Nalarmerdeka.com – Pada pertengahan dekade 1960-an, Jakarta belum memiliki satu pun lembaga pendidikan kedokteran yang dikelola oleh institusi Islam. Di tengah gejolak politik pascaperistiwa 1965 dan kekosongan akademik yang melanda komunitas Muslim, empat dosen Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia mulai berbincang-bincang tentang sebuah gagasan yang bagi sebagian orang mungkin terdengar ambisius: mendirikan sekolah kedokteran berbasis Islam. Dari perbincangan itulah lahir salah satu institusi pendidikan Islam paling berpengaruh di ibu kota.
Akar Gagasan dan Para Pelopornya
Ide pendirian sebuah sekolah kedokteran Islam dicetuskan oleh empat dosen Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia: Dr. H. Ali Akbar, Prof. Dr. Asri Rasad, Drs. Med. Maksum Saleh Nasution, dan Prof. Dr. Jurnalis Uddin. Sejak tahun 1965, keempat tokoh ini mulai mendiskusikan kemungkinan untuk mendirikan sebuah lembaga pendidikan kedokteran yang dikelola secara Islami.
Saat itu memang telah ada Fakultas Kedokteran di bawah naungan Universitas Ibnu Khaldun, tempat keempat tokoh ini juga mengajar sebagai dosen luar biasa. Namun lembaga tersebut tidak dikelola secara profesional, hingga akhirnya pada penghujung 1966 seluruh dosen dari UI mengundurkan diri secara bersamaan, meninggalkan kekosongan akademik yang dirasakan oleh para mahasiswanya.
Kondisi itulah yang mendorong keempat pelopor untuk segera mewujudkan niat mereka. Berdasarkan mandat Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1961 tentang Perguruan Tinggi, sebuah badan hukum yayasan diperlukan sebelum mendirikan institusi pendidikan tinggi. Maka pada tanggal 11 April 1967, bertepatan dengan 1 Muharram 1387 Hijriah, lahirlah Yayasan Rumah Sakit Islam Indonesia atau Yayasan YARSI, yang akta pendiriannya dibuat di hadapan Notaris A. Gewang. Selain keempat pendiri utama, tercatat pula nama Drs. Med. Malimar Soeloet, E. Wirjatmo, dan H. Abdul Karim Oey sebagai pendiri yang tercantum dalam akta resmi.
Dari Salemba ke Cempaka Putih
Empat hari setelah berdirinya yayasan, tepatnya pada 15 April 1967, Perguruan Tinggi Kedokteran YARSI resmi didirikan dengan satu program studi kedokteran. Dalam fase awal keberadaannya, lembaga ini belum memiliki gedung sendiri. Perkuliahan dilangsungkan dengan memanfaatkan seluruh sarana dan prasarana Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia di Jalan Salemba Nomor 6 Jakarta, termasuk ruang kuliah, laboratorium, alat perkuliahan, hingga perpustakaan. Dekan FK UI saat itu, Prof. Dr. Jamaluddin, SpB, bersama para dosennya memberikan dukungan penuh yang menjadi fondasi operasional lembaga baru ini.
Tahun 1968 menjadi tonggak penting berikutnya. Yayasan YARSI mulai membangun gedung sendiri di Jalan Letjen Suprapto, Cempaka Putih, Jakarta Pusat. Peletakan batu pertama pembangunan dilakukan oleh Ibu Hj. Tien Soeharto, saat itu selaku Ibu Negara. Pada tahun 1971, kegiatan akademik resmi berpindah ke kampus baru tersebut. Seiring perpindahan, nama lembaga pun berubah menjadi Sekolah Tinggi Kedokteran YARSI pada tahun 1969, menyesuaikan dengan ketentuan undang-undang yang berlaku.
Transformasi Menjadi Universitas
Gagasan untuk mengembangkan Sekolah Tinggi Kedokteran YARSI menjadi universitas sesungguhnya telah mulai dipikirkan sejak tahun 1979. Pengalaman bertahun-tahun mengelola program studi kedokteran yang terbukti mampu tumbuh dengan mantap menjadi modal keyakinan bahwa institusi ini juga sanggup mengurus bidang ilmu lainnya.
Cita-cita tersebut akhirnya terwujud pada tahun akademik 1988 hingga 1989, ketika tiga fakultas baru dibuka sekaligus: Fakultas Ekonomi, Fakultas Hukum, dan Fakultas Teknologi Industri yang kemudian berganti nama menjadi Fakultas Teknologi Informasi. Dengan bergabungnya empat fakultas di bawah satu atap, nama Universitas YARSI resmi diadopsi.
Pertumbuhan tidak berhenti di situ. Pada tahun 2007, Fakultas Psikologi didirikan sebagai fakultas kelima. Lima tahun kemudian, pada 2012, Program Studi Ilmu Kedokteran Gigi pun resmi dibuka. Hingga saat ini Universitas YARSI memiliki enam fakultas dan satu sekolah pascasarjana dengan tiga program magister, yakni Magister Manajemen, Magister Kenotariatan, dan Magister Biomedis.
Kampus, Pencapaian, dan Posisi Kini
Kampus Universitas YARSI kini berdiri di lahan seluas 2,5 hektare di kawasan Cempaka Putih, Jakarta Pusat. Hingga tahun 2009, Yayasan YARSI telah berhasil membangun lima menara dengan ketinggian 14 lantai yang representatif, dilengkapi berbagai fasilitas penunjang akademik. Seluruh program studi telah mendapatkan akreditasi dari BAN-PT dan LAM-PTKes. Secara global, universitas ini berada pada kisaran peringkat 801 hingga 1000 dalam THE Impact Ranking 2024 dari total lebih dari seribu sembilan ratus perguruan tinggi yang dinilai, serta menempati posisi ketiga di lingkungan LLDIKTI Wilayah III Jakarta.
Nama YARSI sendiri, yang semula merupakan singkatan dari Yayasan Rumah Sakit Islam Indonesia, kini telah berevolusi menjadi sebuah identitas tersendiri yang melekat pada institusi pendidikan, kesehatan, dan keislaman di ibu kota.
Dari Kekosongan Menuju Kehadiran
Sejarah Universitas YARSI adalah kisah tentang bagaimana kepedulian terhadap ketertinggalan suatu komunitas bisa berubah menjadi institusi yang bertahan dan berkembang lebih dari setengah abad. Berawal dari empat dosen yang duduk bersama membicarakan sebuah keprihatinan, lembaga ini tumbuh menjadi salah satu universitas Islam terkemuka di Jakarta. Perjalanannya menegaskan bahwa gagasan yang lahir dari kesadaran kolektif, meski dimulai tanpa gedung sekalipun, memiliki kekuatan untuk menempa peradaban.
Penulis: Muhammad Jazuli
