![]() |
| Rektorat UIN Maulana Malik Ibrahim Malang. / Foto: UIN Malang. |
Nalarmerdeka.com – Di balik nama megah Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang tersimpan lintasan sejarah yang berliku selama lebih dari enam dekade. Ia bukan lahir tiba-tiba sebagai universitas, melainkan tumbuh dari benih kecil yang ditanam para tokoh Jawa Timur pada 1961 — sebuah fakultas cabang di kota dingin yang kelak menjadi salah satu pusat pendidikan Islam paling berpengaruh di Nusantara. Kisah transformasinya adalah cermin dari dinamika pendidikan Islam Indonesia itu sendiri.
Benih Pertama: Fakultas Tarbiyah di Malang (1961)
Cikal bakal UIN Maliki bermula dari gagasan para tokoh Jawa Timur untuk mendirikan lembaga pendidikan tinggi Islam di bawah Departemen Agama. Melalui Surat Keputusan Menteri Agama No. 17 Tahun 1961, dibentuklah Panitia Pendirian IAIN Cabang Surabaya yang bertugas mendirikan Fakultas Syariah di Surabaya dan Fakultas Tarbiyah di Malang. Keduanya merupakan cabang dari IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta dan diresmikan bersama oleh Menteri Agama pada 28 Oktober 1961.
Kelahiran Fakultas Tarbiyah di Malang bukan tanpa pertimbangan. Kota Malang dengan tradisi pendidikannya yang kuat dan iklim intelektualnya yang kondusif dianggap tepat sebagai persemaian kader-kader pendidik Islam. Pada 1 Oktober 1964, Fakultas Ushuluddin turut didirikan di Kediri melalui SK Menteri Agama No. 66/1964. Dalam perkembangannya, ketiga fakultas cabang tersebut bergabung di bawah naungan Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Sunan Ampel Surabaya.
Mandiri sebagai STAIN: Tonggak Otonomi (1997)
Selama lebih dari tiga dekade, Fakultas Tarbiyah Malang beroperasi sebagai unit dari IAIN Sunan Ampel Surabaya. Namun babak baru pun tiba. Melalui Keputusan Presiden No. 11 Tahun 1997, Fakultas Tarbiyah Malang resmi beralih status menjadi Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Malang, bersamaan dengan perubahan status 33 fakultas cabang IAIN se-Indonesia. Sejak saat itu, STAIN Malang berdiri sendiri dan lepas dari IAIN Sunan Ampel.
Otonomi ini menjadi titik balik yang menentukan. Dengan kebebasan mengelola diri sendiri, STAIN Malang mulai menyusun visi jangka panjang. Pada tahun akademik 1999/2000, STAIN Malang membuka Program Pascasarjana jenjang Magister dalam bidang Ilmu Agama Islam. Ambisi untuk berkembang lebih jauh pun tak terbendung.
Episode Kerjasama Internasional: Lahirnya UIIS (2002)
Salah satu episode paling unik dalam sejarah institusi ini adalah kerja samanya dengan pemerintah Sudan. Lembaga ini sempat bernama Universitas Islam Indonesia-Sudan (UIIS) sebagai implementasi kerja sama antara pemerintah Indonesia dan Sudan, dan diresmikan oleh Wakil Presiden RI Dr. Hamzah Haz pada 21 Juli 2002, yang juga dihadiri oleh para pejabat tinggi pemerintah Sudan.
Fase UIIS mencerminkan ambisi untuk menjadi simpul jaringan pendidikan Islam internasional. Meski berlangsung singkat, ia membuka cakrawala bagi kampus ini untuk berpikir melampaui batas-batas lokal. Perubahan nama dari IAIN Malang ke STAIN Malang, kemudian ke UIIS hingga UIN Malang, semuanya terjadi di bawah satu rektor yang sama dan menorehkan rekor nasional sebagai institusi dengan pergantian nama terbanyak.
Menjadi Universitas dan Menemukan Namanya (2004–2009)
Usulan perubahan status menjadi universitas akhirnya disetujui Presiden RI melalui Surat Keputusan Presiden RI No. 50 tanggal 21 Juni 2004. Kampus ini kemudian diresmikan oleh Menko Kesra ad Interim Prof. H.A. Malik Fadjar bersama Menteri Agama Prof. Dr. H. Said Agil Husin Munawwar.
Namun perjalanan belum usai. Sebagai universitas baru, kampus ini belum memiliki nama yang mencerminkan identitasnya. Melalui seleksi beberapa nama yang disiapkan, nama salah seorang wali di Jawa Timur yakni Maulana Malik Ibrahim dipilih dan diresmikan oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada Januari 2009. Nama Maulana Malik Ibrahim diambil dari nama Sunan Gresik, seorang Walisongo yang menyebarkan Islam di tanah Jawa.
Paradigma Integrasi: Warisan Intelektual yang Khas
Yang membedakan UIN Maliki dari universitas Islam lainnya bukan hanya nama atau sejarahnya, melainkan paradigma keilmuannya. Secara akademik, universitas ini mengembangkan ilmu pengetahuan tidak hanya dari metode-metode ilmiah seperti observasi dan eksperimentasi, tetapi juga dari Al-Quran dan Hadits yang selanjutnya disebut sebagai paradigma integrasi. Karena itu, mata kuliah studi keislaman seperti Al-Quran, Hadits, dan Fiqih menjadi sangat sentral dalam kerangka integrasi keilmuan tersebut.
Ciri khas lainnya adalah keberadaan mahad atau pesantren kampus, yang mewajibkan seluruh mahasiswa tingkat pertama untuk tinggal di dalamnya selama satu tahun. Perpaduan pendidikan universitas dan tradisi pesantren inilah yang diharapkan melahirkan lulusan yang berpredikat ulama-intelek profesional sekaligus profesional yang berakhlak ulama.
Sejarah UIN Maulana Malik Ibrahim Malang adalah narasi tentang keteguhan visi di tengah perubahan. Dari sebuah fakultas cabang yang berstatus pinggiran, ia menapak naik melalui otonomi, pergantian nama, kerja sama lintas benua, hingga akhirnya menemukan jati dirinya sebagai universitas Islam yang bercita-cita menjadi pusat keunggulan dan pusat peradaban Islam. Perjalanan itu mengingatkan kita bahwa institusi besar tidak lahir dalam semalam — ia dibangun dari keberanian bermimpi dan konsistensi berproses.
Penulis: Muhammad Jazuli
