Nalarmerdeka.com – Tujuh puluh persen mahasiswa Indonesia pernah mengalami gejala kecemasan. Angka itu besar — tapi selalu dibingkai sebagai krisis. Padahal ada pertanyaan yang jarang diajukan: kenapa generasi yang tumbuh di era informasi justru dianggap lemah karena tahu terlalu banyak? Mungkin yang kita sebut "generasi cemas" sebenarnya adalah generasi yang pertama kali benar-benar sadar — sadar akan dunia, risiko, dan ketidakpastian yang selama ini disembunyikan.
Label "Cemas" Itu Datang dari Mana?
Sejak 2010-an, media dan peneliti mulai menyebut Gen Z sebagai generasi paling cemas. Laporan American Psychological Association (2019) menyebutkan Gen Z lebih rentan stres dibanding generasi sebelumnya. Di Indonesia, riset INTO THE LIGHT (2021) menemukan 1 dari 3 remaja pernah punya pikiran menyakiti diri sendiri.
Tapi perhatikan bagaimana data ini selalu dibingkai. Selalu soal kelemahan. Selalu soal rapuhnya kita. Tidak pernah ada yang bertanya: mungkin kita lebih sadar — dan kesadaran itu memang berat.
Ini bukan penyangkalan. Anxiety disorder itu nyata dan perlu ditangani. Tapi ada perbedaan besar antara gangguan klinis dengan ketidaknyamanan yang muncul karena kita tahu sesuatu yang tidak enak.
Dulu Tenang Karena Tidak Tahu
Generasi sebelumnya tidak punya akses informasi seperti kita. Mereka tidak tahu setiap hari ada laporan bencana iklim, ketimpangan ekonomi, atau erosi demokrasi. Ketidaktahuan itu memberi mereka ketenangan — tapi bukan kebijaksanaan.
Kita tahu. Dan pengetahuan itu terasa berat di dada. Itu bukan cemas tanpa sebab. Itu respons wajar terhadap realitas yang memang berat.
Psikolog Jonathan Haidt berpendapat bahwa smartphone dan medsos menghancurkan kesehatan mental Gen Z. Argumen itu viral dan dipercaya banyak orang. Tapi penelitian Candice Odgers di jurnal Nature (2019) menemukan hal berbeda: hubungan antara media sosial dan kesehatan mental jauh lebih kecil dari yang dikira — bahkan tidak signifikan untuk banyak kelompok.
Yang Sebenarnya Bermasalah
Yang lebih berbahaya bukan medsos-nya. Yang berbahaya adalah kita tidak diajarkan cara mengolah informasi yang terus mengalir tanpa henti.
Sekolah mengajarkan hafalan, bukan literasi emosional. Orang tua mengajarkan taat, bukan cara duduk dengan ketidakpastian. Kita diberi akses ke semua masalah dunia — tapi tidak diberi alat untuk menghadapinya.
Ini bukan salah Gen Z. Ini adalah kegagalan institusi yang lamban merespons perubahan zaman.
Sadar Itu Modal, Bukan Beban
Kesadaran adalah titik awal perubahan. Aktivisme iklim yang meledak pasca-2018, gerakan mental health awareness, tuntutan transparansi korporasi — semua itu lahir dari generasi yang tidak mau pura-pura tidak tahu.
Kita tidak lebih lemah dari generasi sebelumnya. Kita hanya memilih untuk tidak berbohong pada diri sendiri. Dan itu membutuhkan keberanian yang jarang diakui.
Generasi yang "baik-baik saja" di masa lalu bukan generasi yang lebih sehat. Mereka generasi yang lebih berhasil menekan — dan banyak dari mereka menanggung itu diam-diam sampai akhir hayat.
Pertanyaannya bukan bagaimana kita berhenti cemas. Pertanyaannya adalah: bagaimana kita mengubah kesadaran yang berat ini menjadi sesuatu yang berguna? Dan apakah kita akan terus membiarkan narasi "Gen Z rapuh" menutupi kenyataan bahwa kita mungkin generasi paling jujur yang pernah ada?
