefinisikan dan mengelolanya. Apa yang dianggap gila di satu era dianggap biasa di era lain, dan sebaliknya.
Dalam Discipline and Punish, ia menganalisis bagaimana penjara, sekolah, rumah sakit, dan barak militer menggunakan teknik-teknik yang serupa untuk menghasilkan tubuh dan pikiran yang "patuh" — bukan melalui kekerasan terus-menerus, tapi melalui pengawasan, normalisasi, dan ujian yang membuat setiap individu menginternalisasi standar yang diharapkan.
Konsep paling terkenalnya di sini adalah Panoptikon — rancangan penjara di mana narapidana tidak pernah tahu kapan mereka sedang diawasi, sehingga mereka selalu berperilaku seolah-olah sedang diawasi. Foucault melihat ini sebagai metafora untuk cara kekuasaan modern bekerja: bukan melalui pengawas yang selalu hadir, tapi melalui internalisasi pengawasan ke dalam diri individu itu sendiri.
Foucault dan Kehidupan Kita Sehari-hari
Ide Foucault terdengar abstrak, tapi aplikasinya sangat konkret.
Ketika kamu merasa bersalah karena tubuhmu tidak memenuhi standar kecantikan tertentu — siapa yang menetapkan standar itu, melalui mekanisme apa, dan kepentingan siapa yang dilayaninya?
Ketika seseorang didiagnosis dengan gangguan mental tertentu — kategori itu muncul dari mana, siapa yang memiliki otoritas untuk menetapkannya, dan apa konsekuensi sosial dari label itu?
Ketika kita menyebut seseorang "tidak normal" — normalitas siapa yang sedang kita gunakan sebagai acuan?
Foucault tidak mengajak kita untuk menolak semua kategori dan semua norma. Ia mengajak kita untuk selalu bertanya tentang genealogi mereka — dari mana mereka datang, bagaimana mereka diproduksi, dan siapa yang diuntungkan oleh keberadaannya.
Kritik terhadap Foucault
Foucault bukan tanpa kritik. Beberapa filsuf menilai analisisnya terlalu relativistik — jika semua "kebenaran" adalah produk kekuasaan, bagaimana kita bisa membedakan antara klaim yang valid dan yang tidak?
Feminis seperti Nancy Fraser juga mengkritik bahwa analisis Foucault tentang kekuasaan, meski tajam dalam mendiagnosis, tidak memberikan cukup arah untuk aksi pembebasan. Jika kekuasaan ada di mana-mana dan tidak ada titik Archimedean di luar sistem, dari mana kritik yang bermakna bisa dilakukan?
Ini adalah pertanyaan yang Foucault sendiri tidak pernah sepenuhnya menjawab sebelum kematiannya.
Foucault tidak memberikan kita kenyamanan berupa jawaban yang bersih. Yang ia berikan adalah ketidaknyamanan yang produktif: kesadaran bahwa banyak dari apa yang kita anggap "alami" atau "normal" sebenarnya adalah hasil dari proses sejarah dan kekuasaan yang bisa — dan perlu — dipertanyakan.
Pertanyaannya: standar apa dalam hidupmu yang selama ini kamu terima sebagai "normal" — dan pernahkah kamu bertanya siapa yang pertama kali memutuskan bahwa itulah standarnya?
Penulis: Muhammad Jazuli
