Scroll untuk melanjutkan membaca

Sejarah Kebangkitan Nasional yang Tidak Sesederhana Buku Pelajaran

 

Nalarmerdeka.com – Tahun 1908. Belum ada Indonesia. Belum ada republik. Yang ada hanya Hindia Belanda — wilayah jajahan yang penduduknya dipisahkan oleh bahasa, adat, dan kelas sosial yang ketat. Di tengah kondisi itu, sekelompok mahasiswa muda di Batavia mulai mengajukan pertanyaan yang sederhana tapi subversif: apakah kita, yang berbeda-beda ini, punya sesuatu yang sama? Pertanyaan itu tidak langsung dijawab. Tapi ia tidak pernah berhenti bergema.

STOVIA dan Ruang yang Tidak Direncanakan

Sekolah Dokter Jawa — atau STOVIA (School tot Opleiding van Inlandsche Artsen) — didirikan Belanda untuk mencetak tenaga medis pribumi. Tujuannya pragmatis: Belanda butuh dokter murah untuk menjaga kesehatan pekerja di perkebunan dan tambang.

Tapi yang tidak diperhitungkan Belanda adalah efek samping dari mengumpulkan pemuda-pemuda cerdas dari berbagai daerah dalam satu institusi. Di STOVIA, seorang pemuda Jawa pertama kali berbicara panjang dengan rekan dari Ambon. Pemuda Sunda pertama kali berdebat ide dengan rekan dari Batak. Perbedaan itu memunculkan pertanyaan yang tidak bisa dihindari: apa yang menyatukan kita?

Dari lingkungan itulah Budi Utomo lahir pada 20 Mei 1908 — organisasi modern pertama yang secara eksplisit memikirkan nasib "bumiputera" secara kolektif.

Budi Utomo dan Batas-Batasnya

Budi Utomo sering disebut sebagai titik awal kebangkitan nasional. Tapi penting untuk jujur tentang batas-batasnya. Organisasi ini awalnya sangat Jawa-sentris. Keanggotaannya terbatas pada kalangan priyayi terdidik. Agenda utamanya adalah peningkatan pendidikan — bukan kemerdekaan politik.

Pendirinya, Wahidin Sudirohusodo dan Soetomo, bukan revolusioner. Mereka adalah reformis yang bekerja dalam batas-batas yang diizinkan kolonial. Mimpi mereka soal "kemajuan bumiputera" masih jauh dari mimpi tentang negara merdeka.

Tapi mereka melakukan sesuatu yang penting: mereka mulai berpikir melampaui identitas kedaerahan. Dan itu, di tahun 1908, adalah tindakan yang tidak kecil.

Gelombang Berikutnya yang Lebih Radikal

Budi Utomo membuka pintu. Yang masuk kemudian jauh lebih berani. Sarekat Islam (1912) menjangkau massa yang lebih luas dengan basis pedagang dan petani. Indische Partij (1912) untuk pertama kali secara eksplisit menyebut kemerdekaan sebagai tujuan. PKI (1920) membawa kerangka perjuangan kelas ke dalam wacana pergerakan.

Setiap gelombang ini saling berdebat, kadang bertentangan keras. Tapi mereka semua mewarisi pertanyaan yang sama dari generasi STOVIA: siapa kita, dan ke mana kita pergi?

Tanpa pertanyaan awal itu, Sumpah Pemuda 1928 tidak punya tanah untuk berpijak. Kongres pemuda itu bukan momen yang datang tiba-tiba — ia adalah puncak dari dua dekade pencarian identitas yang keras dan tidak linear.

Relevansi yang Tidak Nyaman

Ada yang menarik dari cara kita mengajarkan sejarah ini. Kita menyebutnya "kebangkitan nasional" seolah ada tidur panjang yang tiba-tiba berakhir. Padahal yang terjadi jauh lebih berantakan: ada percobaan, kegagalan, perdebatan, kompromi, dan keberanian yang tumbuh perlahan.

Generasi STOVIA tidak tahu bahwa yang mereka mulai akan berujung pada sebuah republik. Mereka hanya tahu bahwa pertanyaan yang mereka ajukan terlalu penting untuk diabaikan.

Pertanyaan "siapa kita" yang pertama kali diajukan di ruang-ruang STOVIA belum pernah benar-benar selesai dijawab. Setiap generasi mewarisinya dalam bentuk yang berbeda. Yang perlu kita renungkan: apakah kita masih mengajukan pertanyaan itu dengan sungguh-sungguh — atau kita sudah berhenti bertanya karena merasa jawabannya sudah ada di buku pelajaran?

Baca Juga
Tag:
Berita Terbaru
  • Sejarah Kebangkitan Nasional yang Tidak Sesederhana Buku Pelajaran
  • Sejarah Kebangkitan Nasional yang Tidak Sesederhana Buku Pelajaran
  • Sejarah Kebangkitan Nasional yang Tidak Sesederhana Buku Pelajaran
  • Sejarah Kebangkitan Nasional yang Tidak Sesederhana Buku Pelajaran
  • Sejarah Kebangkitan Nasional yang Tidak Sesederhana Buku Pelajaran
  • Sejarah Kebangkitan Nasional yang Tidak Sesederhana Buku Pelajaran
Posting Komentar
Tutup Iklan