Scroll untuk melanjutkan membaca

Biografi KH Hasyim Muzadi: Ulama, Negarawan, dan Penjaga Pluralisme

KH Hasyim Muzadi dalam Workshop Peningkatan Kesadaran Strategi Global PBB untuk Pemberantasan Terorisme, 2009. / Foto: Wikimedia Commons / Public Domain.

Nalarmerdeka.com – Dalam sejarah Islam Indonesia, tidak banyak ulama yang mampu berdiri di persimpangan antara pesantren, panggung politik nasional, dan forum Islam dunia sekaligus. KH Hasyim Muzadi adalah salah satu dari segelintir tokoh itu. Ia bukan sekadar kiai dengan otoritas keagamaan, melainkan juga seorang pemikir yang menjadikan Islam moderat bukan jargon, tetapi praktik hidup yang dijalani konsisten hingga akhir hayatnya pada 16 Maret 2017.

Dari Bangilan ke Gontor: Akar Keilmuan yang Kokoh

Ahmad Hasyim Muzadi lahir di Bangilan, Tuban, 8 Agustus 1944, dari pasangan H. Muzadi, seorang pedagang tembakau yang sukses dan dermawan, serta Hj. Rumyati. Ia merupakan anak ketujuh dari delapan bersaudara. Lingkungan keluarga yang religius sekaligus membumi menjadi tanah awal yang menyuburkan benih kepemimpinan dalam dirinya.

Jejak pendidikannya dimulai dari MI Bangilan, lalu SD Tuban, kemudian SMP Tuban selama setahun, sebelum ia berpindah ke Pondok Modern Gontor, Ponorogo, untuk menempuh studi KMI selama enam tahun dari 1957 hingga 1962. Setelah lulus dari Gontor, ia berpindah-pindah pesantren hampir setiap tiga bulan, antara lain ke Pesantren Al-Fadholi Senori Tuban dan Pesantren Al-Anwar Lasem Rembang.

Perjalanan keilmuan ini mencerminkan tradisi santri yang tidak puas dengan satu sumber. Hasyim muda menderas ilmu dari berbagai guru, membentuk wawasan yang luas dan lentur, dua bekal yang kemudian membuat pemikirannya sulit dikurung dalam satu madzhab tunggal. Ia kemudian melanjutkan pendidikan tinggi di IAIN Sunan Ampel Malang pada 1964, dan di sinilah ia mulai dikenalkan oleh kakaknya dengan organisasi NU, khususnya di Malang dan Jawa Timur. 

Memimpin NU di Tengah Turbulensi Bangsa

Kiprah organisasinya mulai dikenal ketika pada 1992 ia terpilih menjadi Ketua Pengurus Wilayah NU Jawa Timur, yang terbukti menjadi batu loncatan untuk menjadi Ketua PBNU pada 1999. Pemilihan itu berlangsung di Muktamar ke-30 di Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri, saat Abdurrahman Wahid baru saja dilantik sebagai Presiden Republik Indonesia.

Pada periode kepemimpinannya, NU membuat terobosan signifikan: meluncurkan media online NU Online, menerbitkan Risalah Nahdlatul Ulama, menyelenggarakan International Conference of Islamic Scholars (ICIS), dan membentuk beberapa Pengurus Cabang Istimewa NU di luar negeri. Langkah-langkah ini bukan sekadar ekspansi organisasi, melainkan cermin visi Hasyim tentang Islam yang perlu berbicara kepada dunia, bukan hanya kepada sesama Muslim Indonesia.

ICIS diprakarsai bersama oleh PBNU dan Kementerian Luar Negeri pada 2004, dengan tujuan mengadakan dialog antaragama dan memperbaiki relasi antara komunitas Islam dan Barat pasca serangan 11 September 2001. Dalam forum itu, Hasyim mengambil posisi tegas: Islam Indonesia adalah Islam yang moderat, kultural, dan tidak berafiliasi dengan kekerasan internasional.

