![]() |
| Ilustrasi tentang feminisme sebagai gerakan yang memperjuangkan kesetaraan hak, kesempatan, dan martabat bagi semua orang, tanpa memandang jenis kelamin. / Ilustrasi: Muhammad Jazuli |
Nalarmerdeka.com – Sebutkan kata "feminisme" di ruang publik Indonesia dan reaksinya hampir bisa diprediksi: sebagian angguk setuju, sebagian langsung defensif, sebagian lagi mengaitkannya dengan agenda Barat atau ancaman terhadap nilai-nilai keluarga. Di balik semua reaksi itu tersimpan satu kesalahpahaman yang sangat persisten dan sangat merusak: bahwa feminisme adalah gerakan yang memusuhi laki-laki. Ini bukan hanya salah secara faktual — ini adalah distorsi yang sengaja dipelihara oleh mereka yang paling diuntungkan dari ketidaksetaraan yang ada.
Apa yang Feminisme Sebenarnya Katakan
Definisi paling sederhana dan paling akurat dari feminisme adalah ini: keyakinan bahwa perempuan dan laki-laki harus memiliki hak, kesempatan, dan perlakuan yang setara dalam semua aspek kehidupan sosial, ekonomi, dan politik.
Tidak ada dalam definisi ini yang memusuhi laki-laki. Tidak ada yang mengatakan perempuan lebih baik dari laki-laki. Tidak ada yang menuntut perempuan mendominasi atau laki-laki disubordinasi. Yang ada hanyalah argumen bahwa sistem yang sekarang ada — yang secara sistematis memberikan keuntungan kepada laki-laki dalam banyak konteks — tidak adil dan perlu diubah.
Memusuhi sistem ketidakadilan bukan berarti memusuhi semua orang yang kebetulan diuntungkan oleh sistem itu.
Dari Mana Mitos "Anti-Laki-Laki" Berasal?
Narasi bahwa feminisme adalah gerakan yang membenci laki-laki tidak muncul dari vakum. Ia diproduksi dan disebarkan secara aktif — sebagian oleh media yang menemukan konflik lebih menarik dari koalisi, sebagian oleh gerakan counter-feminist yang punya kepentingan dalam mempertahankan status quo, dan sebagian oleh segelintir suara ekstrem dalam gerakan feminis sendiri yang kemudian dijadikan representasi seluruh gerakan.
Ini adalah taktik retorika yang sangat lama dan sangat efektif: ambil posisi paling ekstrem dari satu kelompok, presentasikan sebagai posisi semua kelompok, lalu gunakan itu untuk mendiskreditkan seluruh gerakan. Taktik yang sama digunakan untuk mendiskreditkan gerakan hak sipil, gerakan buruh, dan hampir setiap gerakan sosial yang pernah ada.
Patriarki Menyakiti Laki-Laki Juga
Ini adalah argumen yang jarang cukup dibahas: sistem patriarki — yang menjadi target utama kritik feminis — tidak hanya merugikan perempuan. Ia juga menciptakan tuntutan dan ekspektasi yang sangat merusak bagi laki-laki.
Ekspektasi bahwa laki-laki tidak boleh menangis atau menunjukkan kerentanan emosional berkontribusi pada krisis kesehatan mental laki-laki yang sangat nyata — tingkat bunuh diri laki-laki secara konsisten lebih tinggi dari perempuan di hampir semua negara. Ekspektasi bahwa laki-laki harus menjadi pencari nafkah utama menciptakan tekanan ekonomi yang intens. Stigma terhadap laki-laki yang menjadi korban kekerasan membuat mereka sangat jarang melaporkan atau mencari bantuan.
Feminisme yang konsisten — yang mengkritik sistem gender yang kaku secara keseluruhan, bukan hanya dampaknya pada perempuan — justru adalah gerakan yang paling mungkin membebaskan laki-laki dari tuntutan-tuntutan yang merugikan ini juga.
Mengapa Perlawanan terhadap Feminisme Sangat Kuat
Jika feminisme pada dasarnya hanyalah argumen untuk kesetaraan yang wajar, mengapa ia menghadapi resistensi yang begitu kuat? Jawabannya bukan karena argumennya salah — tapi karena kesetaraan yang sungguh-sungguh membutuhkan redistribusi kekuasaan, sumber daya, dan privilege yang selama ini tidak merata.
Orang yang sudah terbiasa dengan privilege tertentu sering mengalami upaya menuju kesetaraan sebagai kerugian — karena dari perspektif mereka, standar yang lebih setara memang terasa seperti penurunan dari apa yang dulu mereka miliki. Ini bukan berarti mereka jahat — ini adalah respons psikologis yang sangat manusiawi terhadap perubahan dalam distribusi kekuasaan.
Feminisme di Konteks Indonesia
Di Indonesia, diskusi tentang feminisme perlu mempertimbangkan konteks yang spesifik. Ada warisan tradisi yang kompleks — dari perempuan-perempuan pejuang dalam sejarah Indonesia hingga sistem adat yang dalam beberapa hal lebih egaliter dari yang sering diasumsikan. Ada juga tekanan dari berbagai arah — konservatisme agama yang menafsirkan kesetaraan gender sebagai ancaman, kapitalisme yang mengeksploitasi perempuan sambil mengklaim memberdayakan mereka, dan negara yang sering menggunakan perempuan sebagai simbol tanpa benar-benar melindungi hak-hak mereka.
Feminisme di Indonesia tidak perlu mengimpor semua perdebatan dari konteks Barat secara mentah-mentah — tapi prinsip dasarnya tentang kesetaraan, martabat, dan hak tetap relevan dan tetap dibutuhkan.
Feminisme bukan tentang memenangkan pertarungan antara perempuan dan laki-laki. Ia tentang membangun dunia di mana jenis kelaminmu tidak menentukan batas kemungkinan hidupmu. Itu bukan ancaman bagi laki-laki yang baik — itu adalah visi yang seharusnya bisa mereka dukung. Pertanyaannya: apa yang membuatmu ragu untuk mendukungnya?
Penulis: Muhammad Jazuli
