Jangan Keliru: Mencoblos Bukan Berarti Berdemokrasi

 

Nalarmerdeka.com – Setiap kali musim pemilu usai, kita kerap mendengar klaim yang sama: demokrasi kita berjalan, rakyat telah memilih, sistem berfungsi. Tapi ada yang selalu luput dari perayaan itu — pertanyaan apakah memilih, tanpa lebih dari itu, benar-benar cukup untuk menyebut sebuah negara demokratis.

Prosedur Bukan Substansi

Ilmuwan politik Larry Diamond pernah membedakan antara electoral democracy dan liberal democracy. Yang pertama hanya mensyaratkan pemilu yang kompetitif dan jujur. Yang kedua menuntut lebih: kebebasan sipil yang terjaga, supremasi hukum yang berfungsi, lembaga negara yang tidak tunduk pada satu kekuatan, dan ruang publik yang benar-benar bebas.

Indonesia, sejak reformasi 1998, relatif berhasil membangun yang pertama. Pemilu digelar tepat waktu, peserta beragam, hasil diterima — setidaknya secara formal. Tapi apakah kita sudah sampai pada yang kedua? Di sinilah jawabannya mulai terasa tidak meyakinkan.

Ketika lembaga-lembaga pengawas melemah bukan karena serangan frontal tapi karena erosi bertahap — lewat revisi undang-undang yang senyap, pengisian jabatan yang politis, atau pembiaran terhadap pelanggaran — maka demokrasi prosedural bisa berjalan mulus sambil demokrasi substantif perlahan terkikis.

Partisipasi yang Dangkal

Masalah lain yang jarang dibahas adalah kualitas partisipasi itu sendiri. Tingkat pemilih yang tinggi sering dijadikan indikator kesehatan demokrasi. Padahal angka kehadiran di bilik suara tidak otomatis mencerminkan pemilih yang terinformasi, kritis, dan bebas dari tekanan.

Di banyak daerah, praktik politik uang masih menjadi penentu pilihan yang lebih nyata ketimbang visi kandidat. Identitas primordial — suku, agama, kedaerahan — kerap dieksploitasi bukan untuk memperkaya diskursus publik, melainkan untuk memobilisasi massa tanpa substansi. Hasilnya: pemilu ramai, tapi deliberasi publik yang sesungguhnya nyaris absen.

Demokrasi yang sehat seharusnya bukan hanya soal siapa yang dipilih, tapi bagaimana proses memilih itu berlangsung — apakah warga betul-betul terlibat sebagai subjek yang berpikir, bukan sekadar objek yang dimobilisasi.

Krisis Kepercayaan pada Institusi

Survei demi survei menunjukkan tren yang mengkhawatirkan: kepercayaan publik terhadap partai politik, parlemen, bahkan lembaga peradilan, terus berada di titik rendah. Paradoksnya, sistem yang secara prosedural berfungsi justru menghasilkan warga yang apatis dan sinistis terhadap politik.

Ini bukan semata soal figur atau kebijakan tertentu. Ini soal bagaimana institusi demokrasi gagal membuktikan diri sebagai ruang yang relevan bagi kehidupan nyata warga. Ketika korupsi terus terjadi, ketika suara rakyat terasa tidak bersambung dengan keputusan di gedung parlemen, kepercayaan itu sulit dibangun kembali hanya dengan menyelenggarakan pemilu yang tertib.

Melampaui Kotak Suara

Demokrasi yang dewasa membutuhkan ekosistem yang lebih luas dari sekadar mekanisme elektoral. Ia membutuhkan masyarakat sipil yang kuat dan independen, pers yang tidak bergantung pada kepentingan pemilik modal atau kekuasaan, sistem pendidikan yang mengajarkan berpikir kritis bukan sekadar kepatuhan, dan budaya politik yang menghargai perbedaan pendapat sebagai sesuatu yang konstruktif.

Tanpa ekosistem itu, pemilu hanya akan menjadi ritual lima tahunan yang ramai tapi tidak mengubah banyak hal. Kotak suara adalah pintu masuk demokrasi — bukan tujuan akhirnya.

Demokrasi bukan sesuatu yang selesai dibangun lalu tinggal dirawat secara rutin. Ia adalah proyek yang terus-menerus dipertaruhkan, ditantang, dan harus diperjuangkan ulang oleh setiap generasi. Pertanyaannya bukan lagi apakah kita sudah berdemokrasi — melainkan demokrasi macam apa yang sedang kita bangun, dan untuk siapa.

Penulis: Muhammad Jazuli 

Baca Juga
Tag:
Berita Terbaru
  • Jangan Keliru: Mencoblos Bukan Berarti Berdemokrasi
  • Jangan Keliru: Mencoblos Bukan Berarti Berdemokrasi
  • Jangan Keliru: Mencoblos Bukan Berarti Berdemokrasi
  • Jangan Keliru: Mencoblos Bukan Berarti Berdemokrasi
  • Jangan Keliru: Mencoblos Bukan Berarti Berdemokrasi
  • Jangan Keliru: Mencoblos Bukan Berarti Berdemokrasi
Posting Komentar