Nalarmerdeka.com – Ada momen dalam sejarah Indonesia ketika mahasiswa benar-benar membuat penguasa takut. Bukan takut pura-pura — takut sungguhan, sampai merespons dengan cara yang hanya dilakukan oleh rezim yang merasa terancam: membungkam, menangkap, dan membakar.
Januari 1974. Jakarta. Lima belas orang tewas. Sebelas surat kabar dibredel. Dan gerakan mahasiswa Indonesia tidak pernah lagi sekuat itu — sampai 1998.
Apa Itu Malari?
Malari adalah akronim dari Malapetaka Lima Belas Januari — merujuk pada tanggal 15 Januari 1974, ketika demonstrasi mahasiswa yang awalnya damai berubah menjadi kerusuhan besar di Jakarta.
Pemicunya adalah kunjungan Perdana Menteri Jepang Kakuei Tanaka ke Indonesia. Tapi yang meledak bukan sekadar sentimen anti-Jepang. Yang meledak adalah akumulasi kemarahan terhadap model pembangunan Orde Baru yang dianggap hanya menguntungkan modal asing dan segelintir kroni penguasa.
Mahasiswa yang turun ke jalan membawa tuntutan yang sangat konkret: batasi investasi asing, bubarkan konglomerat Ali-Baba yang menjadi simbol KKN, dan bersihkan lingkaran dalam Soeharto — terutama asisten pribadi presiden yang kala itu menjadi simbol korupsi di puncak kekuasaan.
Konteks yang Perlu Dipahami
Untuk memahami mengapa Malari bisa meledak separah itu, kita perlu memahami konteks awal 1970-an Indonesia.
Orde Baru baru saja memasuki fase "pembangunan" yang intensif. Investasi asing — terutama dari Jepang — mengalir deras setelah Indonesia bergabung kembali dengan lembaga keuangan internasional. Pertumbuhan ekonomi memang terjadi, tapi distribusinya sangat tidak merata.
Di Jakarta, kontras antara kemewahan yang semakin mencolok di satu sisi dan kemiskinan perkotaan yang tidak kemana-mana di sisi lain semakin sulit diabaikan. Harga kebutuhan pokok naik. Kelas menengah kota yang baru terbentuk mulai memiliki ekspektasi yang tidak terpenuhi.
Mahasiswa, yang sejak 1966 merasa bahwa merekalah yang membantu Soeharto naik ke kekuasaan, mulai mempertanyakan ke mana arah "orde baru" yang mereka dukung itu sebenarnya.
Tiga Hari yang Mengubah Segalanya
Tanggal 14 Januari 1974, sehari sebelum kedatangan Tanaka, demonstrasi mahasiswa sudah dimulai. Mereka berkumpul di kampus-kampus, membawa spanduk, dan menyampaikan pernyataan.
Tanggal 15 Januari, ketika Tanaka mendarat di Bandara Halim, massa yang sudah menunggu mulai bergerak. Yang terjadi kemudian masih diperdebatkan sejarahnya — apakah kerusuhan itu murni spontan, atau ada provokasi yang disengaja untuk memberikan pembenaran bagi tindakan keras pemerintah, adalah pertanyaan yang sampai hari ini tidak terjawab dengan tuntas.
Yang pasti: kendaraan-kendaraan milik perusahaan Jepang dibakar, showroom Toyota dan Honda dihancurkan, pertokoan di kawasan Senen dijarah. Lima belas orang tewas, ratusan luka-luka, dan kerugian material yang sangat besar.
Respons Rezim: Bukan Evaluasi, Tapi Pembungkaman
Cara Soeharto merespons Malari mengungkapkan banyak hal tentang karakter Orde Baru.
Alih-alih membuka dialog atau mengevaluasi kebijakan yang menjadi akar ketidakpuasan, rezim langsung bergerak ke mode penumpasan. Tokoh-tokoh mahasiswa ditangkap — termasuk Hariman Siregar, ketua Dewan Mahasiswa UI yang menjadi salah satu wajah gerakan. Sebelas surat kabar dibredel dalam satu malam, termasuk Indonesia Raya yang dipimpin Mochtar Lubis, salah satu jurnalis paling berani Indonesia.
Doktrin "normalisasi kehidupan kampus" yang kemudian diimplementasikan melalui kebijakan NKK/BKK pada 1978 adalah warisan langsung dari Malari — upaya sistematis untuk mencabut mahasiswa dari politik dan mengurung mereka dalam batas-batas "akademis" yang aman bagi rezim.
Warisan yang Belum Selesai
Malari adalah bukti bahwa gerakan mahasiswa Indonesia pernah punya kapasitas untuk benar-benar mengancam kekuasaan — bukan hanya membuat kebisingan. Dan respons rezim terhadapnya membuktikan hal yang sama: kekuasaan yang merasa aman tidak perlu membungkam siapa pun.
Lima puluh tahun kemudian, tuntutan yang dibawa mahasiswa Malari — transparansi, pembatasan oligarki, keadilan distribusi ekonomi — belum sepenuhnya terjawab. Wajah dan mekanismenya berubah, tapi struktur dasarnya sangat familiar.
Malari bukan hanya sejarah tentang mahasiswa yang berani. Ia adalah sejarah tentang bagaimana kekuasaan merespons keberanian itu — dan bagaimana respons itu membentuk batas-batas yang masih kita rasakan hari ini.
Pertanyaannya: kalau mahasiswa 1974 berani mempertaruhkan kebebasannya untuk tuntutan yang belum selesai hingga kini, apa yang membuat kita hari ini merasa tuntutan yang sama tidak cukup mendesak untuk diperjuangkan?
Penulis: Muhammad Jazuli
