Nalarmerdeka.com – Setiap 20 Mei, Indonesia memperingati Hari Kebangkitan Nasional — merujuk pada berdirinya Budi Utomo pada tanggal yang sama di tahun 1908. Peringatan ini telah berlangsung puluhan tahun, terukir dalam kalender nasional, dirayakan dengan upacara dan pidato. Namun di balik perayaan itu, ada pertanyaan sejarah yang tidak kunjung selesai dijawab.
Mengapa Budi Utomo?
Pemilihan Budi Utomo sebagai penanda kebangkitan nasional bukanlah hal yang netral. Keputusan ini diambil secara resmi pada masa Orde Baru — rezim yang sangat cermat dalam mengelola narasi sejarah untuk kepentingan politik.
Budi Utomo didirikan oleh para priyayi Jawa terdidik, sebagian besar lulusan STOVIA, sekolah kedokteran milik pemerintah kolonial Belanda. Organisasi ini pada awalnya bersifat kultural dan terbatas — fokus pada kemajuan Jawa, bukan Indonesia sebagai keseluruhan. Anggotanya eksklusif, tujuannya elitis, dan cakupan geografisnya sempit.
Menjadikannya simbol kebangkitan nasional — yang implikasinya mewakili seluruh rakyat dari Sabang sampai Merauke — adalah sebuah pilihan interpretatif yang perlu dipersoalkan.
Gerakan Lain yang Terpinggirkan
Jika ukurannya adalah representasi rakyat yang lebih luas, ada kandidat lain yang layak dipertimbangkan. Sarekat Islam, yang berdiri pada 1911 dan berkembang menjadi organisasi massa pertama dengan jutaan anggota dari berbagai latar belakang etnis dan kelas sosial, jauh lebih "nasional" dalam cakupan dan komposisinya.
Indische Partij, yang didirikan oleh Douwes Dekker, Cipto Mangunkusumo, dan Suwardi Suryaningrat pada 1912, adalah organisasi pertama yang secara eksplisit menyebut kata kemerdekaan sebagai tujuan — sesuatu yang tidak pernah dilakukan Budi Utomo pada fase awalnya.
Bahkan gerakan-gerakan di luar Jawa — perlawanan Aceh, gerakan petani di Sumatera, komunitas diaspora di berbagai wilayah — memiliki dimensi kebangkitan yang sama sahnya, meski tidak mendapat tempat dalam narasi resmi.
Narasi Resmi dan Kekuasaan
Benedict Anderson dan sejumlah sejarawan kritis mengingatkan bahwa narasi sejarah nasional selalu merupakan produk kekuasaan. Siapa yang dipilih sebagai pahlawan, peristiwa mana yang dijadikan tonggak, dan perspektif siapa yang diabadikan — semua itu mencerminkan kepentingan yang sedang berkuasa ketika narasi itu dibentuk.
Orde Baru memilih Budi Utomo bukan semata karena pertimbangan akademis. Ada logika politik di baliknya: organisasi yang elitis, non-radikal, dan tidak menantang tatanan kolonial secara frontal lebih mudah dijinakkan menjadi simbol yang aman. Berbeda dengan Sarekat Islam yang lebih egaliter dan penuh tensi kelas, atau Indische Partij yang terang-terangan antikolonial.
Merayakan dengan Lebih Jujur
Ini bukan seruan untuk menghapus peringatan 20 Mei. Hari-hari peringatan nasional punya fungsi penting dalam membangun kohesi dan identitas bersama. Tapi merayakannya dengan jujur berarti membuka ruang untuk pertanyaan: kebangkitan siapa yang kita rayakan? Dan suara siapa yang selama ini tidak ikut dirayakan?
Sejarah yang baik bukan sejarah yang nyaman — ia adalah sejarah yang terus dipertanyakan, direvisi, dan diperkaya oleh perspektif yang selama ini absen.
Kebangkitan nasional adalah proses yang panjang, berlapis, dan melibatkan banyak aktor dari berbagai penjuru kepulauan. Mereduksinya pada satu organisasi, satu tanggal, dan satu kelompok sosial adalah cara termudah untuk merayakan sejarah — tapi bukan cara yang paling jujur. Dan kejujuran, pada akhirnya, adalah syarat dari kebangkitan yang sesungguhnya.
Penulis: Muhammad Jazuli
