Scroll untuk melanjutkan membaca

Krisis Literasi Gen Z: Masalah Minat atau Sistem?

Ilustrasi bergaya editorial menampilkan seorang anak muda duduk di tengah timbangan. Sisi kiri memperlihatkan lingkungan penuh gawai, mesin, dan tekanan sistem, sementara sisi kanan menampilkan suasana tenang dengan buku, tanaman, dan burung
Ilustrasi editorial yang merepresentasikan tantangan budaya literasi di kalangan generasi muda dalam menghadapi pengaruh sistem pendidikan, teknologi, dan lingkungan sosial. / Ilustrasi: Muhammad Jazuli 

Nalarmerdeka.com – Indonesia menempati peringkat kedua dari bawah dalam survei literasi PISA 2022 untuk kemampuan memahami teks. Tapi coba amati mahasiswa di mana saja — mereka membaca sepanjang hari: thread Twitter, caption Instagram, artikel pendek, subtitle video. Jadi masalahnya bukan mereka tidak bisa membaca. Masalahnya adalah buku, sebagai format, makin kalah bersaing. Dan kita perlu jujur tentang kenapa itu bisa terjadi.

Membaca Bukan Hilang, Tapi Bermigrasi

Gen Z adalah generasi yang paling banyak mengonsumsi teks dalam sejarah manusia — hanya saja teksnya pendek, tersebar, dan datang dalam arus yang tidak pernah berhenti. Ini bukan tanda kebodohan, ini adalah adaptasi terhadap lingkungan informasi yang memang dirancang untuk menarik perhatian secepat mungkin dan menggantinya dengan konten berikutnya.

Masalah muncul ketika kampus tetap menuntut kemampuan membaca panjang — laporan penelitian, jurnal ilmiah, buku teks ratusan halaman — sementara tidak ada ekosistem yang membantu mahasiswa membangun kembali kemampuan konsentrasi yang sudah terkikis sejak SMA. Yang terjadi adalah mahasiswa baca abstrak, skip ke kesimpulan, atau lebih buruk: mengandalkan ringkasan orang lain di YouTube.

Buku Mahal, Perpustakaan Tidak Membantu

Ada masalah struktural yang sering diabaikan dalam diskusi soal minat baca: akses. Buku teks di Indonesia harganya tidak murah — satu judul edisi terbaru bisa setara dengan beberapa kali makan. Perpustakaan kampus sering kali koleksinya tidak diperbarui, sistemnya tidak ramah pengguna, dan jam operasionalnya tidak sesuai dengan ritme belajar mahasiswa yang aktif malam hari.

Kalau membaca buku memerlukan pengeluaran ekstra dan lokasi yang tidak nyaman, maka wajar jika mahasiswa memilih alternatif yang lebih mudah diakses — meskipun kualitas informasinya jauh lebih rendah. Ini bukan soal karakter generasi, ini soal desain sistem yang memang tidak mendukung.

Kurikulum yang Mematikan Rasa Ingin Tahu

Banyak mahasiswa yang masuk kampus dengan rasa ingin tahu yang masih hidup, lalu keluar dengan rasa ingin tahu yang sudah mati dieksekusi oleh tugas-tugas mekanis. Membaca diperlakukan sebagai kewajiban bukan sebagai aktivitas yang memperluas dunia. Ketika baca buku identik dengan "disuruh dosen" atau "bahan ujian", otak secara otomatis mengkategorikan membaca sebagai beban, bukan kesenangan.

Bandingkan dengan pengalaman membaca yang dipilih sendiri: novel, esai, buku populer tentang topik yang benar-benar diminati. Mahasiswa yang tidak mau menyentuh buku teks tebal bisa menghabiskan buku 300 halaman tentang topik yang mereka cintai dalam seminggu. Ini membuktikan masalahnya bukan kapasitas — tapi motivasi, dan motivasi itu sangat dipengaruhi oleh konteks.

Membangun Kembali Ekosistem Baca

Solusinya tidak sesederhana "rajin baca". Perlu ada perubahan di beberapa lapis sekaligus: perpustakaan yang lebih terbuka dan koleksinya relevan, dosen yang merekomendasikan bacaan dengan antusias bukan sekadar mencantumkannya di silabus, komunitas baca yang membuat aktivitas ini terasa sosial bukan soliter, dan — yang paling penting — sistem yang tidak menghukum mahasiswa karena memilih membaca sesuatu di luar kurikulum.

Literasi bukan hanya kemampuan teknis membaca huruf. Ia adalah kemampuan berpikir kritis, membangun argumen, dan memahami dunia melalui perspektif yang lebih luas dari sekadar pengalaman pribadi. Dan itu tidak bisa dibangun dari thread pendek — betapapun bagusnya.

Kalau kita ingin generasi yang bisa berpikir panjang dan dalam, mungkin pertanyaan yang lebih tepat bukan "kenapa Gen Z tidak mau baca buku?" — tapi "ekosistem seperti apa yang sudah kita bangun untuk membuat mereka mau?"

Penulis: Muhammad Jazuli 

Baca Juga
Tag:
Berita Terbaru
  • Krisis Literasi Gen Z: Masalah Minat atau Sistem?
  • Krisis Literasi Gen Z: Masalah Minat atau Sistem?
  • Krisis Literasi Gen Z: Masalah Minat atau Sistem?
  • Krisis Literasi Gen Z: Masalah Minat atau Sistem?
  • Krisis Literasi Gen Z: Masalah Minat atau Sistem?
  • Krisis Literasi Gen Z: Masalah Minat atau Sistem?
Posting Komentar