4.000 Kampus, Tapi Berapa yang Benar-benar Mendidik?

 

Nalarmerdeka.com – Setiap tahun, ratusan ribu mahasiswa baru memasuki gerbang universitas di seluruh Indonesia dengan satu harapan dominan: mendapatkan gelar yang akan membuka pintu pekerjaan. Harapan itu sah. Tapi ketika ia menjadi satu-satunya orientasi — bagi mahasiswa, dosen, dan institusi sekaligus — maka universitas telah berubah fungsi tanpa pernah secara resmi mengumumkannya.

Gelar sebagai Komoditas

Data Badan Pusat Statistik menunjukkan bahwa jumlah perguruan tinggi di Indonesia telah melampaui 4.000 institusi — terbanyak ketiga di dunia setelah Amerika Serikat dan India. Angka ini kerap dikutip sebagai pencapaian. Tapi kuantitas dan kualitas adalah dua hal yang berbeda, dan jarak antara keduanya di Indonesia masih sangat lebar.

Ketika universitas berlomba membuka program studi baru untuk mengejar mahasiswa, ketika akreditasi menjadi target administratif bukan cerminan mutu sesungguhnya, dan ketika kurikulum dirancang semata untuk memenuhi kebutuhan industri jangka pendek — maka yang sedang diproduksi bukan sarjana dalam pengertian penuh. Yang diproduksi adalah pemegang ijazah.

Perbedaannya bukan soal semantik. Sarjana adalah seseorang yang telah dilatih berpikir sistematis, mempertanyakan asumsi, dan menghadapi ketidakpastian dengan nalar yang terlatih. Pemegang ijazah adalah seseorang yang telah menyelesaikan serangkaian persyaratan administratif dan lulus ujian yang cukup untuk mendapatkan selembar kertas berstempel.

Budaya Akademik yang Dangkal

Salah satu indikator paling jujur dari kesehatan sebuah universitas adalah budaya akademiknya — sejauh mana perdebatan intelektual terjadi secara genuine, sejauh mana mahasiswa didorong untuk tidak setuju dengan dosennya, dan sejauh mana riset yang dilakukan benar-benar menyumbang pada pengetahuan bukan sekadar memenuhi syarat kelulusan.

Di banyak kampus Indonesia, budaya ini masih rapuh. Hierarki antara dosen dan mahasiswa sering kali terlalu kaku untuk memungkinkan dialog intelektual yang setara. Skripsi dan tesis lebih sering diperlakukan sebagai ritual kelulusan ketimbang latihan penelitian yang sesungguhnya. Plagiarisme — baik yang kasar maupun yang halus — masih menjadi masalah yang belum ditangani secara serius dan sistemik.

Yang lebih mengkhawatirkan adalah ketika mahasiswa sendiri tidak lagi mengharapkan lebih dari universitasnya. Ketika hadir di kelas, mengerjakan tugas secukupnya, dan lulus tepat waktu sudah dianggap sukses — maka kontrak antara institusi dan mahasiswa telah menyusut menjadi transaksi, bukan transformasi.

Riset yang Tidak Berdampak

Universitas memiliki dua fungsi utama: pendidikan dan penelitian. Di Indonesia, keduanya berjalan timpang. Jumlah publikasi ilmiah Indonesia memang meningkat dalam beberapa tahun terakhir — sebagian besar didorong oleh kebijakan yang mewajibkan dosen mempublikasikan karya sebagai syarat jabatan akademik.

Tapi kuantitas publikasi tidak otomatis mencerminkan kualitas riset. Fenomena predatory journals — jurnal berbayar dengan proses review yang minimal — menjadi jalan pintas yang memalukan. Sementara riset yang benar-benar menyentuh persoalan nyata masyarakat Indonesia — dari ketahanan pangan, kesehatan publik, hingga tata kelola daerah — masih jauh dari kapasitas yang seharusnya dihasilkan oleh ribuan perguruan tinggi yang ada.

Apa yang Seharusnya Dilakukan Universitas

Universitas bukan sekolah vokasi dan bukan pula menara gading yang terputus dari realita. Ia adalah ruang di mana kedua kutub itu seharusnya bertemu: tempat di mana pengetahuan teoritis berdialog dengan persoalan nyata, dan di mana mahasiswa belajar berpikir — bukan sekadar belajar mengerjakan.

Reformasi yang dibutuhkan bukan hanya soal kurikulum atau anggaran. Ia menyentuh kultur: bagaimana kita mendefinisikan keberhasilan sebuah universitas, apa yang kita hargai dari seorang lulusan, dan sejauh mana kita bersedia mentoleransi ketidaknyamanan intelektual yang merupakan syarat dari pertumbuhan nalar yang sesungguhnya.

Ijazah bisa dicetak dalam hitungan menit. Pemikir membutuhkan tahun-tahun pembentukan yang tidak bisa dipercepat tanpa kehilangan sesuatu yang esensial. Pertanyaannya bukan apakah universitas kita mampu memproduksi lebih banyak lulusan — jawabannya sudah jelas: ya, dan dalam jumlah yang terus bertambah. Pertanyaannya adalah apakah kita benar-benar serius ingin memproduksi sesuatu yang lebih dari itu.

Baca Juga
Tag:
Berita Terbaru
  • 4.000 Kampus, Tapi Berapa yang Benar-benar Mendidik?
  • 4.000 Kampus, Tapi Berapa yang Benar-benar Mendidik?
  • 4.000 Kampus, Tapi Berapa yang Benar-benar Mendidik?
  • 4.000 Kampus, Tapi Berapa yang Benar-benar Mendidik?
  • 4.000 Kampus, Tapi Berapa yang Benar-benar Mendidik?
  • 4.000 Kampus, Tapi Berapa yang Benar-benar Mendidik?
Posting Komentar