Islam Moderat sebagai Proyek Peradaban

Tidak sedikit tokoh yang mengklaim Islam moderat sebagai identitas, tetapi hanya sedikit yang mampu mendefinisikannya dengan jernih. Hasyim Muzadi termasuk yang mampu. Bagi Hasyim, Islam moderat berarti Islam yang tidak radikal dan tidak liberal, sebuah garis tengah yang bukan kompromi, melainkan ketegasan tersendiri.

Ia mendorong semangat pluralisme dan merangkul semua elemen bangsa dari berbagai latar belakang. Baginya, umat Islam Indonesia wajib mengembangkan dan mengamalkan bukan hanya ukhuwwah Islamiyah, tetapi juga persaudaraan kebangsaan yang melampaui sekat agama.

Pendekatan humanis menjadi ciri khasnya. Ia dikenal kerap mencairkan ketegangan lewat humor yang cerdas dan analogi yang membumi, kemampuan langka yang membuat gagasannya mudah diterima lintas kalangan. Semboyan khasnya, Islam Rahmatan lil Alamin, ia suarakan secara gigih di berbagai forum, baik internal Sunni Asy'ari NU, maupun konteks kebangsaan dan global.

Warisan Pesantren dan Pengaruh Dunia

Sebagai warisan abadi, Kiai Hasyim mendirikan Pesantren Mahasiswa Al-Hikam di Malang pada 17 Ramadan 1413 (21 Maret 1992), sebagai pelopor pesantren mahasiswa yang saat ini semakin berkembang di berbagai kota di Indonesia. Terobosan ini mengubah paradigma bahwa pesantren hanya untuk santri muda, dan membuka ruang bagi mahasiswa perguruan tinggi untuk tetap mengakar pada tradisi keilmuan Islam klasik.

Pada 2009, namanya tercatat dalam The 500 Most Influential Muslims in the World, sejajar dengan tokoh kaliber dunia seperti Syekh Yusuf al-Qaradhawi. Pengakuan ini bukan datang dari kampanye pencitraan, melainkan dari konsistensi panjang seorang ulama yang memilih jalan damai di tengah dunia yang makin berisik.

Ketika Joko Widodo dan Jusuf Kalla terpilih sebagai presiden dan wakil presiden untuk periode 2015-2019, Kiai Hasyim dipercaya menjadi salah satu anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres). Jabatan itu belum tuntas ia emban ketika ajal menjemput. Ia wafat di Malang pada 16 Maret 2017 dan dimakamkan di kompleks Pesantren Al-Hikam Depok.

Relevansi yang Tidak Usang

Warisan pemikiran KH Hasyim Muzadi bukan sekadar dokumen sejarah. Di era ketika narasi radikalisme dan polarisasi keagamaan terus berebut ruang, gagasannya tentang Islam yang merahmati semesta, bukan menakuti, tetap memancarkan urgensi.

Ia menunjukkan bahwa seorang ulama bisa sekaligus menjadi negarawan, diplomat, dan pendidik tanpa kehilangan akar pesantrennya. Pertanyaan yang tersisa bukan apakah pemikirannya masih relevan, melainkan apakah kita cukup sungguh-sungguh untuk meneruskannya.

Penulis: Muhammad Jazuli 

Baca Juga
Tag:
Berita Terbaru
  • Biografi KH Hasyim Muzadi: Ulama, Negarawan, dan Penjaga Pluralisme
  • Biografi KH Hasyim Muzadi: Ulama, Negarawan, dan Penjaga Pluralisme
  • Biografi KH Hasyim Muzadi: Ulama, Negarawan, dan Penjaga Pluralisme
  • Biografi KH Hasyim Muzadi: Ulama, Negarawan, dan Penjaga Pluralisme
  • Biografi KH Hasyim Muzadi: Ulama, Negarawan, dan Penjaga Pluralisme
  • Biografi KH Hasyim Muzadi: Ulama, Negarawan, dan Penjaga Pluralisme
Posting Komentar