![]() |
| Ilustrasi kehancuran Perpustakaan Alexandria, pengingat bahwa pengetahuan hanya bertahan jika ada yang menjaganya. / Ilustrasi: Muhammad Jazuli / Nalar Merdeka |
Nalarmerdeka.com – Bayangkan seluruh Wikipedia — semua artikel, semua referensi, semua koneksi antar topik — dibakar habis dalam semalam. Itulah skala kehilangan yang paling mendekati gambaran runtuhnya Perpustakaan Alexandria. Tapi kisah perpustakaan paling legendaris dalam sejarah ini jauh lebih kompleks dan lebih tragis dari sekadar "dibakar oleh Caesar" yang sering kita dengar.
Alexandria: Kota yang Dibangun untuk Ilmu
Alexandria bukan kota biasa. Ia dibangun oleh Alexander Agung pada 331 SM di pantai utara Mesir, dan sejak awal dirancang sebagai pusat peradaban dunia. Setelah kematian Alexander, penerusnya di Mesir — Dinasti Ptolemaik — menjadikan Alexandria sebagai proyek ambisius: membangun kota yang melampaui semua kota lain dalam hal pengetahuan dan budaya.
Ptolemy I mendirikan Mouseion — institusi riset yang menjadi cikal bakal universitas modern. Di dalamnya berdiri perpustakaan yang kemudian dikenal sebagai Perpustakaan Alexandria: koleksi gulungan papirus terbesar yang pernah ada.
Koleksi yang Tak Tertandingi
Pada puncaknya, Perpustakaan Alexandria diperkirakan menyimpan antara 400.000 hingga 700.000 gulungan papirus. Angka ini bukan sekadar statistik — ia mewakili hampir semua pengetahuan tertulis peradaban Mediterania, Timur Tengah, dan sebagian Asia.
Di sana tersimpan naskah-naskah Aristoteles yang asli, karya-karya Euclid tentang geometri, tulisan Hipokrates tentang kedokteran, puisi Sappho, drama-drama Yunani, dan ribuan teks lain yang namanya pun kita tidak tahu karena tidak ada satu kata pun yang tersisa.
Ptolemy III bahkan pernah memerintahkan semua kapal yang berlabuh di Alexandria untuk menyerahkan buku-buku mereka untuk disalin — pemilik mendapat salinan, perpustakaan menyimpan yang asli.
Siapa yang Membakarnya? Jawabannya Rumit
Narasi populer menyalahkan Julius Caesar yang membakar armada kapal di pelabuhan Alexandria pada 48 SM — apinya menyebar ke perpustakaan. Tapi sejarawan modern sepakat bahwa ini hanya satu dari beberapa kehancuran bertahap.
Dekrit Kaisar Theodosius pada 391 M yang melarang praktik pagan menghancurkan banyak institusi yang terhubung dengan perpustakaan. Penaklukan Arab pada 642 M sering dituduh tapi buktinya lemah dan diperdebatkan. Yang lebih mungkin adalah serangkaian pengurangan anggaran, konflik politik, dan pergeseran prioritas selama berabad-abad yang perlahan membunuh institusi itu.
Perpustakaan Alexandria tidak dibakar dalam satu malam epik. Ia mati karena diabaikan, dipolitisasi, dan kehilangan pelindung.
Apa yang Benar-Benar Kita Kehilangan?
Ini pertanyaan yang menyesakkan. Kita tahu beberapa hal: karya lengkap Aristoteles yang kita miliki hanya sekitar seperlima dari yang ia tulis. Drama-drama Sopokles yang tersisa hanya 7 dari perkiraan 123 yang ia tulis. Demikian pula Euripides, Aeschylus, dan puluhan penulis lain.
Yang tidak kita tahu bahkan lebih mengganggu. Mungkin ada teori sains yang bisa mengubah arah peradaban lebih cepat. Mungkin ada catatan sejarah yang bisa menjawab misteri-misteri yang masih kita perdebatkan. Mungkin ada karya sastra, filsafat, dan matematika yang kualitasnya melampaui apa yang selamat.
Kita tidak tahu — dan itulah tepatnya masalahnya.
Pelajaran yang Relevan Hari Ini
Di era digital, kita sering merasa pengetahuan sudah aman karena tersimpan di server. Tapi server bisa dimatikan. Platform bisa tutup. Kebijakan bisa berubah. Internet Archive pernah menghadapi gugatan hukum yang mengancam keberadaannya.
Alexandria mengajarkan bahwa pengetahuan tidak secara otomatis lestari hanya karena ia sudah dituliskan. Ia butuh institusi yang melindunginya, komunitas yang menghargainya, dan sistem politik yang tidak menjadikannya target.
Kita tidak bisa tahu apa yang hilang bersama Alexandria — dan mungkin itulah bagian paling menyakitkan dari kisah ini. Yang bisa kita lakukan adalah bertanya: pengetahuan apa yang sedang kita produksi hari ini yang layak dijaga, dan seberapa serius kita menjaganya?
Penulis: Muhammad Jazuli
