![]() |
| Ulfia Khusna, Sekretaris Menteri Luar Negeri DEMA UQM |
Nalarmerdeka.com – Setiap tahun, peringatan Hari Pancasila hadir bersama upacara, pidato, dan rangkaian seremonial yang sudah familiar. Tapi ada yang lebih dalam dari semua itu — sesuatu yang sering terlewat di balik kemeriahan acara. Pancasila bukan teks hafalan. Ia adalah pedoman hidup yang seharusnya membentuk cara berpikir, bersikap, dan bertindak kita — terutama generasi muda yang hari ini memikul harapan masa depan Indonesia.
Sudahkah Pancasila Hadir di Kehidupan Kita?
Bagi mahasiswa, momen peringatan ini seharusnya menjadi waktu untuk bercermin. Tidak cukup bangga menyebut diri anak bangsa tanpa bertanya lebih jauh: sejauh mana nilai-nilai Pancasila benar-benar hidup dalam keseharian kampus, organisasi, dan interaksi sosial kita?
Apakah ketuhanan sudah menjadi landasan moral? Apakah kemanusiaan sudah menjadi sikap? Apakah persatuan sudah menjadi kekuatan, musyawarah sudah menjadi budaya, dan keadilan sudah menjadi tujuan bersama? Pertanyaan-pertanyaan ini penting — agar Pancasila tidak berhenti sebagai slogan, tapi benar-benar hidup dalam tindakan nyata.
Zaman Berubah, Tantangan Makin Nyata
Di tengah arus perubahan yang begitu cepat, ancaman terhadap nilai-nilai Pancasila semakin terasa. Informasi yang deras kerap membawa polarisasi, sikap individualistis, dan merosotnya empati sosial. Ruang digital yang seharusnya memperluas wawasan, justru kadang menjadi tempat lahirnya ujaran kebencian, perpecahan, dan saling merendahkan.
Dalam kondisi seperti inilah Pancasila justru semakin relevan. Ia hadir sebagai kompas moral yang menuntun kita agar tetap berpijak pada nilai kemanusiaan, toleransi, kebersamaan, dan tanggung jawab sosial — di tengah dunia yang terus bergerak dan sering memecah belah.
Kampus Adalah Ruang Pengamalan, Bukan Sekadar Belajar
Sebagai mahasiswa, kita punya peran strategis dalam menjaga dan menghidupkan nilai-nilai itu. Kampus bukan hanya tempat menimba ilmu — ia adalah ruang pembentukan karakter. Di dalamnya, mahasiswa belajar berpikir kritis, berdiskusi, bekerja sama, dan menghargai perbedaan. Semua itu adalah praktik Pancasila yang sesungguhnya.
Ketika mahasiswa mampu bermusyawarah dalam menghadapi perbedaan pendapat, ketika organisasi mahasiswa mendahulukan kepentingan bersama di atas kepentingan pribadi, ketika gerakan mahasiswa hadir untuk memperjuangkan keadilan sosial — di situlah Pancasila benar-benar menemukan wajahnya.
Peringatan ini juga mengingatkan kita bahwa persatuan tidak lahir dari keseragaman, melainkan dari kesediaan untuk saling menghormati dalam keberagaman. Indonesia dibangun di atas banyak perbedaan: suku, bahasa, agama, budaya, dan pandangan. Perbedaan itu bukan untuk memecah belah, melainkan untuk memperkaya kehidupan berbangsa. Karena itu, mahasiswa sebagai agen perubahan harus menjadi teladan dalam merawat toleransi dan menolak fanatisme sempit yang merusak persaudaraan.
Keadilan Sosial Menuntut Mahasiswa yang Tidak Apatis
Nilai keadilan sosial dalam Pancasila mengingatkan kita bahwa kemerdekaan bukan milik segelintir orang — ia adalah hak seluruh rakyat. Mahasiswa tidak boleh menutup mata terhadap ketimpangan, kemiskinan, ketidakadilan, dan rendahnya akses pendidikan yang masih nyata di sekitar kita.
Justru dari ruang akademik, suara-suara kritis dan solutif harus lahir — untuk mendorong perubahan yang berpihak pada masyarakat. Pancasila menuntut kita tidak hanya cerdas secara intelektual, tapi juga peka secara sosial dan tangguh secara moral.
Di lingkungan DEMA Universitas Al Qolam, semangat ini bisa diwujudkan dalam langkah-langkah konkret: menjaga komunikasi yang baik antaranggota, mengutamakan musyawarah dalam setiap keputusan, menjalankan program kerja yang benar-benar bermanfaat bagi mahasiswa, serta membangun budaya organisasi yang inklusif dan beretika. Dengan begitu, DEMA bukan sekadar wadah aspirasi — tapi juga ruang pembinaan karakter kebangsaan.
Memperingati Pancasila bukan sekadar mengenang sejarah. Ini adalah momen untuk meneguhkan komitmen meneruskan cita-cita bangsa. Generasi muda tidak boleh hanya menjadi penonton — kita harus menjadi pelaku utama dalam merawat persatuan, memperjuangkan keadilan, dan menghadirkan kemanusiaan dalam kehidupan sehari-hari. Lantas, sudahkah kita benar-benar menjadikan Pancasila sebagai napas keseharian — bukan hanya warisan masa lalu yang diperingati setahun sekali?
Penulis: Ulfia Khusna (Sekretaris Menteri Luar Negeri DEMA UQM)
Redaktur: Muhammad Jazuli
