Syaikhona Kholil Bangkalan: Mahaguru Ulama Nusantara

Ilustrasi Syaikhona Muhammad Kholil Bangkalan (1835–1925) Mahaguru Para Ulama Nusantara & Pahlawan Nasional. /Foto: Gemini / Nalarmerdeka.

Nalarmerdeka.com – Dari sudut Pulau Madura yang selalu dipandang sebelah mata, lahir seorang ulama yang kelak menjadi poros keilmuan Islam di seluruh Nusantara. Syaikhona Muhammad Kholil Bangkalan dikenal sebagai mahaguru para ulama dan kiai di Indonesia, karena berhasil mencetak banyak ulama yang berpengaruh di Nusantara. Nama beliau mungkin tidak sepopuler tokoh-tokoh yang berdiri di panggung politik, namun pengaruhnya terasa hingga hari ini—mengalir deras melalui ribuan pesantren dan jutaan santri yang mewarisi sanad keilmuannya.

Asal-Usul dan Masa Kecil

Syaikhona Muhammad Kholil Bangkalan lahir pada 9 Safar 1252 H bertepatan dengan 25 Mei 1835 M di Kampung Senenan, Kemayoran, Bangkalan, Madura, Jawa Timur. Ia adalah putra dari pasangan KH Abdul Latif dan Nyai Siti Khadijah yang datang ke dunia disambut penuh rasa syukur, terutama karena ayahnya berharap kelak ia dapat meneruskan perjuangan para leluhur yang berkhidmat kepada Islam.

Garis keturunannya tidak sembarangan. Ayahnya, KH Abdul Lathif, memiliki pertalian darah dengan Sunan Gunung Jati melalui jalur Sayyid Sulaiman, cucu dari wali besar Cirebon itu. Dengan nasab yang terhubung langsung ke tradisi keilmuan Wali Songo, tidak mengherankan jika sejak kecil Mbah Kholil—sapaan akrab beliau—sudah menunjukkan bakat yang luar biasa.

Kehausannya akan ilmu, terutama ilmu fiqih dan nahwu, sangat luar biasa. Bahkan ia sudah hafal dengan baik Nazham Alfiyah Ibnu Malik—seribu bait yang membahas ilmu nahwu—sejak usia muda. Prestasi ini bukan hal kecil; menghafal Alfiyah membutuhkan ketajaman intelektual dan keistikamahan yang jarang dimiliki anak seusianya.

Pengembaraan Intelektual: Dari Madura hingga Makkah

Perjalanan menuntut ilmu Syaikhona Kholil berlangsung panjang dan berliku. Perjalanan intelektual Mbah Kholil dimulai dari Pondok Pesantren Langitan, Tuban, lalu ke Pesantren Cangaan Bangil dan Pesantren Keboncandi Pasuruan. Di setiap tempat ia singgah, beliau tidak sekadar menyerap ilmu, tetapi menyimpannya dengan cara yang unik.

Selama menuntut ilmu, Kiai Kholil memiliki kebiasaan istimewa, yakni menggunakan bajunya sebagai kertas untuk menulis semua pelajaran yang didapatkan dari guru-gurunya. Ketika sudah berhasil menghafalkan semua catatan itu di luar kepala, barulah beliau mencuci bajunya. Kebiasaan ini mencerminkan betapa seriusnya beliau menjaga setiap ilmu yang diterima.

Pada tahun 1276 H/1859 M, Mbah Kholil berangkat belajar ke Makkah. Di sana ia berguru kepada Syeikh Nawawi al-Bantani, Sayyid Ahmad bin Zaini Dahlan, Syeikh Mustafa bin Muhammad al-Afifi al-Makki, dan sejumlah ulama Haramain lainnya. Di Tanah Suci, kecerdasannya semakin terasah. Ia dikenal tekun, disiplin, dan produktif menyalin kitab—bahkan dikisahkan ia menyalin Alfiyah untuk menghidupi kebutuhan sehari-hari selama belajar di sana.

Mendirikan Pesantren: Bangkalan sebagai Pusat Keilmuan

Pada 1863 M, berdasarkan perintah gurunya, Syaikhona Kholil pulang ke Madura. Ia kemudian menetap di Jengkebuan, Bangkalan, dan mendirikan pondok pesantren yang kelak menjadi pusat pendidikan Islam. Santri dari berbagai daerah berdatangan untuk menimba ilmu.

Pesantren itu berkembang pesat. Setelah pesantren berkembang, kepemimpinannya dipasrahkan kepada menantunya, KH Muntaha. Syaikhona Kholil kemudian pindah ke Desa Kademangan, sekitar 200 meter dari Alun-alun Bangkalan, dan di tempat baru ini ia membangun kobong, masjid, dan majelis yang menjadi pusat aktivitas dakwah dan pengajaran bagi masyarakat.

Pada penghujung abad ke-19, Bangkalan menjadi salah satu pusat keilmuan Islam yang sangat berpengaruh di Nusantara. Tradisi "ngetan"—para santri dari Jawa barat yang berkelana ke arah timur untuk menimba ilmu—menjadikan Bangkalan sebagai tujuan akhir sebelum berangkat ke Makkah.  Posisi ini menjadikan pesantren Syaikhona Kholil sebagai simpul utama jaringan keilmuan Islam di seluruh kepulauan.

