Nalarmerdeka.com – Ada narasi yang kita terima sejak kecil: kalau kamu bekerja keras, kamu akan berhasil. Kalau kamu gagal, berarti kamu kurang usaha. Narasi ini terasa adil. Terasa logis. Dan hampir sepenuhnya salah.
Meritokrasi — sistem di mana keberhasilan ditentukan oleh kemampuan dan kerja keras — adalah salah satu mitos paling berbahaya yang pernah diproduksi masyarakat modern.
Dari Mana Konsep Ini Datang?
Ironisnya, kata "meritokrasi" pertama kali diciptakan bukan sebagai pujian — melainkan sebagai satire.
Sosiolog Inggris Michael Young menciptakan istilah ini dalam novelnya The Rise of the Meritocracy (1958) sebagai peringatan: masyarakat yang percaya bahwa posisi sosial sepenuhnya mencerminkan kemampuan akan menjadi masyarakat yang sangat kejam terhadap mereka yang "gagal." Karena dalam sistem itu, kegagalan adalah bukti ketidakmampuan — bukan bukti ketidakadilan struktural.
Tapi yang terjadi kemudian adalah kebalikannya: konsep yang dimaksud sebagai kritik diadopsi sebagai cita-cita.
Apa yang Meritokrasi Sembunyikan?
Masalah terbesar meritokrasi bukan bahwa ia salah sepenuhnya — kerja keras dan kemampuan memang berperan. Masalahnya adalah ia menyembunyikan betapa unevennya titik awal setiap orang.
Dua orang dengan kemampuan dan kerja keras yang sama akan mendapat hasil yang sangat berbeda tergantung pada: keluarga tempat mereka lahir, kode pos rumah mereka, sekolah yang bisa mereka akses, jaringan sosial yang mereka warisi, dan ratusan variabel lain yang tidak ada hubungannya dengan kemampuan individual.
Ekonom Raj Chetty dan timnya di Harvard meneliti mobilitas sosial di Amerika dan menemukan bahwa kode pos tempat seseorang lahir adalah prediktor keberhasilan ekonomi yang lebih kuat daripada nilai akademiknya.
Di Indonesia, gambarannya tidak jauh berbeda. Anak dari keluarga dengan akses modal sosial dan ekonomi yang lebih baik punya peluang yang secara struktural tidak sebanding — bukan karena mereka lebih berbakat, tapi karena sistemnya memang tidak rata.
Kenapa Kita Tetap Mempercayainya?
Ada alasan psikologis yang kuat mengapa meritokrasi tetap menarik meski bukti empirisnya lemah.
Pertama, ia memberikan penjelasan yang menyenangkan tentang kesuksesan diri sendiri. Jauh lebih nyaman percaya bahwa kamu berhasil karena kamu memang layak, bukan karena kamu kebetulan lahir di situasi yang menguntungkan.
Kedua, ia membebaskan kita dari tanggung jawab terhadap kegagalan orang lain. Kalau sistem itu adil dan mereka gagal, itu masalah mereka — bukan masalah kita, bukan masalah sistem.
Psikolog sosial menyebut ini sebagai "just world hypothesis" — kecenderungan otak untuk percaya bahwa dunia pada dasarnya adil, karena alternatifnya terlalu menggelisahkan untuk diterima.
Bukan Berarti Kerja Keras Tidak Penting
Mengkritik meritokrasi bukan berarti kerja keras tidak relevan. Ia tetap relevan — tapi ia bukan satu-satunya variabel, dan bukan variabel yang paling menentukan bagi sebagian besar orang.
Yang perlu diubah adalah cara kita menafsirkan keberhasilan dan kegagalan. Keberhasilan bukan hanya bukti kemampuan — ia juga bukti konteks. Dan kegagalan bukan selalu bukti kelemahan — ia sering kali bukti bahwa sistemnya memang tidak dirancang untuk semua orang menang.
Selama kita percaya bahwa sistem sudah adil, kita tidak akan pernah serius mempertanyakan mengapa hasilnya begitu tidak merata. Dan itulah tepatnya mengapa narasi meritokrasi begitu nyaman bagi mereka yang sudah berada di atas.
Pertanyaannya: keberhasilan apa dalam hidupmu yang sebenarnya lebih banyak ditentukan oleh konteks daripada kemampuanmu sendiri?
Penulis: Muhammad Jazuli
