![]() |
| Logo peringatan 72 tahun Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama dengan tema “Meneguhkan Khidmat Pelajar Menuju Peradaban Mulia.” |
Nalatmerdeka.com – Februari 1954, tepat 72 tahun yang lalu, organisasi Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) didirikan di Semarang. Pada Harlah kali ini, tema yang diusung adalah: “Meneguhkan Khidmat Pelajar Menuju Peradaban Mulia”. Ini bukan sekadar deretan kata puitis yang menghiasi spanduk perayaan, melainkan sebuah manifesto sekaligus "gugatan" nurani bagi setiap kader.
Di usia yang telah melampaui tujuh dekade ini, pertanyaannya bukan lagi seberapa besar jumlah kita, melainkan seberapa dalam akar pengabdian kita bagi kemanusiaan. Khidmat pelajar hari ini ditantang untuk melampaui sekat-sekat rutinitas organisasi dan bergerak menuju cita-cita besar: Peradaban Mulia.
Tamparan Sejarah dan Akar Perjuangan
Tema Harlah ini sepatutnya tidak sekadar dielu-elukan karena narasinya yang indah, namun harus menjadi pengingat kritis: Apakah khidmat kita selama ini sudah cukup kuat untuk menjadi fondasi peradaban?
Untuk menjawabnya, kader IPNU perlu menengok kembali sejarah awal berdirinya organisasi. IPNU lahir sebagai badan otonom NU untuk kalangan pelajar dan santri, yang diawali oleh tumbuhnya organisasi lokal di berbagai daerah:
• Surabaya (1936): Berdiri Tsamortul Mustafidin, disusul Persatoean Santri NO (Persano) pada 1939.
• Malang: Lahir Persatoean Anak Moerid NO (PAMNO) pada 1941 dan Ikatan Moerid NO pada 1945.
• Sumbawa (1946): Berdiri Ijtimaul Tolabah NO (ITNO) yang bahkan memiliki tim sepak bola bernama Ikatan Sepak Bola Peladjar NO (ISPNO).
• Madura (1945): Berdiri perkumpulan Syubbanul Muslimin.
Perkumpulan pelajar pada masa revolusi kemerdekaan ini merupakan upaya kalangan pesantren dalam membantu perjuangan fisik. Pasca revolusi, aktivitas organisasi lokal tersebut mulai menurun, namun gagasan untuk menyatukannya ke dalam wadah nasional justru semakin menguat.
Kelahiran Wadah Tunggal
Beberapa embrio IPNU yang muncul pada awal 1950-an antara lain: Ikatan Siswa Muballighin NO (Iksimno) di Semarang (1952), Persatuan Peladjar NO (Perpeno) di Kediri (1953), Ikatan Peladjar Islam NO (IPINO) di Bangil (1953), hingga Ikatan Pelajar NO (IPNO) di Medan (1954).
Gagasan pembentukan wadah tunggal nasional kemudian disampaikan dalam Konferensi Besar LP Ma’arif NU pada Februari 1954 di Semarang oleh para pelajar dari Yogyakarta, Surakarta, dan Semarang, yakni: M. Softan Kholil, Mustahal, Ahmad Masyhud, dan Abdulghani Farida M. Uda.
Akhirnya, pada 20 Jumadil Akhir 1373 H / 24 Februari 1954 M, Konferensi Besar menyetujui berdirinya Ikatan Peladjar Nahdlatul Ulama (IPNU) dan mengangkat Mohammad Tolchah Mansoer sebagai Ketua Pimpinan Pusat pertama.
Khidmat untuk Pelajar dan Santri
Sejak awal, IPNU berasaskan Ahlussunnah wal Jama’ah dengan tujuan menegakkan agama Islam, menyempurnakan pendidikan, serta menghimpun potensi pelajar Islam berpaham Aswaja. Meski awalnya berada di bawah naungan LP Ma’arif, melalui Kongres ke-6 di Surabaya, IPNU resmi menjadi badan otonom di bawah PBNU. Kemudian, pada Kongres 1988 di Denanyar, Jombang, IPNU secara resmi menetapkan Pancasila sebagai asas organisasi dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
Membaca sejarah ini seharusnya memantik semangat kader untuk terus mengibarkan panji-panji IPNU. Sudah saatnya IPNU berkonsentrasi pada kaderisasi intensif di kalangan pelajar dan santri. Rasanya kurang elok jika IPNU terlalu larut dalam hiruk-pikuk isu yang tidak bersentuhan langsung dengan dunia pendidikan.
Ada kegelisahan nyata ketika IPNU terlalu asyik berselancar di isu-isu yang jauh dari jangkauan pelajar. Sejatinya, kekuatan IPNU tidak terletak pada seberapa sering kita muncul di ruang publik yang sarat kepentingan, melainkan seberapa intensif kita menyentuh sanubari pelajar di ruang kelas dan pesantren.
Di sinilah peran Pimpinan Komisariat (PK) di tingkat sekolah menjadi sangat krusial. PK adalah "laboratorium" pertama di mana nilai-nilai Aswaja dan kebangsaan disemaikan. Tanpa penguatan di tingkat komisariat, IPNU hanya akan menjadi organisasi "kepala" yang besar secara struktural, namun "keropos" di tingkat grassroots (akar rumput).
Penulis: Maulidin
