![]() |
Masjid Raya Singkawang dan Vihara Tri Dharma Bumi Raya sebagai simbol toleransi umat beragama di Kota Singkawang. / Foto: Tarjo Suryono / Wikimedia Commons (CC BY-SA 4.0). |
Indonesia merupakan negara multikultural yang memiliki keberagaman suku, budaya, bahasa, dan agama. Keberagaman tersebut di satu sisi menjadi kekayaan bangsa, namun di sisi lain berpotensi menimbulkan konflik sosial apabila tidak dikelola dengan baik. Salah satu faktor penting dalam menjaga keharmonisan masyarakat majemuk adalah komunikasi lintas budaya yang efektif.
Kota Singkawang, yang terletak di Provinsi Kalimantan Barat, sering dijadikan contoh kota dengan tingkat toleransi umat beragama yang tinggi. Masyarakat Singkawang terdiri atas berbagai etnis seperti Tionghoa, Melayu, Dayak, dan etnis lainnya, serta menganut agama Islam, Kristen, Katolik, Buddha, dan Konghucu. Keberagaman ini menuntut adanya pola komunikasi yang adaptif dan saling menghargai.
Dengan keberagaman budaya yang terdiri dari 3 etnis mayoritas yaitu etnis Dayak, Tionghoa dan Melayu. Kerukunan masyarakat Melayu dan Tionghoa di Kota Singkawang dapat dikategorikan dinamis dan harmonis. Gesekan di masyarakat yang terjadi tidak membuat hubungan diantara mereka khususnya etnis Melayu dan Tionghoa menjadi renggang dan berujung konflik. Perbedaan pun bukan menjadi alasan untuk bekerjasama, saling membantu dan bertoleransi.
Kota Singkawang Kalimantan Barat menempati posisi pertama kota paling toleransi di indonesia hal ini karena kehidupan harmonis masyarkatnya yang majemuk. Penduduknya mayoritas Tionghoa, Dayak dan Melayu, sehingga sering disingkat menjadi Tidayu, hidup berdampingan dengan rukun dan damai. Kota Singkawang merupakan tempat tinggal etnis Tionghoa terbesar di indonesia. Nama Singkawang sendiri berasal dari kota San Kew Jong, yang berarti kota di kaki gunung, tapi dekat dengan muara laut. Banyak julukan yang melekat di singkawang, mulai dari kota Amoi, kota Seribu Kelenteng, hingga Hong Kongnya Indonesia.
Kota singkawang juga tidak hanya menjadi pusat destinasi Cap Go Meh tetapi juga Masjid dan Wihara Berdampingan, Kerukunan Beragama, Patung Naga di Tengah Kota, Rumah Tionghoa Tertua, Kota Seribu Kelenteng, Desa Menjadi Kota, Tempat Wisata Alam, Pusat Kuliner. Salah satu wujud tingginya tingkat toleransi beragaman di Kota Singkawang adalah keberadaan Vihara Tri Dharma Bumi Raya yang dikenal dengan sebutan Pekong Tua yang konon telah berusia 200 tahun, yang berseberangan dengan Masjid Raya yang merupakan Masjid terbesar yang telah berdiri sejak tahun 1885 di Kota Amoy
Kota Singkawang memiliki karakteristik masyarakat yang plural dan multikultural. Interaksi antarumat beragama terjadi secara intens dalam kehidupan sehari-hari, baik dalam aktivitas sosial, ekonomi, maupun budaya. Tradisi lokal, perayaan keagamaan, dan kegiatan bersama menjadi ruang komunikasi yang memperkuat hubungan antarkelompok.
High-Context Culture dalam Kehidupan Masyarakat Singkawang
Sebagian besar masyarakat Singkawang menunjukkan ciri budaya konteks tinggi, terutama dalam menjaga keharmonisan sosial. Nilai kesopanan, penghormatan terhadap orang lain, serta penggunaan simbol dan isyarat nonverbal menjadi bagian penting dalam komunikasi. Sikap saling menghargai diwujudkan melalui tindakan nyata, seperti menjaga ketenangan saat perayaan keagamaan dan saling membantu dalam kegiatan sosial.
Low-Context Culture sebagai Penunjang Toleransi
Di sisi lain, praktik komunikasi konteks rendah juga ditemukan, terutama dalam forum resmi seperti musyawarah warga, kegiatan pemerintahan, dan dialog lintas agama. Komunikasi yang terbuka dan langsung digunakan untuk menyelesaikan permasalahan sosial serta mencegah kesalahpahaman. Perpaduan antara budaya konteks tinggi dan rendah ini menciptakan keseimbangan dalam interaksi sosial masyarakat Singkawang.
Komunikasi Lintas Budaya dan Toleransi Umat Beragama
Pemahaman terhadap perbedaan gaya komunikasi memungkinkan masyarakat Singkawang untuk bersikap lebih toleran. Kesadaran bahwa setiap kelompok memiliki cara berkomunikasi yang berbeda mendorong sikap saling menghormati dan menghindari prasangka. Dengan demikian, komunikasi lintas budaya berfungsi sebagai jembatan dalam menjaga toleransi umat beragama.
Berdasarkan pembahasan di atas, dapat disimpulkan bahwa komunikasi lintas budaya memiliki peran penting dalam menjaga toleransi umat beragama di Kota Singkawang. Teori Edward T. Hall tentang high-context culture dan low-context culture membantu memahami dinamika komunikasi masyarakat multikultural. Keberhasilan Singkawang dalam menjaga harmoni sosial tidak terlepas dari kemampuan masyarakatnya dalam menyesuaikan gaya komunikasi dan menjunjung tinggi nilai saling menghormati.
Penulis : Andri Saputra (mahasiswa universitas al-Qolam Malang)
