Ad
Scroll untuk melanjutkan membaca
📍 MEMUAT...
MENUJU...
00:00:00
-- --- ---- / -- ------- ----
IMSAK --:--
TERBIT --:--
SUBUH
--:--
DZUHUR
--:--
ASHAR
--:--
MAGHRIB
--:--
ISYA
--:--

PASANG IKLAN DISINI

www.nalarmerdeka.online

Dari Tubuh ke Kuasa: Michel Foucault dan Cara Kekuasaan Bekerja Diam-Diam

Potret Michel Foucault, filsuf Prancis yang memetakan relasi kekuasaan dan pengetahuan secara radikal. / Sumber: Wikimedia Commons / Nemomain (CC-BY-SA 3.0)

Bayangkan sebuah ruang kelas. Kursi disusun rapi menghadap papan tulis. Bel berbunyi, dosen masuk, mahasiswa duduk tenang, mencatat, dan dinilai. Semua terlihat wajar. Normal. Bahkan dianggap perlu. Namun, bagi Michel Foucault, justru di ruang semacam itulah kekuasaan bekerja paling efektif: tidak dengan kekerasan, melainkan lewat kebiasaan, disiplin, dan aturan yang nyaris tak terasa.

Michel Foucault lahir di Poitiers, Prancis, tahun 1926, dari keluarga kelas menengah dengan latar medis. Ayahnya seorang ahli bedah ternama, dan sejak awal Foucault disiapkan mengikuti jejak yang sama. Namun hidupnya justru berbelok tajam. Ia tumbuh sebagai sosok yang gelisah, sering merasa terasing, bergumul dengan depresi, dan mengalami ketegangan batin akibat identitas seksualnya di tengah masyarakat Prancis yang konservatif. Pengalaman personal inilah yang kelak membentuk cara pandangnya terhadap institusi, normalitas, dan kekuasaan.

Alih-alih menjadi dokter, Foucault memilih filsafat dan sejarah pemikiran. Ia belajar di École Normale Supérieure—kawah candradimuka intelektual Prancis—namun hubungannya dengan dunia akademik tak pernah sepenuhnya harmonis. Foucault bukan tipe filsuf yang duduk nyaman di menara gading. Ia resah terhadap bagaimana ilmu pengetahuan, yang sering dianggap netral dan objektif, justru kerap menjadi alat penertiban manusia.

Keresahan itu tampak jelas dalam karya awalnya Madness and Civilization. Dalam buku ini, Foucault tidak bertanya “apa itu kegilaan?”, melainkan “bagaimana masyarakat mendefinisikan kegilaan?”. Ia menunjukkan bahwa apa yang disebut “gila” bukan semata-mata fakta medis, melainkan hasil konstruksi sejarah. Rumah sakit jiwa, diagnosis, dan bahasa psikiatri bukan hanya sarana penyembuhan, tetapi juga mekanisme pemisahan antara yang “normal” dan “tidak normal”.

Di titik inilah gagasan penting Foucault muncul: pengetahuan selalu berkelindan dengan kekuasaan. Tidak ada pengetahuan yang berdiri di luar relasi kuasa. Apa yang dianggap benar, ilmiah, dan sah selalu lahir dari konteks sosial-politik tertentu. Inilah yang kemudian dikenal sebagai konsep power/knowledge.

Puncak pemikiran Foucault tentang kekuasaan dapat dilihat dalam Discipline and Punish. Ia mengajak pembaca menelusuri sejarah hukuman—dari hukuman fisik yang brutal hingga sistem penjara modern yang tampak “manusiawi”. Namun alih-alih lebih lembut, sistem modern justru lebih efektif mengontrol. Tubuh manusia dilatih, diatur, diawasi, dan dinormalisasi. Sekolah, barak militer, rumah sakit, hingga pabrik bekerja dengan logika yang sama: menciptakan individu yang patuh dan produktif.

Metafora terkenal Foucault adalah panopticon—model penjara dengan menara pengawas di tengah. Narapidana tidak pernah tahu kapan dia diawasi, sehingga akhirnya mengawasi dirinya sendiri. Bagi Foucault, masyarakat modern bekerja seperti panopticon raksasa. Kita menertibkan diri sendiri tanpa perlu dipaksa, karena norma telah tertanam dalam tubuh dan pikiran.

Di sini, tubuh menjadi arena utama kekuasaan. Cara kita duduk, berbicara, berpakaian, bekerja, hingga mengekspresikan seksualitas bukanlah hal yang sepenuhnya bebas. Semua dibentuk oleh aturan sosial, wacana ilmiah, dan kebijakan negara. Dalam History of Sexuality, Foucault bahkan membongkar anggapan bahwa modernitas membebaskan seksualitas. Justru sebaliknya, seks semakin diatur, diklasifikasi, dan dibicarakan melalui bahasa medis, hukum, dan moral.

Menariknya, Foucault tidak pernah menawarkan teori pembebasan yang utuh atau resep perlawanan yang baku. Ia skeptis terhadap ide emansipasi universal. Baginya, tugas intelektual bukan memberi jawaban final, melainkan membongkar apa yang selama ini dianggap alamiah dan tak terbantahkan. Filsafat, bagi Foucault, adalah praktik kecurigaan.

Di luar tulisan, Foucault juga terlibat langsung dalam aktivisme, terutama isu penjara dan hak-hak kelompok marginal. Ia turun ke lapangan, mendengarkan suara narapidana, dan mengkritik sistem hukum Prancis. Ini menegaskan bahwa pemikirannya tidak berhenti di teks, tetapi berkelindan dengan praksis sosial.

Michel Foucault wafat pada 1984 akibat komplikasi AIDS. Namun gagasannya justru semakin hidup. Hari ini, ketika pengawasan digital, algoritma, dan birokrasi merasuk hingga ruang paling personal, pemikiran Foucault terasa semakin relevan. Ia mengingatkan kita bahwa kekuasaan tidak selalu datang dengan wajah otoriter. Sering kali ia hadir dalam bentuk yang paling rapi, paling rasional, dan paling “normal”.

Membaca Foucault bukan untuk mencari kebenaran baru, melainkan untuk belajar curiga: pada institusi, pada pengetahuan, bahkan pada diri kita sendiri. Karena mungkin, tanpa sadar, kita sedang duduk manis di dalam panopticon—dan menyebutnya kebebasan.

Penulis: Muhammad Jazuli


Baca Juga
Tag:
Berita Terbaru
  •  Dari Tubuh ke Kuasa: Michel Foucault dan Cara Kekuasaan Bekerja Diam-Diam
  •  Dari Tubuh ke Kuasa: Michel Foucault dan Cara Kekuasaan Bekerja Diam-Diam
  •  Dari Tubuh ke Kuasa: Michel Foucault dan Cara Kekuasaan Bekerja Diam-Diam
  •  Dari Tubuh ke Kuasa: Michel Foucault dan Cara Kekuasaan Bekerja Diam-Diam
  •  Dari Tubuh ke Kuasa: Michel Foucault dan Cara Kekuasaan Bekerja Diam-Diam
  •  Dari Tubuh ke Kuasa: Michel Foucault dan Cara Kekuasaan Bekerja Diam-Diam
Posting Komentar
Ad
Ad
Tutup Iklan
Ad