Nalarmerdeka.com – Pernahkah kamu merasa aneh sendirian — padahal kamu yang benar?
Ada fenomena yang oleh George Samuel disebut adaptasi sosial: kecenderungan manusia untuk mengikuti arus yang dianggap benar oleh mayoritas di sekitarnya. Bukan karena mereka telah memverifikasi kebenarannya, tapi semata karena semua orang melakukannya.
Ketika Mayoritas Menjadi Otoritas
Manusia, secara emosional maupun rasional, punya kecenderungan mengorbankan identitas diri demi selaras dengan kerumunan. Yang ironis: tanpa disadari, di momen yang sama ia sedang menjadi tawanan dari kesadarannya sendiri. Hasilnya? Kepribadian yang retak — atau lebih buruk, tidak punya kepribadian sama sekali.
Mantra Kolektif yang Tidak Pernah Dipertanyakan
Adagium seperti "umumnya begini," "kaprahnya begitu," "hidup wajar saja" bukan sekadar ungkapan. Ia adalah mantra yang mengkristal dalam keseharian. Alam bawah sadar kita tidak memberontak terhadap "tradisi umum" itu — justru permisif, bahkan mengamini. Maka jadilah ia kebenaran kolektif: sesuatu yang diulang-ulang hingga tidak ada yang berani mempersoalkan asal-usulnya.
Sunyi Itu Dicurigai, Ramai Itu Dibenarkan
Konsekuensinya keras: siapa yang tidak ikut arus, dianggap menyimpang. Tidak ada ruang untuk jalur sunyi. Yang penting umum, kaprah, dan mayoritas — seolah jumlah adalah jaminan kebenaran.
Padahal di sinilah paradoks paling telanjang dari kehidupan sosial kita bekerja: benar bukan lagi soal fakta, melainkan soal kesepakatan. Kesalahan-kesalahan yang cukup sering dilakukan bersama, pada akhirnya, naik pangkat menjadi kebenaran.
Lalu pertanyaannya: kalau mayoritas bisa salah — siapa yang berani jadi minoritas yang benar?
Penulis: Abdul Majid Tamum
Redaktur: Muhammad Jazuli
