Nalarmerdeka.com – Pada 1970, seorang pemuda berusia 29 tahun berdiri di hadapan para aktivis Islam dan mengucapkan kalimat yang kemudian mengguncang dunia intelektual Islam Indonesia: "Islam yes, partai Islam no." Pemuda itu adalah Nurcholish Madjid — yang akrab dipanggil Cak Nur — dan kalimat itu hanyalah pembuka dari serangkaian gagasan yang hingga hari ini masih diperdebatkan, disalahpahami, dan kadang digunakan untuk tujuan yang jauh dari apa yang ia maksudkan.
Siapa Nurcholish Madjid
Nurcholish Madjid lahir di Jombang, Jawa Timur, pada 1939. Ia tumbuh dalam tradisi pesantren — ayahnya seorang kiai NU — sebelum melanjutkan pendidikan di Universitas Islam Negeri Jakarta dan kemudian meraih gelar doktor dari Universitas Chicago di bawah bimbingan Fazlur Rahman, salah satu pemikir Islam paling berpengaruh abad ke-20.
Perjalanan intelektualnya membentuk seorang pemikir yang berakar kuat pada tradisi Islam klasik sekaligus sangat terbuka pada pemikiran Barat modern. Kombinasi inilah yang melahirkan gagasan-gagasan yang terasa asing bagi sebagian kalangan Muslim Indonesia pada masanya — dan masih terasa asing bagi sebagian kalangan hingga sekarang.
Sekularisasi Bukan Sekularisme
Kesalahpahaman terbesar tentang Nurcholish Madjid adalah menyamakan gagasannya tentang sekularisasi dengan sekularisme. Keduanya berbeda secara mendasar — dan Cak Nur sendiri berulang kali menegaskan perbedaan ini.
Sekularisme adalah ideologi yang menolak peran agama dalam kehidupan publik secara prinsipil — sebuah pandangan yang memang tidak sejalan dengan Islam. Sekularisasi, dalam pengertian yang dipakai Cak Nur mengikuti sosiolog Harvey Cox, adalah proses pembebasan nalar manusia dari belenggu sakralisasi hal-hal yang sebenarnya bersifat duniawi.
Sederhananya: Cak Nur tidak mengatakan agama harus disingkirkan dari kehidupan publik. Ia mengatakan bahwa hal-hal yang bersifat duniawi — politik, ekonomi, institusi sosial — tidak boleh disucikan seolah setara dengan yang ilahi. Menyakralkan partai politik, misalnya, adalah bentuk kekeliruan teologis karena ia mengangkat sesuatu yang relatif ke derajat yang absolut.
"Islam Yes, Partai Islam No" — Apa Maksudnya
Kalimat yang paling sering dikutip — dan paling sering disalahgunakan — dari Cak Nur adalah penolakannya terhadap partai Islam. Bagi sebagian orang, ini dibaca sebagai seruan untuk memisahkan Islam dari politik. Padahal konteks dan argumennya jauh lebih bernuansa.
Cak Nur berargumen bahwa ketika Islam direduksi menjadi partai politik, ia justru dipersempit. Nilai-nilai Islam yang universal — keadilan, kesetaraan, pembebasan dari penindasan — tidak bisa ditampung sepenuhnya oleh satu wadah partai. Lebih dari itu, politisasi Islam berisiko menjadikan agama sebagai alat legitimasi kekuasaan, bukan sebagai panduan moral yang melampaui kekuasaan.
Ini bukan anti-politik. Ini adalah argumen bahwa Islam terlalu besar dan terlalu penting untuk dikerdilkan menjadi kendaraan elektoral.
Warisan yang Diperebutkan
Setelah Cak Nur wafat pada 2005, warisannya diperebutkan dari berbagai arah. Sebagian kalangan liberal menggunakannya untuk melegitimasi agenda pluralisme yang mungkin melampaui apa yang pernah ia bayangkan. Sebagian kalangan konservatif menuduhnya sebagai agen sekularisme Barat. Keduanya, dengan cara masing-masing, tidak sepenuhnya jujur pada teks dan konteks pemikirannya.
Yang sering diabaikan adalah dimensi sufistik dalam pemikiran Cak Nur. Ia bukan sekadar intelektual rasionalis — ia adalah seorang Muslim yang sangat taat, yang perjalanan spiritualnya membentuk cara ia memahami hubungan antara yang ilahi dan yang duniawi. Tanpa memahami dimensi ini, pembacaan atas gagasannya akan selalu timpang.
Relevansi Hari Ini
Di era ketika identitas keagamaan kembali menjadi senjata politik yang ampuh — di Indonesia maupun di seluruh dunia — gagasan Cak Nur terasa semakin relevan. Peringatannya tentang bahaya menyakralkan yang profan, tentang penyempitan Islam menjadi identitas politik semata, dan tentang pentingnya nalar kritis dalam beragama, adalah gagasan yang belum selesai kerjanya.
Membaca Nurcholish Madjid bukan berarti menyetujui semua yang ia katakan. Ia sendiri tidak pernah menginginkan pengikut yang mengangguk tanpa berpikir. Yang ia inginkan adalah tradisi intelektual Islam yang hidup — yang terus bertanya, terus berdialog, dan tidak takut pada kompleksitas.
Lima puluh tahun setelah kalimat yang mengguncang itu diucapkan, kita masih belum selesai bergulat dengan pertanyaan-pertanyaan yang ditinggalkan Nurcholish Madjid. Itu bukan tanda kegagalannya — itu tanda bahwa ia mengajukan pertanyaan yang benar: pertanyaan yang cukup besar untuk terus relevan melampaui zamannya.
