Scroll untuk melanjutkan membaca

Noam Chomsky: Media Bukan Cermin Realita, Tapi Alat Kuasa

 

Ilustrasi bergaya editorial menampilkan seorang pemikir tua yang menyerupai Noam Chomsky sedang merenung di sisi kiri gambar.
Ilustrasi editorial tentang gagasan Noam Chomsky yang mengkritik peran media sebagai instrumen kekuasaan. / Ilustrasi: Muhammad Jazuli 

Nalarmerdeka.com – Ada pertanyaan yang jarang kita ajukan ketika membaca berita: siapa yang memutuskan ini layak diberitakan? Dan yang sama pentingnya — siapa yang memutuskan apa yang tidak perlu kamu ketahui?

Noam Chomsky menghabiskan puluhan tahun untuk menjawab pertanyaan itu. Dan jawabannya tidak akan membuat kamu nyaman membaca koran dengan cara yang sama.

Siapa Noam Chomsky?

Noam Chomsky lahir di Philadelphia pada 1928. Ia pertama kali dikenal sebagai ahli linguistik — teorinya tentang tata bahasa generatif merevolusi cara ilmuwan memahami bahasa manusia dan menjadikannya salah satu tokoh akademis paling berpengaruh di abad ke-20.

Tapi Chomsky tidak berhenti di linguistik. Sejak era Perang Vietnam, ia menjadi salah satu kritikus paling keras dan paling konsisten terhadap kebijakan luar negeri Amerika Serikat dan terhadap cara media arus utama meliput — atau tidak meliput — konsekuensinya.

Kombinasi kedalaman akademis dan keberanian politiknya menjadikan Chomsky figur yang dikagumi dan dibenci dengan intensitas yang hampir sama.

Manufacturing Consent: Argumen Intinya

Pada 1988, Chomsky bersama ekonom Edward Herman menerbitkan Manufacturing Consent: The Political Economy of the Mass Media. Buku ini mengajukan argumen yang terdengar sederhana tapi implikasinya sangat luas: media massa di negara demokratis tidak bekerja untuk menginformasikan publik — ia bekerja untuk mengelola opini publik sesuai kepentingan elite yang menguasainya.

Chomsky dan Herman mengembangkan apa yang mereka sebut sebagai "propaganda model" — kerangka analisis yang mengidentifikasi lima filter yang menyaring informasi sebelum sampai ke publik.

Filter pertama adalah kepemilikan — media dimiliki oleh korporasi besar yang punya kepentingan bisnis yang tidak ingin diganggu oleh liputan kritis.

Filter kedua adalah iklan — penghasilan utama media bukan dari pembaca, tapi dari pengiklan. Berita yang mengganggu pengiklan punya risiko kehilangan pendapatan.

Filter ketiga adalah sumber — media bergantung pada pemerintah dan korporasi sebagai sumber berita utama, yang menciptakan ketergantungan yang membatasi kritisisme.

Filter keempat adalah flak — tekanan terorganisir dari kelompok berkuasa ketika media dianggap terlalu kritis.

Filter kelima, yang paling relevan di era Chomsky menulis buku itu, adalah antikomunisme sebagai ideologi kontrol — yang kemudian dalam edisi revisi diganti dengan "war on terror" dan ancaman musuh luar sebagai alat untuk menyempitkan ruang debat publik.

Bukan Teori Konspirasi

Penting untuk memahami apa yang Chomsky tidak katakan.

Ia tidak mengklaim ada ruang gelap di mana para editor berkumpul dan memutuskan bersama apa yang boleh diberitakan. Ia tidak percaya pada konspirasi terpusat.

Yang ia tunjukkan adalah sesuatu yang lebih halus dan lebih berbahaya: bahwa filter-filter itu bekerja secara struktural, melalui seleksi karier, internalisasi nilai, dan insentif ekonomi — sehingga jurnalis yang baik pun bisa menjadi instrumen propaganda tanpa pernah merasa seperti itu.

Wartawan yang ingin bertahan di industri belajar — secara sadar atau tidak — batas-batas yang tidak boleh dilampaui. Mereka tidak disensor dari luar. Mereka menyensor diri sendiri, karena sistem sudah mengajarkan mereka apa yang "layak berita" dan apa yang tidak.

Relevansi di Era Media Sosial

Apakah model Chomsky masih relevan ketika siapa pun bisa mempublikasikan informasi?

Argumennya bahkan menjadi lebih kompleks. Media sosial memang mendemokratisasi produksi konten — tapi ia juga menciptakan ekosistem di mana algoritmanya sendiri berfungsi sebagai filter baru: bukan filter kepentingan korporasi media tradisional, tapi filter kepentingan platform teknologi yang model bisnisnya bergantung pada keterlibatan emosional pengguna.

Konten yang memancing kemarahan, ketakutan, dan konflik identitas mendapat distribusi lebih luas. Analisis yang bernuansa dan membutuhkan konteks tenggelam. Hasilnya: lebih banyak suara, tapi tidak berarti lebih banyak kebenaran.

Chomsky tidak mengajarkan kita untuk tidak mempercayai media. Ia mengajarkan kita untuk selalu bertanya: kepentingan siapa yang dilayani oleh apa yang sedang saya baca — dan tidak kalah pentingnya, apa yang tidak saya baca?

Pertanyaannya: berita besar apa yang kamu yakini penting tapi hampir tidak pernah muncul di media yang kamu ikuti — dan kenapa?

Penulis: Muhammad Jazuli 

Baca Juga
Tag:
Berita Terbaru
  • Noam Chomsky: Media Bukan Cermin Realita, Tapi Alat Kuasa
  • Noam Chomsky: Media Bukan Cermin Realita, Tapi Alat Kuasa
  • Noam Chomsky: Media Bukan Cermin Realita, Tapi Alat Kuasa
  • Noam Chomsky: Media Bukan Cermin Realita, Tapi Alat Kuasa
  • Noam Chomsky: Media Bukan Cermin Realita, Tapi Alat Kuasa
  • Noam Chomsky: Media Bukan Cermin Realita, Tapi Alat Kuasa
Posting Komentar