Nalarmerdeka.com – Kabupaten Malang, Aliansi Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) se-Kabupaten Malang menggelar konsolidasi besar sebagai langkah strategis dalam menyambut dan mengawal momentum Hari Buruh Internasional dan Hari Pendidikan Nasional. Kegiatan ini dihadiri oleh seluruh Ketua BEM serta perwakilan mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Kabupaten Malang, sebagai bentuk penguatan gerakan kolektif mahasiswa yang berpihak pada kepentingan rakyat.
Konsolidasi ini tidak sekadar menjadi forum diskusi, tetapi juga ruang penyatuan sikap dan arah gerakan mahasiswa dalam merespons berbagai persoalan ketimpangan yang masih terjadi, khususnya di sektor ketenagakerjaan dan pendidikan. Dua momentum nasional tersebut dinilai memiliki keterkaitan erat dan tidak dapat dipisahkan, karena menyangkut masa depan generasi muda sekaligus kondisi riil kehidupan masyarakat.
Koordinator Aliansi BEM Kabupaten Malang, Al Farisi, dalam pemantik awalnya menegaskan bahwa mahasiswa memiliki tanggung jawab historis dan moral untuk menjaga esensi perjuangan dalam kedua momentum tersebut.
“Mahasiswa memiliki tanggung jawab historis dan moral untuk terus menjaga serta mengawal momentum Hari Buruh Internasional dan Hari Pendidikan Nasional agar tidak tereduksi menjadi sekadar seremoni tahunan. Kedua momentum ini merupakan simbol perjuangan yang lahir dari realitas ketimpangan di satu sisi buruh yang memperjuangkan hak dan kesejahteraannya, di sisi lain pendidikan yang seharusnya menjadi alat pembebasan justru kerap terjebak dalam sistem yang belum sepenuhnya adil,” tegasnya.
Ia juga menyoroti posisi mahasiswa sebagai bagian dari kaum intelektual yang tidak boleh bersikap netral terhadap ketidakadilan sosial.
“Mahasiswa hari ini adalah representasi dari calon tenaga kerja di masa depan, sehingga isu ketenagakerjaan bukanlah hal yang jauh. Sementara itu, dunia pendidikan juga harus terus dikritisi agar tetap berpihak pada kepentingan rakyat, bukan sekadar menjadi alat reproduksi kepentingan pasar,” tambahnya.
Dalam sesi lanjutan, narasumber utama, M. Safiuddin Zuhri, memperkuat pandangan tersebut dengan menekankan peran strategis mahasiswa dalam menjaga arah bangsa.
“Mahasiswa memiliki tanggung jawab moral untuk merawat dan menjaga arah bangsa Indonesia. Ini bukan sekadar wacana, tetapi panggilan untuk berpihak pada kebenaran dan keadilan. Karena itu, mahasiswa tidak boleh diam. Diam berarti membiarkan ketimpangan terus terjadi,” ungkapnya.
Ia juga menegaskan bahwa mahasiswa harus hadir sebagai representasi suara rakyat.
“Mahasiswa harus selalu hadir sebagai suara bagi rakyat menyuarakan jeritan mereka yang terpinggirkan dan tidak terdengar. Ketika kebijakan melenceng dari kepentingan publik, mahasiswa wajib bersuara, mengkritik, dan mengawal,” lanjutnya.
Sebagai hasil dari konsolidasi tersebut, Aliansi BEM Kabupaten Malang menegaskan kepada pemerintah, antara lain:
1. Menjamin upah layak dan perlindungan kerja bagi seluruh buruh tanpa terkecuali;
2. Menolak segala bentuk eksploitasi tenaga kerja dan sistem kerja yang tidak manusiawi;
3. Mendorong pemerataan akses pendidikan yang berkualitas dan inklusif;
4. Menuntut peningkatan kesejahteraan tenaga pendidik tanpa memangdang bulu
5. Mengajak seluruh elemen masyarakat untuk membangun solidaritas perjuangan antara mahasiswa, buruh, dan rakyat.
Aliansi BEM Kabupaten Malang menegaskan bahwa momentum Hari Buruh Internasional dan Hari Pendidikan Nasional tidak boleh berhenti pada seremoni simbolik, melainkan harus menjadi ruang konsolidasi gerakan untuk mendorong perubahan nyata.
Dengan semangat kolektif ini, mahasiswa menyatakan komitmennya untuk terus berada di garis depan perjuangan rakyat, mengawal kebijakan publik, serta memastikan bahwa keadilan sosial benar-benar diwujudkan. Mahasiswa tidak akan diam dan akan terus menjadi suara yang lantang bagi mereka yang selama ini tidak didengar.
Sumber: Rilis Aliansi BEM Kabupaten Malang
Redaktur: Muhammad Jazuli
