Mengenal Madzhab Frankfurt, Aliran Filsafat yang Menggugat Modernitas

Horkheimer (kiri) dan Adorno (kanan) dalam Kongres Sosiologi di Heidelberg, 1964. / Foto: Jeremy J. Shapiro / Wikimedia Commons

Nalarmerdeka.com – Di tengah gelombang fasisme yang menyapu Eropa pada 1930-an, sekelompok intelektual Jerman memilih jalan yang tidak biasa: bukan mengangkat senjata, melainkan mengasah pikiran. Dari Institut für Sozialforschung di Frankfurt, mereka merumuskan satu pertanyaan besar yang hingga kini belum selesai dijawab — mengapa masyarakat modern, yang katanya sudah maju dan rasional, masih bisa melahirkan penindasan, kebohongan massal, dan kepatuhan buta.

Lahir dari Krisis, Tumbuh dalam Pengasingan

Madzhab Frankfurt bukan organisasi formal dengan anggota resmi dan kartu tanda pengenal. Ia adalah tradisi intelektual yang tumbuh dari Institut für Sozialforschung, lembaga riset sosial yang berdiri di Universitas Frankfurt pada 1923. Di bawah kepemimpinan Max Horkheimer sejak 1930, institut ini mulai mengembangkan pendekatan yang mereka sebut Kritische Theorie — Teori Kritis.

Ketika Nazi berkuasa pada 1933, para pemikir ini terpaksa mengungsi. Mereka berpindah dari Frankfurt ke Jenewa, lalu ke New York, dan akhirnya ke Los Angeles. Justru dalam pengasingan itulah karya-karya terpenting mereka lahir. Horkheimer dan Theodor W. Adorno menyelesaikan Dialektik der Aufklärung (Dialektika Pencerahan) pada 1944 — sebuah buku yang mengguncang fondasi optimisme modernitas.

Rasio yang Berbalik Menjadi Penjara

Tesis utama Horkheimer dan Adorno terasa provokatif: pencerahan (Aufklärung), yang seharusnya membebaskan manusia dari mitos dan takhayul, justru melahirkan bentuk dominasi baru. Rasio instrumental — rasio yang hanya berpikir tentang cara mencapai tujuan tanpa mempertanyakan tujuan itu sendiri — telah mengubah manusia menjadi alat produksi dan konsumsi.

Bagi keduanya, Holocaust bukan anomali peradaban. Ia adalah produk logis dari modernitas yang kehilangan dimensi reflektifnya. Ketika efisiensi menjadi nilai tertinggi, manusia pun bisa diatur, diklasifikasi, dan dimusnahkan dengan cara yang "rasional".

Relevansi tesis ini tidak pudar dimakan waktu. Di Indonesia, kita bisa bertanya: ketika kebijakan pembangunan diukur semata dari angka pertumbuhan ekonomi, siapa yang tidak terhitung? Ketika efisiensi birokrasi menjadi prioritas, keadilan substantif seperti apa yang terkorbankan?

Industri Budaya dan Konsumen yang Tidak Sadar

Adorno, bersama kecintaannya pada musik serius, memperkenalkan konsep Kulturindustrie — industri budaya. Ia mengkritik bagaimana kapitalisme telah mengubah seni dan budaya menjadi komoditas massal yang justru mematikan daya kritis masyarakat.

Hiburan, bagi Adorno, bukan pembebasan dari kerja — ia adalah perpanjangan kerja itu sendiri. Ketika seseorang pulang kelelahan lalu menyalakan televisi atau menggulir layar media sosial, ia tidak sedang beristirahat secara kritis. Ia sedang dikondisikan untuk menerima dunia sebagaimana adanya.

Bayangkan betapa tajamnya kritik ini jika diarahkan ke ekosistem digital hari ini: algoritma yang menyuapi kita konten yang kita sukai, platform yang merancang kecanduan, dan tontonan viral yang mengalihkan perhatian dari persoalan struktural.

Habermas dan Harapan yang Tersisa

Generasi kedua Madzhab Frankfurt diwakili oleh Jürgen Habermas, yang tidak sepenuhnya pesimis seperti para pendahulunya. Habermas percaya bahwa rasio tidak hanya bisa instrumental — ada juga rasio komunikatif, yaitu kemampuan manusia untuk berdialog, berargumen, dan mencapai kesepakatan melalui komunikasi yang bebas dari paksaan.

Konsep ruang publik (Öffentlichkeit) yang ia kembangkan menjadi salah satu sumbangan terpenting bagi teori demokrasi modern. Demokrasi yang sehat, bagi Habermas, bukan sekadar prosedur pemilihan — ia membutuhkan ruang di mana warga bisa berdebat secara setara, rasional, dan bebas.

Pertanyaannya untuk kita: apakah ruang publik Indonesia — dari media massa hingga platform digital — sedang memenuhi fungsi itu, atau justru sedang menjadi arena disinformasi, polarisasi, dan kebisingan?

Teori Kritis dan Tanggung Jawab Intelektual

Madzhab Frankfurt mengajarkan bahwa berpikir kritis bukan kemewahan akademis — ia adalah tanggung jawab etis. Intelektual tidak bisa berdiri di luar masyarakat dan mengamati dari jarak aman. Ia adalah bagian dari sistem yang ia kritik, dan justru karena itulah kritiknya harus terus-menerus diperbarui.

Di sinilah relevansinya bagi diskursus intelektual Indonesia. Di tengah tekanan pragmatisme politik, godaan viral, dan erosi budaya baca, tradisi Teori Kritis mengingatkan kita bahwa pertanyaan yang tidak nyaman justru adalah pertanyaan yang paling perlu diajukan.

Madzhab Frankfurt tidak memberikan jawaban yang mudah, dan memang bukan itu yang mereka tawarkan. Yang mereka wariskan adalah keberanian untuk terus bertanya — tentang kekuasaan, tentang budaya, tentang rasio, dan tentang kita sendiri.

Di era ketika kebenaran semakin mudah diproduksi dan didistribusikan, warisan intelektual ini bukan sekadar sejarah filsafat. Ia adalah cermin yang kita butuhkan untuk melihat wajah zaman dengan lebih jujur.

Penulis: Muhammad Jazuli 

Baca Juga
Tag:
Berita Terbaru
  • Mengenal Madzhab Frankfurt, Aliran Filsafat yang Menggugat Modernitas
  • Mengenal Madzhab Frankfurt, Aliran Filsafat yang Menggugat Modernitas
  • Mengenal Madzhab Frankfurt, Aliran Filsafat yang Menggugat Modernitas
  • Mengenal Madzhab Frankfurt, Aliran Filsafat yang Menggugat Modernitas
  • Mengenal Madzhab Frankfurt, Aliran Filsafat yang Menggugat Modernitas
  • Mengenal Madzhab Frankfurt, Aliran Filsafat yang Menggugat Modernitas
Posting Komentar