Nalarmerdeka.com – Ada ukuran yang tidak biasa untuk menilai seberapa penting sebuah buku: seberapa keras penguasa berusaha memastikan kamu tidak membacanya. Dengan ukuran itu, Bumi Manusia adalah salah satu buku terpenting yang pernah ditulis dalam bahasa Indonesia.
Ia dilarang selama hampir dua dekade. Penulisnya dipenjara tanpa pengadilan selama empat belas tahun. Dan ia tetap hidup — disalin tangan, dipinjamkan diam-diam, dibaca di tempat-tempat yang tidak seharusnya.
Lahir dari Penjara
Bumi Manusia tidak ditulis di meja kerja yang nyaman. Pramoedya Ananta Toer mulai menceritakan kisah ini secara lisan kepada sesama tahanan di Pulau Buru — pulau pembuangan di Maluku Timur tempat ribuan tahanan politik Orde Baru dikurung tanpa proses hukum yang jelas.
Ketika akhirnya diizinkan menulis, Pramoedya menuangkan kisah yang sudah ia ceritakan berulang kali itu ke atas kertas. Bumi Manusia terbit pertama kali pada 1980, menjadi buku pertama dari Tetralogi Buru yang akan mengikutinya.
Dua tahun kemudian, pada 1982, buku itu dilarang oleh Kejaksaan Agung atas alasan yang tidak pernah dijelaskan secara tuntas secara hukum. Larangan itu baru dicabut setelah Orde Baru runtuh.
Tentang Apa Sebenarnya Buku Ini?
Bumi Manusia berlatar akhir abad ke-19, masa kolonialisme Belanda di Jawa sedang berada di puncaknya. Ia mengikuti Minke — seorang pemuda Jawa yang bersekolah di HBS, sekolah Eropa elite, dan tumbuh dalam ketegangan antara dua dunia yang tidak pernah benar-benar menerimanya sepenuhnya.
Di satu sisi, dunia Eropa dengan ilmu pengetahuan, rasionalisme, dan janji-janji modernitas yang ia serap di sekolah. Di sisi lain, dunia feodal Jawa yang penuh hierarki dan ketundukan yang ia lahirkan.
Di tengah tegangan itu, ia bertemu Annelies dan ibunya, Nyai Ontosoroh — perempuan Jawa yang dijadikan gundik seorang pria Belanda, tapi tumbuh menjadi figur yang dalam banyak hal jauh lebih merdeka dan lebih kuat dari siapa pun di sekitarnya.
Nyai Ontosoroh: Karakter yang Mengubah Sastra Indonesia
Jika ada satu alasan mengapa Bumi Manusia bertahan melampaui zamannya, sebagian besar adalah karena Nyai Ontosoroh.
Ia adalah perempuan yang secara formal tidak memiliki status dalam sistem hukum kolonial — perempuan pribumi, gundik, tidak menikah secara sah menurut hukum Belanda. Tapi ia mengelola perusahaan, berpikir lebih jernih dari kebanyakan pria di sekitarnya, dan menghadapi ketidakadilan yang bertubi-tubi dengan keberanian yang tidak pernah berubah menjadi kepahitan.
Pramoedya menciptakan karakter perempuan yang jauh mendahului zamannya — dan dalam konteks sastra Indonesia yang sering menempatkan perempuan sebagai objek atau korban pasif, Nyai Ontosoroh adalah revolusi.
Kenapa Penguasa Takut?
Pertanyaan ini perlu dijawab dengan jujur: apa tepatnya yang membuat Orde Baru merasa perlu melarang novel berlatar abad ke-19?
Bumi Manusia berbicara tentang kolonialisme — tapi ia melakukannya dengan cara yang memaksa pembaca melihat mekanisme kekuasaan, bukan hanya wajah-wajahnya. Ia menunjukkan bagaimana sistem yang menindas bekerja bukan hanya melalui kekerasan, tapi melalui hukum, melalui birokrasi, melalui internalisasi rasa rendah diri pada yang ditindas.
Bagi rezim yang membangun legitimasinya di atas narasi "pembangunan" dan "ketertiban" — sambil menjalankan mekanisme penindasan yang tidak terlalu berbeda dari yang dikritik Pramoedya — novel ini adalah cermin yang tidak nyaman.
Lebih berbahaya lagi: Pramoedya menulis dengan indah. Kritik yang disampaikan dengan kecantikan sastra jauh lebih sulit dibungkam daripada pamflet politik.
Membacanya Hari Ini
Bumi Manusia diterbitkan ulang, diadaptasi menjadi film oleh Hanung Bramantyo pada 2019, dan hari ini bisa dibeli di toko buku mana pun. Larangannya sudah lama dicabut.
Tapi membacanya hari ini bukan sekadar mengejar ketertinggalan sejarah. Ia relevan karena pertanyaan-pertanyaan yang diajukannya — tentang identitas, tentang bagaimana kekuasaan bekerja melalui sistem hukum, tentang apa artinya menjadi manusia yang merdeka dalam sistem yang tidak dirancang untuk kemerdekaanmu — adalah pertanyaan yang belum selesai.
Novel yang paling ditakuti penguasa adalah novel yang membuat pembacanya bertanya tentang kekuasaan itu sendiri. Bumi Manusia melakukan itu dengan cara yang tidak bisa dibungkam — karena keindahannya membuat pertanyaan itu tidak terasa seperti ancaman, tapi seperti kebenaran yang sudah lama kamu rasakan tapi belum bisa kamu ucapkan.
Pertanyaannya: sistem apa hari ini yang bekerja persis seperti sistem kolonial dalam novel ini — menindas bukan melalui kekerasan terbuka, tapi melalui aturan yang tampak sah?
Penulis: Muhammad Jazuli