Mahaguru yang Melahirkan Para Tokoh Bangsa

Warisan terbesar Syaikhona Kholil bukanlah bangunan, melainkan manusia. Sepanjang hidupnya, diperkirakan sekitar 500.000 santri pernah belajar di bawah bimbingannya. Dari jumlah tersebut, lebih dari tiga ribu menjadi tokoh ulama, kiai, pemimpin masyarakat, serta pendiri pesantren di berbagai wilayah Jawa, Sumatera, dan Madura.

Di antara murid-muridnya yang menjadi ulama masyhur adalah Hadratussyekh KH M Hasyim Asy'ari pendiri NU, KH Abdul Wahab Chasbullah, dan KH R As'ad Syamsul Arifin. Ketiga murid Syekh Kholil Bangkalan ini bahkan dianugerahi gelar pahlawan nasional. 

Peran beliau dalam kelahiran Nahdlatul Ulama pun sangat menentukan. Pada sekitar tahun 1920, sebanyak 66 ulama se-Nusantara berkumpul di Bangkalan untuk meminta petunjuk kepada Syaikhona Kholil terkait kemunculan aliran baru yang dianggap mengancam ajaran Ahlussunnah wal Jamaah. Pandangan, sikap, dan restu Syaikhona Kholil inilah yang kemudian menjadi kekuatan lahirnya organisasi NU sebagai benteng ajaran Islam moderat khas Nusantara.

Pengaruh beliau bahkan menyentuh lingkar kekuasaan tertinggi. Menurut penuturan KH As'ad Syamsul Arifin, Bung Karno—meski tidak resmi sebagai murid—ketika sowan ke Bangkalan, Kiai Kholil memegang kepala Bung Karno dan meniup ubun-ubunnya, yang bisa bermakna restu untuk menjadi pemimpin.

Karya Ilmiah dan Warisan Pemikiran

Syaikhona Kholil bukan hanya seorang pendidik yang produktif, tetapi juga penulis yang aktif. Beliau meninggalkan 30 kitab, termasuk sebuah tulisan tentang cinta tanah air yang ditulis pada tahun 1891.

Beberapa karya Mbah Kholil yang masih digunakan di pesantren hingga kini antara lain Kitab Silah fi Bayin Nikah, Tarjamah Alfiyah Ibnu Malik, Kitab Asmaul Husna, Ijazah Barzakhiyah, dan Taqrirat ala Mandhumah Nuzhatid Thullab. Karya-karya ini mencerminkan keluasan ilmunya yang merentang dari fiqih, gramatika Arab, hingga tasawuf.

Kedalaman dan keluasan ilmunya membuat Syaikhona Kholil dijuluki Syaikh al-Jawiyyin — mahaguru orang-orang Jawa. Pengakuan ini tidak datang dari kalangan domestik semata; manuskrip Al-'Iqd Al-Farid karya Syaikh Yasin al-Fadani, ulama besar asal Padang yang menetap di Makkah, menegaskan bahwa sanad keilmuan mayoritas ulama Indonesia pada abad ke-19 bermuara pada dua tokoh: Syaikhona Kholil dan Syaikh Mahfuzh Termas.

Pahlawan Nasional: Pengakuan yang Telah Lama Dinanti

Pemerintah Republik Indonesia, pada 10 November 2025, secara resmi menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional kepada Syaikhona Muhammad Kholil bin Abdul Lathif Bangkalan. Penganugerahan ini merupakan bentuk pengakuan atas jasa besar beliau dalam perjuangan pendidikan Islam dan kontribusinya terhadap kebangkitan bangsa.

Syaikhona Muhammad Kholil dikenal luas sebagai mahaguru para kiai dan ulama Nusantara, bapak pesantren Indonesia, dan pelopor nasionalisme santri. Prinsip yang beliau tanamkan kepada para santri—hubbul wathan minal iman, cinta tanah air adalah bagian dari iman—menjadi fondasi moral yang mengalir jauh melampaui masa hidupnya.

Syaikhona Muhammad Kholil wafat pada 29 Ramadhan 1343 H/1925 M. Wafatnya meninggalkan duka mendalam bagi umat Islam di Nusantara. Lebih dari 500.000 orang hadir mengiringi prosesi pemakamannya. Makamnya di kompleks Martajasah hingga kini menjadi salah satu tempat ziarah ulama, santri, dan masyarakat luas.

Syaikhona Kholil adalah bukti bahwa peradaban tidak selalu dibangun dari ibu kota atau medan perang. Dari pesantren sederhana di Bangkalan, ia menyalakan obor keilmuan yang cahayanya menerangi seluruh Nusantara—melahirkan ulama, negarawan, dan pejuang yang menjadi tulang punggung bangsa. Gelar Pahlawan Nasional yang disematkan lebih dari seabad setelah kepergiannya bukan sekadar penghargaan seremonial, melainkan pengakuan bahwa jalan ilmu dan pendidikan adalah jalan perjuangan yang paling lestari.

Penulis: Muhammad Jazuli 

Baca Juga
Tag:
Berita Terbaru
  • Syaikhona Kholil Bangkalan: Mahaguru Ulama Nusantara
  • Syaikhona Kholil Bangkalan: Mahaguru Ulama Nusantara
  • Syaikhona Kholil Bangkalan: Mahaguru Ulama Nusantara
  • Syaikhona Kholil Bangkalan: Mahaguru Ulama Nusantara
  • Syaikhona Kholil Bangkalan: Mahaguru Ulama Nusantara
  • Syaikhona Kholil Bangkalan: Mahaguru Ulama Nusantara