Scroll untuk melanjutkan membaca

Freire dan Pedagogi Kaum Tertindas: Sistem Pendidikan Kita Mencetak Budak?

 

Ilustrasi dari gagasan Paulo Freire dalam Pedagogi Kaum Tertindas yang mengkritik sistem pendidikan yang hanya mencetak kepatuhan, bukan kesadaran kritis. Ketika sekolah lebih menyerupai pabrik, pendidikan berisiko melahirkan manusia yang tunduk, bukan manusia yang merdeka. / Ilustrasi: Muhammad Jazuli 

Nalarmerdeka.com – Bayangkan kamu duduk di kelas. Guru berbicara. Kamu mencatat. Ujian datang. Kamu mengulang apa yang dicatat. Kamu lulus. Tapi apakah kamu belajar?

Paulo Freire punya jawaban yang tidak nyaman: tidak. Yang kamu jalani bukan pendidikan — itu adalah proses pengisian. Dan kamu adalah celengannya.

Siapa Paulo Freire?

Paulo Freire adalah pendidik dan filsuf Brasil yang lahir pada 1921. Ia bukan akademisi yang menghabiskan hidupnya di menara gading — ia bekerja langsung dengan petani buta huruf di Brasil, mengembangkan metode literasi yang tidak sekadar mengajarkan membaca, tapi mengajarkan cara membaca dunia.

Pengalamannya itu menjadi fondasi Pedagogy of the Oppressed (Pedagogi Kaum Tertindas), yang pertama kali terbit dalam bahasa Portugis pada 1968. Buku ini kemudian diterjemahkan ke puluhan bahasa dan menjadi salah satu teks pendidikan paling berpengaruh — sekaligus paling dilarang — di abad ke-20.

Di Brasil sendiri, buku ini pernah dilarang oleh rezim militer. Freire diasingkan selama 16 tahun. Teks yang dianggap berbahaya oleh penguasa biasanya adalah teks yang paling layak dibaca.

Banking Concept of Education

Konsep paling terkenal dari buku ini adalah apa yang Freire sebut sebagai banking concept of education — konsep pendidikan model bank.

Dalam model ini, murid adalah rekening kosong. Guru adalah nasabah yang melakukan setoran. Pengetahuan adalah uang yang dimasukkan. Tujuan pendidikan adalah mengisi rekening itu sebanyak-banyaknya — bukan mengembangkan kemampuan murid untuk berpikir, mempertanyakan, atau mengubah dunia di sekitar mereka.

Model ini, kata Freire, bukan netral. Ia adalah alat ideologis. Dengan mengajarkan murid untuk menerima, bukan mempertanyakan, sistem pendidikan secara aktif mereproduksi ketidakberdayaan — terutama pada kelas yang sudah tidak berdaya.

Anak petani miskin diajarkan untuk menerima fakta tentang dunia yang dirancang oleh dan untuk kepentingan kelas yang lebih berkuasa. Mereka tidak diajarkan untuk bertanya: mengapa dunia ini dirancang seperti ini? Siapa yang diuntungkan? Bisa seperti apa alternatifnya?

Pendidikan sebagai Tindakan Kultural

Freire mengajukan konsep tandingan: problem-posing education — pendidikan berbasis pengajuan masalah.

Dalam model ini, hubungan guru-murid bersifat dialogis. Guru bukan satu-satunya sumber pengetahuan — ia adalah mitra berpikir. Murid bukan penerima pasif — ia adalah subjek yang aktif mengkonstruksi pemahaman melalui pengalaman dan refleksi.

Yang paling radikal dari gagasan Freire adalah klaimnya bahwa pendidikan sejati selalu bersifat politik. Tidak ada pendidikan yang netral — ia selalu mereproduksi atau menantang struktur kekuasaan yang ada. Memilih untuk tidak bersikap adalah juga sebuah sikap: sikap yang memihak status quo.

Relevansi untuk Pendidikan Indonesia

Membaca Freire sambil mengingat sistem pendidikan Indonesia adalah pengalaman yang tidak nyaman — karena hampir setiap kritiknya terasa seperti deskripsi langsung.

Kurikulum yang padat hapalan. Ujian nasional yang mengukur kemampuan mengulang, bukan kemampuan berpikir. Guru yang diposisikan sebagai otoritas tunggal yang tidak boleh dibantah. Murid yang dihukum karena mengajukan pertanyaan yang "terlalu jauh."

Perubahan kurikulum yang berulang — dari KBK, KTSP, K13, hingga Kurikulum Merdeka — menunjukkan bahwa ada kesadaran bahwa ada yang salah. Tapi selama logika dasarnya tidak berubah — selama pendidikan masih dipahami sebagai transfer informasi, bukan pengembangan kesadaran kritis — pergantian nama kurikulum hanya akan menghasilkan variasi dari masalah yang sama.

Kritik terhadap Freire

Freire bukan tanpa kritik. Beberapa pendidik menilai pendekatannya terlalu idealis dan sulit dioperasionalkan dalam sistem pendidikan massal. Ada juga kritik bahwa ia terlalu berfokus pada dimensi kelas ekonomi dan kurang memperhatikan dimensi gender dan ras dalam sistem penindasan.

Tapi kritik terbesar justru yang paling sederhana: apakah dialog benar-benar mungkin dalam sistem yang pada dasarnya hierarkis? Apakah guru dan murid bisa benar-benar setara ketika ada nilai, kelulusan, dan otoritas institusional yang memisahkan mereka?

Freire tidak menjawab pertanyaan ini dengan sempurna. Tapi ia memaksa kita untuk terus mengajukannya.

Freire tidak menulis buku tentang cara mengajar yang lebih efisien. Ia menulis tentang mengapa pendidikan yang ada dirancang untuk membuat orang diam — dan bagaimana mengubahnya menjadi alat untuk berbicara.

Pertanyaannya: dari semua hal yang kamu "pelajari" di sekolah, mana yang benar-benar mengubah cara kamu melihat dunia — dan mana yang sekadar kamu hafal lalu lupakan setelah ujian?

Penulis: Muhammad Jazuli 

Baca Juga
Tag:
Berita Terbaru
  • Freire dan Pedagogi Kaum Tertindas: Sistem Pendidikan Kita Mencetak Budak?
  • Freire dan Pedagogi Kaum Tertindas: Sistem Pendidikan Kita Mencetak Budak?
  • Freire dan Pedagogi Kaum Tertindas: Sistem Pendidikan Kita Mencetak Budak?
  • Freire dan Pedagogi Kaum Tertindas: Sistem Pendidikan Kita Mencetak Budak?
  • Freire dan Pedagogi Kaum Tertindas: Sistem Pendidikan Kita Mencetak Budak?
  • Freire dan Pedagogi Kaum Tertindas: Sistem Pendidikan Kita Mencetak Budak?
Posting Komentar