Nalarmerdeka.com – Sebanyak puluhan mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Tematik (KKN-T) Universitas Al-Qolam Malang resmi diserahterimakan kepada Pemerintah Desa Pondok Agung, Kecamatan Kasembon, Kabupaten Malang, pada Jumat, 8 Mei 2026. Mengusung semangat kolaborasi dengan Nahdlatul Ulama, kehadiran mahasiswa ini diharapkan membawa kontribusi nyata bagi masyarakat melalui berbagai program pengabdian yang berakar pada nilai-nilai Aswaja an-Nahdliyah.
Serah Terima sebagai Pintu Masuk Pengabdian
Prosesi serah terima berlangsung khidmat dan penuh kehangatan. Hadir dalam acara tersebut perangkat desa, tokoh masyarakat, pengurus Nahdlatul Ulama setempat, serta Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) yang mendampingi seluruh peserta KKN-T. Momen ini menandai dimulainya masa pengabdian mahasiswa di tengah komunitas warga Pondok Agung—sebuah desa yang kini menjadi ruang belajar sekaligus ruang kerja bagi para mahasiswa.
Kegiatan serah terima bukan sekadar formalitas administratif. Ia menjadi simbol komitmen institusi akademis untuk hadir secara langsung di tengah masyarakat, melampaui tembok kampus dan ruang-ruang kelas.
Kolaborasi dengan NU: Desa yang Maslahah dan Mandiri
Yang membedakan KKN-T tahun ini dari penyelenggaraan sebelumnya adalah konsep kolaborasi kelembagaan yang dijalin secara resmi bersama Nahdlatul Ulama. Melalui kemitraan ini, mahasiswa tidak bekerja sendiri, melainkan bersinergi dengan warga Nahdliyin dalam merancang dan menjalankan program-program yang relevan dengan kebutuhan desa.
Tujuan kolaborasi ini cukup ambisius: membangun desa yang maslahah, mandiri, dan berdaya. Framing tersebut mencerminkan orientasi yang tidak semata-mata teknokratis, melainkan juga berakar pada perspektif keislaman—sesuatu yang relevan mengingat karakter sosial-keagamaan masyarakat Kasembon.
Pesan DPL: Mengabdi Tanpa Menggurui
Dalam sambutannya, DPL menekankan tiga prinsip yang harus dijaga mahasiswa selama masa pengabdian: ketulusan niat, penjagaan nama baik almamater, dan sikap tawadu' dalam berinteraksi dengan masyarakat. Mahasiswa diminta untuk belajar bersama warga, bukan datang sebagai pihak yang merasa lebih tahu.
"Mahasiswa harus mampu berbaur dengan masyarakat, belajar dari masyarakat, dan menjaga sikap selama berada di desa," demikian pesan yang disampaikan DPL di hadapan peserta dan tamu undangan.
Pesan ini penting dicatat: dalam banyak program KKN di berbagai kampus, ketimpangan relasi antara mahasiswa dan masyarakat kerap menjadi masalah laten. Mahasiswa datang dengan agenda program yang sudah disusun dari atas, tanpa benar-benar mendengar apa yang dibutuhkan warga. Model pengabdian partisipatif yang ditegaskan DPL Al-Qolam menjadi antitesis dari kecenderungan itu.
Program Lintas Sektor untuk Desa
Selama masa KKN berlangsung, mahasiswa akan menjalankan program di lima bidang: pendidikan, sosial, keagamaan, lingkungan, dan pemberdayaan masyarakat. Seluruh program dirancang untuk menyesuaikan diri dengan potensi dan kebutuhan riil Desa Pondok Agung—bukan sekadar daftar kegiatan yang dipaksakan dari luar.
Pemerintah desa menyambut kehadiran mahasiswa dengan harapan besar: bahwa keberadaan mereka tidak hanya menghasilkan laporan akademis, tetapi juga semangat baru yang terasa hingga ke tingkat masyarakat paling bawah.
KKN-T Universitas Al-Qolam Malang di Desa Pondok Agung menawarkan sebuah model pengabdian yang patut diperhatikan: ketika kampus tidak hanya mengirim mahasiswa, tetapi juga membangun jembatan kelembagaan dengan organisasi kemasyarakatan yang telah lama berakar di desa.
Kolaborasi dengan NU bukan ornamen—ia bisa menjadi fondasi agar program-program mahasiswa benar-benar menyentuh kehidupan nyata warga, bukan sekadar mengejar penilaian akademis. Pertanyaannya kini: sejauh mana komitmen ini akan terjaga hingga penarikan tiba?
Sumber: Rilis KKN-T Universitas Al-Qolam Malang Desa Pondok Agung 2026
Redaktur: Muhammad Jazuli
