Nalarmerdeka.com – Tidak ada peluru yang ditembakkan langsung antara dua kubu besarnya. Tapi Perang Dingin membunuh jutaan orang — di Korea, Vietnam, Angola, dan di banyak tempat yang tidak masuk halaman depan koran Barat. Termasuk, dengan caranya sendiri, di Indonesia.
Perang Dingin bukan metafora. Ia adalah kondisi dunia yang memaksa setiap bangsa untuk memilih: berdiri di sisi mana?
Dunia yang Terbelah Setelah 1945
Ketika Perang Dunia II berakhir, dua kekuatan besar tersisa di atas puing-puing peradaban: Amerika Serikat dengan kapitalisme liberal, dan Uni Soviet dengan komunisme. Keduanya keluar dari perang sebagai pemenang, tapi dengan visi dunia yang sepenuhnya bertentangan.
Yang terjadi kemudian bukan perang langsung — kedua pihak terlalu takut dengan konsekuensi senjata nuklir. Yang terjadi adalah perang proksi: mendanai, melatih, dan menggerakkan pihak-pihak lain untuk bertempur atas nama ideologi masing-masing.
Dunia Ketiga — termasuk negara-negara yang baru merdeka di Asia dan Afrika — menjadi papan catur raksasa bagi kedua kekuatan ini.
Indonesia di Persimpangan
Indonesia merdeka pada 1945, tepat ketika Perang Dingin mulai terbentuk. Ini bukan kebetulan yang menyenangkan.
Di satu sisi, Amerika Serikat melihat Indonesia sebagai negara dengan sumber daya strategis yang tidak boleh jatuh ke tangan komunis. Di sisi lain, Uni Soviet dan Tiongkok melihat PKI — yang pada awal 1960-an menjadi partai komunis terbesar ketiga di dunia di luar blok Soviet — sebagai aset berharga.
Soekarno mencoba bermain di antara dua kutub ini. Doktrin politik luar negeri "bebas aktif" adalah upaya untuk tidak masuk ke dalam perangkap pilihan biner yang dipaksakan oleh struktur Perang Dingin. Bersama Nehru, Nasser, dan Tito, ia menggagas Gerakan Non-Blok sebagai alternatif ketiga.
Tapi dunia bipolar tidak ramah pada alternatif.
Ketika Perang Dingin Masuk ke Dalam Negeri
Yang sering luput dari narasi Perang Dingin versi populer adalah betapa dalamnya ia merasuk ke dalam politik domestik Indonesia.
Ketegangan antara faksi militer pro-Barat, kelompok nasionalis, dan PKI yang didukung basis massa petani bukan hanya perdebatan ideologis — ia adalah manifestasi langsung dari tekanan geopolitik global yang dimainkan di atas tanah Indonesia.
Peristiwa 1965 tidak bisa dipahami sepenuhnya tanpa konteks ini. CIA telah lama terlibat dalam upaya melemahkan pengaruh komunis di Indonesia. Dokumen-dokumen yang deklasifikasi kemudian menunjukkan keterlibatan Amerika dalam mendukung militer Indonesia pasca-kudeta.
Indonesia bukan sekadar korban pasif Perang Dingin — ia adalah salah satu medan pertempurannya yang paling berdarah.
Warisan yang Tidak Pernah Benar-Benar Selesai
Perang Dingin secara resmi berakhir pada 1991 dengan runtuhnya Uni Soviet. Tapi warisannya di Indonesia masih terasa.
Stigma anti-komunisme yang ditanamkan selama Orde Baru — sebagian besar sebagai produk dari logika Perang Dingin — masih hidup dalam bentuk peraturan, narasi publik, dan reflek politik yang muncul setiap kali kata "kiri" disebut dalam diskusi kebijakan.
Kita mewarisi Perang Dingin bukan sebagai sejarah yang sudah selesai, tapi sebagai struktur berpikir yang belum sepenuhnya kita audit.
Apakah kita benar-benar sudah merdeka dari logika Perang Dingin — atau kita masih berpikir dalam kategori musuh dan kawan yang diwariskannya?
Penulis: Muhammad Jazuli
