Scroll untuk melanjutkan membaca

Sains vs Agama: Benarkah Keduanya Tidak Bisa Berdampingan?

 

Ilustrasi editorial bergaya Nalar Merdeka menampilkan seorang figur duduk di persimpangan dua jalur yang mengarah ke lanskap berbeda.
Ilustrasi hubungan antara sains dan agama yang tidak selalu berada dalam konflik, melainkan dapat berjalan berdampingan dalam upaya manusia memahami realitas, makna, dan pengetahuan. / Ilustrasi: Muhammad Jazuli 

Nalarmerdeka.com –  "Kamu tidak bisa percaya pada sains sekaligus pada Tuhan." Pernyataan ini — dalam berbagai variasinya — sering muncul dari dua arah yang berlawanan: dari sebagian ateis yang menganggap agama irasional, dan dari sebagian orang beragama yang menganggap sains sebagai ancaman iman. Keduanya sama-sama mewarisi narasi yang oleh sejarawan sains disebut sebagai "the conflict thesis" — gagasan bahwa agama dan sains secara inheren dan selalu bertentangan. Dan keduanya, menurut bukti historis dan filosofis yang ada, sama-sama salah.

Mitos Perang Abadi Sains dan Agama

Narasi konflik abadi antara sains dan agama dipopulerkan terutama oleh dua buku abad ke-19: History of the Conflict Between Religion and Science karya John William Draper (1874) dan A History of the Warfare of Science with Theology karya Andrew Dickson White (1896). Kedua buku ini sangat berpengaruh dalam membentuk persepsi publik — dan keduanya, menurut sejarawan sains kontemporer, sangat tidak akurat.

Sejarawan sains seperti Ronald Numbers dan Lawrence Principe telah mendokumentasikan secara ekstensif bahwa narasi "perang abadi" antara sains dan agama adalah konstruksi abad ke-19 yang tidak mencerminkan hubungan yang jauh lebih kompleks dan beragam sepanjang sejarah.

Ketika Agama Mendorong Sains

Fakta historis yang sering mengejutkan orang: banyak ilmuwan besar dalam sejarah sains Barat bukan hanya orang beragama, tapi motivasi keagamaan mereka secara aktif mendorong penelitian ilmiah mereka.

Gregor Mendel, bapak genetika, adalah biarawan Agustinian. Georges Lemaître, yang pertama kali mengusulkan teori Big Bang, adalah pastor Katolik. Isaac Newton menghabiskan lebih banyak waktu menulis teologi daripada fisika. Galileo sendiri — yang sering dijadikan simbol konflik agama-sains — percaya bahwa sains dan agama bicara tentang hal yang berbeda dan tidak harus bertentangan.

Di dunia Islam, masa kejayaan ilmu pengetahuan Abbasiyah yang pernah kita bahas adalah contoh nyata bagaimana motivasi keagamaan — kewajiban mencari ilmu dalam Islam — bisa menjadi pendorong yang sangat kuat bagi kemajuan sains.

Di Mana Konflik Nyatanya Terjadi

Ini bukan berarti konflik antara sains dan agama tidak pernah ada — tapi konflik yang nyata itu jauh lebih spesifik dan lebih terkontekstualisasi dari narasi "perang abadi."

Kasus Galileo adalah konflik antara teori heliosentris dan interpretasi tertentu dari teks Alkitab yang dipegang oleh otoritas gereja pada waktu tertentu — bukan antara sains dan agama secara keseluruhan. Perdebatan tentang evolusi di beberapa konteks keagamaan adalah konflik antara temuan sains tertentu dan interpretasi literalis dari teks suci tertentu — bukan antara sains dan semua bentuk kepercayaan agama.

Yang menjadi masalah bukan agama per se, tapi klaim otoritas epistemik yang eksklusif — ketika institusi agama mengklaim hak untuk menentukan kebenaran empiris tentang dunia fisik, atau ketika saintis mengklaim bahwa sains bisa menjawab semua pertanyaan termasuk yang tentang makna, nilai, dan tujuan.

Dua Pertanyaan yang Berbeda

Filsuf sains Stephen Jay Gould mengusulkan konsep yang ia sebut Non-Overlapping Magisteria (NOMA) — gagasan bahwa sains dan agama beroperasi dalam domain yang berbeda dan pada dasarnya tidak tumpang tindih.

Sains menjawab pertanyaan tentang bagaimana dan apa — bagaimana alam semesta bekerja, apa yang tersusun dari materi, bagaimana spesies berevolusi. Agama menjawab pertanyaan tentang mengapa dan untuk apa — apa makna keberadaan, bagaimana kita seharusnya hidup, apa yang kita utang kepada satu sama lain.

Konflik terjadi ketika salah satu domain mengklaim otoritas atas pertanyaan yang sebenarnya bukan miliknya. Ketika klaim religius tentang fakta empiris bertentangan dengan bukti sains, atau ketika sains mengklaim bisa menjawab pertanyaan tentang makna dan nilai yang secara fundamental bukan pertanyaan empiris.

Konteks Indonesia yang Spesifik

Di Indonesia, hubungan antara agama dan sains punya dinamika yang spesifik. Survei konsisten menunjukkan bahwa mayoritas masyarakat Indonesia adalah orang beriman yang juga menghargai pendidikan dan kemajuan ilmu pengetahuan — dan sebagian besar tidak merasakan kontradiksi mendasar antara keduanya dalam kehidupan sehari-hari.

Ketegangan yang muncul lebih sering terjadi pada isu-isu spesifik — vaksinasi, evolusi, kesehatan reproduksi — di mana interpretasi keagamaan tertentu berbenturan dengan konsensus ilmiah. Menangani ketegangan-ketegangan spesifik ini membutuhkan pendekatan yang jauh lebih nuansatif dari sekadar "sains vs agama."

Pertanyaan yang lebih berguna dari "apakah agama dan sains bertentangan?" adalah "kapan dan dalam kondisi apa keduanya bisa berjalan berdampingan, dan kapan ketegangan muncul?" Jawaban atas pertanyaan kedua jauh lebih kaya, lebih akurat, dan lebih berguna untuk menavigasi dunia nyata di mana sebagian besar manusia — termasuk banyak ilmuwan terbaik dunia — hidup dengan keduanya sekaligus. Apakah kamu sudah cukup jujur dalam mengajukan pertanyaan yang tepat tentang hubungan ini?

Penulis: Muhammad Jazuli 

Baca Juga
Tag:
Berita Terbaru
  • Sains vs Agama: Benarkah Keduanya Tidak Bisa Berdampingan?
  • Sains vs Agama: Benarkah Keduanya Tidak Bisa Berdampingan?
  • Sains vs Agama: Benarkah Keduanya Tidak Bisa Berdampingan?
  • Sains vs Agama: Benarkah Keduanya Tidak Bisa Berdampingan?
  • Sains vs Agama: Benarkah Keduanya Tidak Bisa Berdampingan?
  • Sains vs Agama: Benarkah Keduanya Tidak Bisa Berdampingan?
Posting Komentar