Nalarmerdeka.com – Setiap tahun, Hari Buruh Internasional hadir bersama satu kalimat yang terdengar mulia: tenaga kerja adalah tulang punggung ekonomi. Namun jika kita berpijak pada realitas yang ada di Pontianak, kalimat itu terasa seperti cermin yang memantulkan bayangan berbeda dari aslinya. Yang terlihat bukan kemakmuran, melainkan kerja keras tanpa kepastian yang terus dijalani hari demi hari.
Di pasar-pasar dan tepi jalan Pontianak, pedagang kecil memulai hari sebelum matahari benar-benar tinggi dan mengakhirinya jauh setelah sore berlalu. Mereka menjajakan gorengan, kopi, atau kebutuhan sehari-hari tanpa jam kerja yang pasti, tanpa penghasilan tetap, dan tanpa jaminan apa pun. Hari ini mungkin cukup, besok belum tentu. Mereka adalah bagian dari angkatan kerja, tetapi kerap tidak dianggap dalam sistem perlindungan yang ada.
Kondisi ini mencerminkan bentuk eksploitasi yang tidak selalu tampak secara kasar. Bukan melalui paksaan langsung, melainkan melalui keadaan yang memaksa seseorang terus bekerja tanpa kepastian. Kerja keras tidak selalu berbanding lurus dengan kesejahteraan. Usaha dikerahkan setiap hari, tetapi kehidupan tetap stagnan di tempat yang sama.
Matematika Pahit di Balik Setir Ojek Online
Fenomena serupa terlihat jelas pada pengemudi ojek online. Untuk perjalanan sejauh delapan hingga sepuluh kilometer, mereka menerima bayaran sekitar sepuluh hingga lima belas ribu rupiah. Sementara itu, harga bahan bakar saat ini berada di kisaran sepuluh ribu rupiah per liter. Secara kasar memang masih tersisa selisih, tetapi angka itu belum memperhitungkan perjalanan pulang tanpa penumpang, waktu tunggu antarpesanan, dan biaya perawatan kendaraan yang terus berjalan.
Hasil akhirnya, mereka bekerja sepanjang hari namun sering kali hanya mampu bertahan hidup, bukan hidup layak. Ini bukan soal kurang giat atau kurang bersemangat. Ini soal struktur yang membuat kerja keras tidak cukup untuk membawa seseorang keluar dari keterbatasan.
Lingkaran Keterbatasan yang Dimulai dari Pendidikan
Situasi ini tidak lahir dari pilihan bebas individu semata. Banyak dari mereka berada di posisi itu karena keterbatasan yang sudah hadir sejak lama, terutama dalam hal akses pendidikan. Tidak sedikit anak dari keluarga sederhana yang terpaksa berhenti sekolah karena kondisi ekonomi keluarga tidak memungkinkan. Akibatnya, mereka memasuki dunia kerja dengan pilihan yang sempit dan terpaksa menerima pekerjaan apa pun yang tersedia.
Inilah yang membuat persoalan ini sulit diputus hanya dengan pendekatan sektoral. Selama akses pendidikan belum merata, angkatan kerja yang masuk ke pasar akan terus didominasi oleh mereka yang tidak memiliki banyak pilihan.
Kebijakan yang Membuka Peluang, Tetapi Belum Menjamin Kelayakan
Di sisi lain, kebijakan pemerintah dalam ketenagakerjaan cenderung berpusat pada pertumbuhan ekonomi dan daya tarik investasi. Undang-Undang Cipta Kerja, misalnya, memang dirancang untuk membuka lebih banyak lapangan pekerjaan. Namun membuka peluang kerja tidak secara otomatis berarti menjamin kualitas pekerjaan yang layak dan memberikan kepastian hidup bagi pekerjanya.
Di sinilah pentingnya perlindungan ketenagakerjaan yang sesungguhnya. Perlindungan bukan konsep yang rumit. Ia adalah hal yang paling mendasar: memastikan setiap orang yang bekerja dapat menjalani hidup dengan aman dan bermartabat. Artinya ada jaminan kesehatan, kepastian penghasilan minimum, perlindungan bagi usaha kecil, serta akses pendidikan yang memadai bagi anak-anak mereka. Jika hal-hal mendasar ini belum terpenuhi, maka negara belum sepenuhnya hadir bagi masyarakat yang paling membutuhkan kehadirannya.
Menjelang May Day, refleksi yang perlu dilakukan bukan sekadar soal ada atau tidaknya pekerjaan, melainkan soal kualitas kehidupan para pekerja itu sendiri. Selama akses pendidikan masih terbatas dan pekerjaan yang tersedia tidak memberikan kepastian, yang terjadi bukan kemajuan, melainkan pengulangan masalah yang sama dari generasi ke generasi. May Day seharusnya menjadi momentum untuk mengubah arah, bukan sekadar seremoni tahunan yang berlalu tanpa bekas.
Penulis: Haidar Ali Yahya R.
Redaktur: Muhammad Jazuli
