Neurosains Bilang Kamu Tidak Bebas — Ini Penjelasannya

Ilustrasi seseorang yang berada di antara determinisme dan kehendak bebas, dua pandangan utama dalam perdebatan filsafat tentang kebebasan manusia. / Foto: Muhammad Jazuli / Nalar Merdeka 

Nalarmerdeka.com – Pagi ini kamu memilih pakaian yang dipakai, makanan yang dimakan, dan konten yang ditonton. Semua terasa seperti pilihan bebas. Tapi bagaimana kalau semua keputusan itu — termasuk keputusan untuk membaca artikel ini — sudah ditentukan jauh sebelum kamu lahir? Pertanyaan tentang kebebasan kehendak adalah salah satu yang paling tua dalam filsafat, dan jawaban modernnya lebih menggelisahkan dari yang kita kira.

Dua Kubu Besar yang Sudah Bertarung Ribuan Tahun

Perdebatan tentang free will — kehendak bebas — pada dasarnya adalah pertarungan antara dua posisi besar.

Determinisme berpendapat bahwa setiap peristiwa, termasuk setiap keputusan manusia, adalah hasil dari rangkaian sebab-akibat yang tidak terputus sejak awal alam semesta. Jika kamu tahu posisi dan kecepatan setiap partikel di alam semesta pada satu titik waktu, kamu bisa — secara teoritis — memprediksi segalanya yang akan terjadi setelahnya. Termasuk apa yang akan kamu putuskan besok pagi.

Libertarianisme metafisik — bukan libertarianisme politik — berpendapat bahwa manusia memiliki kemampuan nyata untuk memilih di luar rangkaian sebab-akibat itu. Ada sesuatu dalam diri manusia — entah itu kesadaran, jiwa, atau kehendak — yang tidak sepenuhnya tunduk pada hukum fisika.

Di antara keduanya ada kompatibilisme: posisi yang berpendapat bahwa determinisme dan kebebasan bisa berdampingan — bahwa "bebas" hanya berarti tidak ada paksaan eksternal, bukan bebas dari kausalitas.

Apa Kata Neurosains?

Pada 1983, neurosaintis Benjamin Libet melakukan eksperimen yang mengguncang dunia filsafat. Ia meminta subjek untuk menekuk pergelangan tangan kapan pun mereka mau, sambil mencatat aktivitas otak mereka.

Hasilnya mengejutkan: aktivitas otak yang terkait dengan gerakan itu muncul sekitar 550 milidetik sebelum subjek merasa membuat keputusan untuk bergerak. Otak sudah "memutuskan" sebelum kesadaran kita menyadarinya.

Interpretasi yang paling provokatif: kesadaran kita bukan pengambil keputusan — melainkan narator yang menciptakan cerita bahwa kita yang memutuskan, padahal keputusan sudah terjadi di bawah level kesadaran.

Eksperimen Libet banyak dikritik dan diperhalus oleh penelitian selanjutnya. Tapi pertanyaan yang ia buka tidak pernah benar-benar tertutup.

Mengapa Pertanyaan Ini Penting Secara Praktis

Ini bukan hanya perdebatan akademik. Jawaban atas pertanyaan ini punya implikasi besar.

Sistem hukum dibangun di atas asumsi bahwa manusia bisa memilih — bahwa pelaku kejahatan bertanggung jawab atas tindakannya karena mereka bisa memilih berbeda. Jika determinisme benar, konsep "kesalahan" dan "hukuman" perlu dirancang ulang dari awal.

Kesehatan mental juga terpengaruh. Jika perilaku kita sebagian besar ditentukan oleh genetik, lingkungan, dan proses neural yang tidak kita sadari — maka "berusaha lebih keras" saja tidak cukup, dan stigma terhadap orang yang "tidak mau berubah" menjadi tidak adil.

Motivasi personal pun berubah. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa orang yang percaya pada determinisme cenderung berperilaku kurang etis dan kurang gigih — seolah keyakinan itu menjadi pembenaran untuk tidak berusaha.

Posisi yang Paling Jujur

Filsuf Daniel Dennett, salah satu pembela kompatibilisme paling vokal, berpendapat bahwa pertanyaan "apakah kita benar-benar bebas" adalah pertanyaan yang salah. Yang lebih penting adalah: jenis kebebasan apa yang relevan untuk kehidupan manusia?

Kebebasan dari paksaan eksternal — itu nyata dan bisa diperjuangkan. Kebebasan dari kausalitas fisika — itu mungkin ilusi. Dan mungkin kita tidak membutuhkan yang kedua untuk menjalani hidup yang bermakna.

Kalau keputusan-keputusanmu sudah ditentukan oleh kombinasi gen, pengalaman masa lalu, dan proses neural yang tidak kamu sadari — apakah itu membuat pilihanmu kurang bermakna? Atau justru membuatnya lebih berharga, karena semua itu adalah bagian dari dirimu yang paling dalam?

Penulis: Muhammad Jazuli 

Baca Juga
Tag:
Berita Terbaru
  • Neurosains Bilang Kamu Tidak Bebas — Ini Penjelasannya
  • Neurosains Bilang Kamu Tidak Bebas — Ini Penjelasannya
  • Neurosains Bilang Kamu Tidak Bebas — Ini Penjelasannya
  • Neurosains Bilang Kamu Tidak Bebas — Ini Penjelasannya
  • Neurosains Bilang Kamu Tidak Bebas — Ini Penjelasannya
  • Neurosains Bilang Kamu Tidak Bebas — Ini Penjelasannya
Posting Komentar
Tutup Iklan