![]() |
| Dok. Istimewa |
Nalarmerdeka.com – Nama "Yakuza" lazimnya membangkitkan bayangan sindikat kriminal Jepang dengan tato penuh dan kesetiaan darah. Tapi di Kediri, nama itu kini disandang sebuah komunitas dakwah yang justru berambisi merangkul mereka yang paling jauh dari masjid. Yakuza Maneges dideklarasikan di bawah pimpinan Gus Thuba, tokoh muda yang berakar pada spiritualitas pesantren, dengan semangat inklusif yang terinspirasi dari ulama kharismatik Kediri, Gus Miek. Fenomena ini patut dikaji, bukan sekadar dipuji atau dikecam.
Siapa Gus Thuba dan dari Mana Ia Mewarisi Gagasan Ini?
Gus Thuba, yang bernama lengkap Thuba Topo Broto Maneges, mengaku terinspirasi kuat dari teladan Gus Miek. Ia mewarisi cara pandang bahwa orang-orang yang dianggap "nakal", "preman", atau "terbuang" justru menjadi ladang dakwah yang sesungguhnya — bukan untuk dihakimi, melainkan dirangkul dan diberdayakan.
Gus Thuba adalah cucu dari ulama kharismatik KH Hamim Djazuli atau Gus Miek. Hubungan ini bukan sekadar genealogi biologis, melainkan juga genealogi ideologis. Gus Miek sendiri dikenal bukan sebagai kiai konvensional. Ia justru dekat dengan kaum preman, seniman jalanan, hingga masyarakat marginal, dan mendirikan Jamaah Al-Khidmah serta Jamuro sebagai gerakan zikir dan selawat yang menjangkau kalangan yang jauh dari masjid. Dari sana, Gus Thuba membangun metodologinya sendiri: turun langsung ke lapangan, menjangkau yang tak terjangkau.
Yang perlu dicatat: inspirasi dari tradisi pesantren bukan jaminan bahwa sebuah organisasi baru akan berhasil melanjutkan warisan itu secara konsisten. Antara niat pendiri dan kelembagaan yang berjalan, selalu ada celah yang harus diisi dengan kerja nyata.
Apa Makna "Yakuza" dan "Maneges" dalam Bingkai Ini?
Pemilihan nama ini adalah keputusan politis yang disengaja. Gus Thuba menegaskan bahwa kata "Yakuza" dalam komunitasnya dimaknai sebagai "Yang Awalnya Kotor, Ujungnya Zuhud Abadi." Ini bukan sekadar akronim — ini adalah pernyataan teologis tentang kemungkinan tobat dan transformasi diri.
Sementara kata "Maneges" dalam bahasa Jawa berarti jernih atau bening, menggambarkan jiwa yang tampak keras di luar namun jernih di dalam. Gabungan keduanya membentuk paradoks yang produktif: nama yang menakutkan, tetapi berisi cita-cita spiritualitas yang tinggi.
Ideologi komunitas ini berdiri di atas tiga pilar, yakni inklusivitas, spiritualitas jalanan, dan solidaritas akar rumput. Ketiga pilar ini relevan secara konseptual, namun akan bermakna hanya jika dioperasionalkan dalam program yang terukur — bukan sekadar retorika deklarasi.
Bagaimana Respons Negara dan Apa Implikasinya?
Wali Kota Kediri Vinanda Prameswati menghadiri deklarasi yang digelar di Bukit Daun Hotel and Resort pada 9 Mei 2026, dan menyatakan bahwa Yakuza Maneges membawa semangat dakwah: dari yang awalnya dianggap kotor menuju zuhud abadi.
Turut hadir dalam deklarasi tersebut Ketua Yakuza Maneges Polri AKBP Edy Herwiyanto, Asisten Pemerintahan dan Kesra Syamsul Bahri, serta Kepala Disbudparpora. Kehadiran aparat negara di sini bukan hal sepele. Ini menandakan bahwa Yakuza Maneges tidak diposisikan sebagai gerakan oposisi kultural, melainkan sebagai mitra pemerintah dalam menangani kelompok-kelompok yang selama ini luput dari jangkauan program resmi.
Namun justru di sini muncul pertanyaan kritis: apakah kedekatan dengan negara akan memperkuat otonomi dakwah jalanan ini, ataukah malah menjinakkannya? Gerakan-gerakan serupa dalam sejarah Indonesia sering kali kehilangan taringnya ketika terlalu nyaman bersandar pada legitimasi pemerintah.
Visi, Misi, dan Tegangan yang Belum Terjawab
Gus Thuba menyatakan visi Yakuza Maneges adalah "penjaga yang lemah, pembela yang benar, pembenah yang salah" — termasuk mengawal dan menindak kasus di tengah masyarakat, pejabat, bahkan ulama yang melenceng.
Pernyataan ini ambisius dan penuh tegangan internal. Mengklaim diri sebagai "pembenah yang salah" terhadap ulama sekalipun adalah posisi yang berani — dan berpotensi konflik jika tanpa tata kelola yang jelas. Organisasi ini mengusung moto: kesatria, militan, profesional, intelektual, diam, senyap, eksekusi, dan tanggung jawab, serta slogan "Gas Tanpa Ampun" sebagai semangat menjalankan misi. Retorika semacam ini perlu diimbangi dengan mekanisme akuntabilitas internal yang transparan.
Gus Thuba menegaskan bahwa Yakuza Maneges bukan organisasi yang berseberangan dengan negara, melainkan hadir untuk mendukung dan berjalan bersama aparat penegak hukum. Komitmen ini penting, namun harus diuji dalam praktik — khususnya ketika kepentingan komunitas marginal yang mereka bela berbenturan dengan kebijakan pemerintah.
Yakuza Maneges adalah cermin dari persoalan yang lebih dalam: bahwa dakwah konvensional kerap gagal menjangkau mereka yang paling membutuhkan. Warisan Gus Miek yang dihidupkan kembali oleh Gus Thuba adalah pengingat bahwa Islam Indonesia pernah — dan masih bisa — bergerak dari pinggiran. Pertanyaannya bukan apakah nama "Yakuza" pantas atau tidak. Pertanyaannya adalah apakah semangat di balik nama itu cukup kuat untuk bertahan melampaui euforia deklarasi, dan apakah kelembagaan yang dibangun cukup matang untuk mengawal transformasi yang dijanjikan.
Penulis: Muhammad Jazuli
*REFERENSI
1. detikJatim. (12 Mei 2026). Bukan Mafia Jepang, Apa Itu Organisasi Yakuza Maneges di Kediri? detik.com
2. CNN Indonesia. (11 Mei 2026). Gus dan Tokoh Kediri Deklarasikan Organisasi Yakuza Maneges, Apa Itu? cnnindonesia.com
3. Kumparan. (14 Mei 2026). Heboh Deklarasi Yakuza Maneges Kediri, Usung Dakwah Santri Jalur Kiri. kumparan.com
4. Ketik.com. (11 Mei 2026). Mengenal Yakuza Maneges Kediri, Jalan Dakwah Nyentrik ala Gus Thuba Cucu Gus Miek. ketik.com
5. Beritasatu. (13 Mei 2026). Yakuza Maneges Dideklarasikan Gus dan Tokoh Kediri, Apa Tujuannya? beritasatu.com
