Nalarmerdeka.com – Antara 2022 dan 2024, gelombang PHK massal menghantam ekosistem startup Indonesia. Nama-nama yang pernah disebut sebagai masa depan ekonomi digital — satu per satu melakukan "efisiensi," merumahkan ratusan hingga ribuan karyawan, atau tutup sepenuhnya.
Publik terkejut. Padahal seharusnya tidak. Tanda-tandanya sudah lama ada — kita hanya terlalu sibuk merayakan unicorn untuk memperhatikannya.
Skala Masalahnya
Indonesia adalah salah satu ekosistem startup paling aktif di Asia Tenggara. Jumlah startup yang terdaftar mencapai ribuan, dengan beberapa di antaranya berhasil mencapai valuasi unicorn — Gojek, Tokopedia, Traveloka, Bukalapak, dan beberapa nama lain yang sering disebut sebagai bukti kebangkitan ekonomi digital Indonesia.
Tapi di bawah narasi sukses itu, tingkat kegagalan startup Indonesia sangat tinggi. Berbagai estimasi menunjukkan bahwa lebih dari 90 persen startup gagal dalam lima tahun pertama — angka yang sebenarnya tidak jauh berbeda dari rata-rata global, tapi terasa lebih menyakitkan karena begitu banyak harapan dan modal yang diinvestasikan.
Masalah Pertama: Bakar Uang sebagai Strategi Bisnis
Salah satu akar masalah paling mendasar adalah model bisnis yang bergantung pada "bakar uang" — mensubsidi pengguna dengan harga di bawah biaya produksi untuk mendapatkan pangsa pasar secepat mungkin, dengan asumsi bahwa skala akan datang sebelum modal habis.
Model ini bisa berhasil dalam kondisi tertentu — terutama ketika modal murah melimpah dan investor masih bersedia menunggu profitabilitas jangka panjang. Tapi ia sangat rapuh terhadap perubahan kondisi pasar modal global.
Ketika suku bunga naik secara global pada 2022-2023, biaya modal meningkat drastis dan investor menjadi jauh lebih konservatif. Startup yang seluruh modelnya bergantung pada aliran modal baru tiba-tiba menemukan diri mereka tanpa oksigen.
Masalah Kedua: Valuasi yang Tidak Berakar pada Fundamental
Ada euforia yang menguasai ekosistem startup Indonesia di era 2015-2021. Valuasi melonjak berdasarkan proyeksi pertumbuhan yang sering kali tidak realistis. Investor berlomba masuk karena takut ketinggalan — bukan karena analisis fundamental yang mendalam.
Ketika startup dengan valuasi ratusan juta dolar ternyata tidak bisa menghasilkan revenue yang sebanding, dan ketika pasar modal global mulai mensyaratkan jalur yang jelas menuju profitabilitas, banyak valuasi itu runtuh dengan cepat.
Ini bukan fenomena unik Indonesia — ini adalah koreksi global yang terjadi di seluruh ekosistem startup dunia. Tapi Indonesia merasakannya lebih keras karena proporsi startup yang belum profitable saat koreksi terjadi sangat tinggi.
Masalah Ketiga: Problem-Solution Fit yang Lemah
Di luar masalah modal, ada masalah yang lebih mendasar: banyak startup Indonesia dibangun bukan untuk memecahkan masalah nyata yang dirasakan pengguna — tapi untuk mengisi kategori bisnis yang sedang populer di ekosistem global.
Ketika fintech sedang hype, ratusan startup fintech bermunculan. Ketika edtech sedang populer pasca-pandemi, ekosistem edtech Indonesia meledak — lalu kolaps hampir bersamaan ketika sekolah kembali tatap muka.
Mengikuti tren global ke pasar lokal tanpa pemahaman mendalam tentang konteks dan kebutuhan spesifik pengguna Indonesia adalah resep kegagalan yang berulang — tapi tidak pernah cukup serius dibahas dalam narasi ekosistem startup yang cenderung merayakan founder muda visioner tanpa cukup mengkritisi landasannya.
Masalah Keempat: Ekosistem Talenta yang Belum Matang
Startup membutuhkan manusia — dan Indonesia menghadapi tantangan nyata dalam ekosistem talenta teknologinya.
Bukan berarti tidak ada talenta berbakat. Indonesia punya banyak engineer, desainer, dan product manager yang kompeten. Tapi gap antara kebutuhan startup yang tumbuh cepat dan ketersediaan talenta dengan pengalaman dan kematangan yang tepat masih lebar.
Akibatnya, startup yang tumbuh cepat sering melakukan rekrutmen massal dengan terburu-buru, membangun tim yang tidak kohesif, dan kemudian melakukan PHK massal ketika pertumbuhan melambat — siklus yang merusak kepercayaan dan moral di seluruh ekosistem.
Apakah Ekosistemnya Masih Bisa Diselamatkan?
Koreksi yang menyakitkan tidak otomatis berarti ekosistemnya mati. Dalam banyak kasus, koreksi adalah mekanisme sehat yang menyingkirkan model bisnis yang tidak berkelanjutan dan memaksa ekosistem untuk menjadi lebih matang.
Startup Indonesia yang bertahan dan tumbuh pasca-koreksi cenderung punya satu kesamaan: mereka membangun sesuatu yang benar-benar dibutuhkan, dengan ekonomi unit yang masuk akal, dan dengan pemahaman mendalam tentang konteks Indonesia yang tidak bisa di-copy-paste dari Silicon Valley.
Itu selalu menjadi fondasinya. Hanya saja, di era euforia, fondasi itu terlalu mudah diabaikan.
Startup yang mati bukan hanya kerugian investor — ia adalah mimpi yang kandas, tabungan yang habis, dan karier yang terputus bagi ribuan orang yang ikut membangunnya. Pertanyaannya: apa yang perlu berubah dalam cara kita membangun, mendanai, dan merayakan startup — agar episode yang sama tidak terus berulang?
Penulis: Muhammad Jazuli
