Nalarmerdeka.com – Kamu pernah menangis karena karakter fiksi mati. Tapi tiga detik kemudian, kamu scroll melewati berita tentang bencana yang menewaskan ratusan orang nyata — dan tidak merasakan apa-apa.
Ini bukan tanda bahwa kamu jahat. Ini tanda bahwa empati manusia bekerja dengan cara yang jauh lebih aneh dari yang kita kira.
Empati Butuh Wajah, Bukan Angka
Psikolog Paul Bloom dalam bukunya Against Empathy menyebut fenomena ini sebagai "spotlight empathy" — empati kita bekerja seperti sorotan, bukan lampu ruangan. Ia intens ketika fokus pada satu objek, tapi padam ketika harus menerangi ribuan sekaligus.
Ketika kita membaca tentang 500 korban banjir, otak kita gagal membayangkan 500 wajah. Yang kita proses hanyalah angka abstrak.
Tapi ketika kita mengikuti perjalanan satu karakter selama 12 episode — mengenal ketakutannya, mendengar suaranya, melihat pola pikirnya — otak kita memperlakukannya seperti orang nyata yang kita kenal.
Narasilah yang membangun empati, bukan fakta.
Kenapa Fiksi Justru Lebih Aman untuk Berempati?
Ada alasan psikologis yang lebih dalam. Berempati ke karakter fiksi tidak memiliki konsekuensi sosial.
Ketika kita menangis untuk tokoh anime, tidak ada yang menghakimi kita berlebihan. Tidak ada yang meminta kita untuk melakukan sesuatu. Tidak ada beban tindakan yang mengikutinya.
Tapi ketika kita berempati ke orang nyata — korban bencana, tetangga yang kesulitan, teman yang sedang hancur — ada tekanan implisit untuk berbuat sesuatu. Dan rasa tidak berdaya itu sering kali justru mendorong kita untuk mematikan empati sama sekali.
Ini yang disebut psikolog sebagai "psychic numbing" — mati rasa psikologis sebagai mekanisme perlindungan diri terhadap beban emosional yang terlalu besar.
Media Sosial Memperparah Jurang Ini
Platform digital membuat kita terpapar penderitaan dalam skala yang tidak pernah dirancang untuk diproses otak manusia.
Sebelum internet, kita mungkin tahu tentang satu atau dua tragedi seminggu — lewat koran, lewat cerita tetangga. Sekarang, dalam satu jam scroll, kita bisa menemukan puluhan berita tentang perang, bencana, ketidakadilan, dan krisis dari seluruh penjuru dunia.
Otak kita tidak berevolusi untuk memproses semua itu. Jadi ia melakukan satu-satunya hal yang bisa: mati rasa.
Sementara itu, fiksi hadir dalam dosis yang terkontrol. Serial TV punya episode. Novel punya bab. Kita bisa berhenti kapan saja. Kita punya kendali atas paparan emosional kita — dan itu membuat empati jauh lebih mudah dirasakan.
Ini Bukan Pembelaan untuk Diam
Memahami mekanisme ini bukan berarti kita boleh nyaman dengan ketidakpedulian kita terhadap orang nyata.
Yang lebih penting adalah menyadari bahwa cara kita mengonsumsi informasi tentang penderitaan nyata perlu diubah. Bukan dipadatkan menjadi statistik, tapi disajikan melalui narasi — satu wajah, satu kisah, satu nama.
Jurnalisme naratif, dokumenter personal, dan kesaksian langsung bekerja justru karena mereka melakukan apa yang fiksi lakukan: membuat penderitaan terasa nyata dan spesifik, bukan abstrak dan massal.
Kita tidak perlu menjadi lebih dingin terhadap karakter fiksi. Kita perlu belajar membawa kehangatan yang sama ke arah yang lebih sulit: orang-orang nyata di sekitar kita yang tidak punya penulis untuk membuat kisah mereka menarik.
Pertanyaannya: siapa orang nyata terakhir yang kamu dengarkan kisahnya — benar-benar didengarkan — tanpa buru-buru scroll ke yang lain?
Penulis: Muhammad Jazuli
