![]() |
| Abdurrahman, Kabid Kemenag DEMA Universitas Al-Qolam Malang. Foto / Abdurrahman |
Nalarmerdeka.com – Di balik visi dan misi yang tertulis rapi di atas kertas, banyak perguruan tinggi Islam menyimpan sebuah paradoks diam-diam: mahasiswanya lulus ujian akademik, tetapi gagap membaca kitab sucinya sendiri. Di Universitas Al-Qolam Malang, gagasan tes membaca Al-Qur'an bagi mahasiswa baru hadir bukan sebagai rutinitas administratif, melainkan sebagai pertanyaan serius kepada seluruh civitas akademika — seberapa sungguh-sungguh kita menjalani identitas pesantren yang kita banggakan?
Ketika Identitas Hanya Berhenti di Papan Nama
Universitas Al-Qolam Malang membawa jargon "Kuliah Sak Ngajine" sebagai penanda khas yang membedakannya dari kampus umum lainnya. Namun sebuah jargon, sebagus apapun bunyinya, hanya bermakna jika ia memiliki padanan dalam praktik. Realitas di berbagai perguruan tinggi berbasis keislaman justru kerap memperlihatkan jurang antara identitas formal dan kondisi aktual.
Tidak sedikit mahasiswa yang mampu berdebat di ruang kelas, tetapi belum fasih membaca Al-Qur'an dengan tartil yang memadai. Kondisi ini bukan sekadar ironi — ini adalah sinyal bahwa sesuatu yang mendasar sedang luput dari perhatian.
Kampus berbasis pesantren semestinya tidak hanya menjadikan nilai-nilai Islam sebagai ornamen institusional. Ia harus hadir sebagai ruh yang mengalir dalam kebijakan, kurikulum, dan budaya akademik secara nyata. Ketika hal itu tidak terjadi, maka pertanyaan tentang relevansi identitas pesantren menjadi sangat sah untuk dilontarkan.
Tes sebagai Pemetaan, Bukan Penyaringan
Gagasan Kementerian Agama BEM Universitas Al-Qolam Malang untuk menyelenggarakan tes kemampuan membaca Al-Qur'an pada masa Penerimaan Mahasiswa Baru perlu dibaca dengan perspektif yang tepat. Program ini bukan alat untuk menyingkirkan mahasiswa yang dianggap kurang layak, melainkan instrumen awal untuk memahami kondisi riil kompetensi keagamaan mahasiswa sejak mereka masuk.
Dengan pemetaan yang jelas, kampus mendapatkan gambaran yang jujur tentang siapa saja yang perlu dibina lebih lanjut dan dengan pendekatan seperti apa. Ini adalah logika yang sehat: sebelum membangun, kita perlu tahu kondisi tanahnya. Tanpa pemetaan awal semacam ini, program pembinaan apapun berisiko berjalan tanpa sasaran yang terukur.
Pembinaan yang Bermartabat dan Terstruktur
Titik kritis dari program ini terletak bukan pada tesnya, melainkan pada apa yang terjadi setelahnya. Bagi mahasiswa yang belum memenuhi standar, tersedianya ruang pembinaan yang serius, adaptif, dan tidak menghakimi adalah syarat mutlak agar program ini tidak berubah menjadi beban psikologis.
UKM Hai'ah Adz-Dzikri memiliki kapasitas untuk mengambil peran tersebut sebagai wadah pembinaan intensif. Namun pendekatannya harus dirancang dengan cermat — bukan sekadar mengulang metode hafalan konvensional, tetapi mendorong mahasiswa untuk membangun motivasi dari dalam. Pembinaan yang efektif adalah yang membuat peserta merasa tumbuh, bukan terhukum.
Sertifikasi yang Terintegrasi dengan Sistem Akademik
Langkah strategis berikutnya adalah menjadikan sertifikat kelulusan tes sebagai salah satu syarat administratif untuk mengikuti Praktik Pengalaman Lapangan. Ini bukan sekadar apresiasi simbolik — ini adalah cara cerdas untuk mengintegrasikan kompetensi keagamaan ke dalam alur akademik secara resmi.
Ketika ada konsekuensi konkret yang melekat pada sebuah program, mahasiswa memiliki alasan nyata untuk mengambilnya dengan serius. Integrasi semacam ini juga mengirim pesan kelembagaan yang kuat: bahwa kemampuan membaca Al-Qur'an bukan bonus tambahan, melainkan bagian dari profil lulusan yang diharapkan kampus ini.
Momentum Refleksi bagi Seluruh Kampus
Lebih dari sekadar program teknis, inisiatif ini membuka ruang refleksi yang lebih luas. Apakah nilai-nilai keislaman yang selama ini dikampanyekan sudah benar-benar menjadi budaya akademik yang dirasakan sehari-hari? Apakah jargon "Kuliah Sak Ngajine" sudah punya bobot kehidupan di dalamnya, atau hanya tercetak indah di brosur penerimaan mahasiswa baru?
Pertanyaan-pertanyaan ini bukan bentuk pesimisme, melainkan bentuk kejujuran yang dibutuhkan institusi agar tidak terjebak dalam formalitas yang kehilangan substansinya.
Universitas Al-Qolam Malang berpeluang membuktikan bahwa identitas pesantren bukan sekadar narasi pemasaran, tetapi komitmen yang hidup dalam kebijakan dan budaya kampus. Jika program tes membaca Al-Qur'an ini dijalankan dengan konsistensi dan ketulusan, maka yang sedang dibangun bukan hanya kemampuan membaca, tetapi karakter lulusan yang utuh — cerdas secara intelektual, kuat secara spiritual, dan peka secara moral. Itulah cita-cita pendidikan yang sesungguhnya, dan ia dimulai dari langkah-langkah kecil yang diambil dengan kesungguhan.
Penulis: Abdurrahman ( Kabid Kemenag DEMA Universitas Al-Qolam Malang)
Redaktur: Muhammad Jazuli
