![]() |
| Ilustrasi perbandingan Abu Rayhan Al-Biruni dan Isaac Newton, dua ilmuwan besar yang berkontribusi dalam perkembangan ilmu pengetahuan lintas zaman. / Muhammad Jazuli / Nalar Merdeka |
Nalarnerdeka.com – Pada abad ke-11, seorang ilmuwan dari Khwarazm — wilayah yang kini masuk Uzbekistan — menghitung keliling bumi dengan tingkat akurasi yang baru bisa diverifikasi oleh teknologi modern. Ia menulis tentang kemungkinan bumi berputar pada porosnya sebelum Copernicus lahir. Ia mendokumentasikan budaya India dengan metodologi yang kini kita sebut antropologi. Namanya Abu Rayhan Al-Biruni — dan hampir tidak ada yang mengenalnya.
Lahir di Pinggiran, Berpikir Melampaui Zamannya
Al-Biruni lahir pada 973 M di Kath, ibu kota Khwarazm. Ia tumbuh di era Keemasan Islam — periode ketika Baghdad, Bukhara, dan Samarkand menjadi pusat ilmu pengetahuan dunia. Tapi berbeda dari banyak ilmuwan zamannya yang terpusat di istana-istana besar, Al-Biruni adalah pengembara intelektual yang tidak pernah berhenti bergerak.
Ia menulis dalam bahasa Arab dan Persia, membaca bahasa Sanskerta, Yunani, dan Suriah. Bukan untuk pamer — tapi karena ia percaya bahwa kebenaran ilmiah tidak mengenal batas bahasa atau peradaban. Prinsip ini yang membuat karyanya luar biasa lintas disiplin: matematika, astronomi, fisika, geografi, farmakologi, hingga apa yang kini kita sebut antropologi budaya.
Tiga Pencapaian yang Terlalu Sering Diabaikan
Menghitung Keliling Bumi dengan Trigonometri
Salah satu pencapaian Al-Biruni yang paling menakjubkan adalah menghitung keliling bumi hanya dengan menggunakan pengukuran sudut dari puncak sebuah bukit di India dan persamaan trigonometri. Hasilnya: sekitar 40.234 kilometer.
Nilai yang diterima sains modern adalah 40.075 kilometer. Selisihnya kurang dari 0,2 persen — tanpa satelit, tanpa komputer, tanpa peralatan modern apapun.
Metode ini ia kembangkan sendiri, dan baru direplikasi dan diverifikasi oleh ilmuwan Barat berabad-abad kemudian.
Mendahului Copernicus dalam Heliosentrisme
Dalam Kitab al-Qanun al-Masudi, Al-Biruni membahas kemungkinan bahwa bumi berputar pada porosnya sendiri dan bergerak mengelilingi matahari. Ia tidak menegaskannya sebagai kesimpulan final — tapi ia menyajikannya sebagai hipotesis yang secara matematis konsisten.
Nicolaus Copernicus baru lahir 468 tahun setelah Al-Biruni menulis ini. Dan tidak ada catatan yang membuktikan Copernicus membaca karya Al-Biruni — meski beberapa sejarawan sains mencurigai adanya transmisi pengetahuan melalui terjemahan Latin.
Antropologi Budaya Sebelum Ada Kata "Antropologi"
Ketika Sultan Mahmud dari Ghazni menaklukkan India dan membawa Al-Biruni serta, kebanyakan orang di posisinya akan menulis catatan kemenangan sang sultan. Al-Biruni justru menghabiskan 13 tahun mempelajari bahasa Sanskerta dan mendokumentasikan budaya, agama, filsafat, dan ilmu pengetahuan India secara sistematis dan — luar biasa untuk zamannya — tanpa bias superioritas.
Karyanya Kitab fi Tahqiq ma lil-Hind (Buku tentang India) adalah salah satu contoh paling awal dari apa yang kini kita sebut etnografi: studi budaya yang berusaha memahami dari dalam, bukan menghakimi dari luar.
Kenapa Kita Tidak Mengenalnya?
Alasannya serupa dengan Ibn Khaldun: dominasi narasi Eurosentris dalam sejarah sains, keterlambatan penerjemahan, dan minimnya integrasi kontribusi ilmuwan non-Barat dalam kurikulum global.
Tapi ada faktor lain yang lebih halus: Al-Biruni tidak punya "momen dramatis" yang mudah dijadikan cerita. Newton punya apel. Darwin punya Kepulauan Galapagos. Al-Biruni punya ribuan halaman manuskrip dalam bahasa Arab yang baru diterjemahkan secara serius pada abad ke-20.
Sejarah sains, seperti semua sejarah, lebih mudah mengingat narasi yang sederhana dan dramatis. Al-Biruni terlalu kompleks, terlalu lintas disiplin, dan terlalu jauh dari pusat narasi yang sudah terbentuk.
Relevansi untuk Hari Ini
Di era di mana batas disiplin ilmu semakin cair — di mana data scientist perlu paham sosiologi, dokter perlu paham antropologi, ekonom perlu paham psikologi — Al-Biruni adalah model yang sangat relevan.
Ia tidak pernah membatasi dirinya pada satu disiplin. Ia mengikuti pertanyaan ke mana pun pertanyaan itu membawanya. Dan ia melakukannya dengan standar empiris yang ketat — selalu kembali ke observasi, pengukuran, dan verifikasi.
Bukan kebetulan bahwa NASA menamai sebuah kawah di bulan dengan namanya. Sayang sekali, nama itu lebih dikenal di sana daripada di buku teks sekolah kita.
Kalau Al-Biruni sudah menghitung keliling bumi dengan akurasi 99,8 persen pada abad ke-11 — apa lagi yang sudah dicapai peradaban non-Barat yang tidak pernah masuk ke dalam narasi "sejarah ilmu pengetahuan dunia"? Dan siapa yang untung dari narasi yang tidak lengkap itu?
Penulis: Muhammad Jazuli
