Nalarmerdeka.com – Di tengah wajah keberagamaan yang kerap tampil keras, penuh klaim kebenaran, dan gemar menghakimi, buku Menjadi Hamba, Menjadi Manusia karya Fahruddin Faiz hadir sebagai ajakan untuk berhenti sejenak. Buku ini tidak berteriak, tidak pula merasa paling benar. Ia berbicara pelan, reflektif, dan justru karena itu terasa relevan dengan kegelisahan zaman.
Kehambaan sebagai Kesadaran, Bukan Kepatuhan Buta
Fahruddin Faiz mengajak pembaca meninjau ulang makna kehambaan. Menjadi hamba, baginya, bukan kepatuhan kaku yang mematikan nalar, melainkan kesadaran eksistensial. Dari kesadaran itulah lahir kemanusiaan yang matang: rendah hati, empatik, dan bertanggung jawab. Pertanyaannya sederhana namun mendasar: apa arti beriman jika kehadiran Tuhan tidak tercermin dalam cara kita memperlakukan manusia lain?
Pernikahan sebagai Ruang Etis Kehambaan
Salah satu tema yang diulas menarik adalah pernikahan. Dalam buku ini, menikah tidak diposisikan semata sebagai kewajiban agama atau pencapaian sosial. Pernikahan dibaca sebagai ruang etis, tempat iman diuji dalam keseharian. Relasi suami-istri menjadi cermin kehambaan: sejauh mana seseorang mampu menahan ego, berlaku adil, dan memanusiakan pasangannya.
Faiz menolak romantisasi pernikahan sebagai solusi atas semua persoalan hidup. Tanpa kedewasaan dan kesadaran moral, pernikahan justru berpotensi melahirkan ketidakadilan, bahkan kekerasan, yang kerap dibungkus dalih agama. Dalam konteks ini, kehambaan tidak cukup diikrarkan lewat akad atau ritual, tetapi mesti hadir dalam sikap dan tanggung jawab sehari-hari.
Ateisme Praktis dan Absennya Tuhan dalam Etika Sosial
Buku ini juga menghadirkan kritik tajam melalui konsep ateisme praktis. Bukan ateisme ideologis yang menolak Tuhan, melainkan sikap hidup yang membuat Tuhan absen dari praktik keseharian. Seseorang bisa rajin beribadah, tetapi dalam urusan sosial, ekonomi, dan kekuasaan bertindak seolah Tuhan tidak pernah ada.
Menurut Faiz, ateisme praktis justru subur di masyarakat yang tampak religius. Tuhan hadir dalam ritual, tetapi menghilang dalam etika. Agama direduksi menjadi rutinitas, kehilangan daya transformasinya. Kritik ini terasa relevan di tengah realitas sosial hari ini, ketika simbol keagamaan begitu dominan, namun empati dan keadilan sering kali absen.
Sibuk Menjadi Manusia, Tetap Sadar sebagai Hamba
Meski demikian, Menjadi Hamba, Menjadi Manusia tidak berhenti pada kritik. Fahruddin Faiz menegaskan bahwa menjadi manusia yang sibuk dengan urusan duniawi tidak berarti menanggalkan identitas sebagai hamba. Manusia boleh bekerja keras, mengejar karier, membangun keluarga, dan merawat mimpi-mimpi duniawinya, tetapi semua itu tidak boleh memutus kesadaran akan kewajiban kepada Tuhan.
Ibadah sebagai Penopang Makna, Bukan Beban Kehidupan
Shalat, puasa, zakat, dan ibadah lainnya diposisikan bukan sebagai beban yang menghambat produktivitas, melainkan sebagai penopang spiritual. Ibadah menjadi pengingat bahwa hidup tidak semata soal pencapaian dunia, tetapi juga tentang arah dan makna. Di tengah kesibukan, ibadah menjaga manusia agar tidak sepenuhnya dikuasai ego dan ambisi.
Bahasa yang Bersahabat, Gagasan yang Mengajak Berpikir
Bahasa yang digunakan Fahruddin Faiz terasa bersahabat. Ia memadukan filsafat, tasawuf, dan realitas sosial tanpa menjadikannya berat atau elitis. Pembaca diajak berpikir, bukan dipaksa sepakat. Buku ini dapat diakses oleh pembaca umum, termasuk mereka yang tengah mencari cara beragama yang lebih jujur dan manusiawi.
Pada akhirnya, Menjadi Hamba, Menjadi Manusia mengingatkan bahwa kehambaan dan kemanusiaan bukan dua kutub yang saling meniadakan. Justru semakin seseorang sadar sebagai hamba, seharusnya semakin ia mampu menjadi manusia yang memanusiakan. Barangkali, persoalan kita hari ini bukan kekurangan simbol keimanan, melainkan minimnya kesediaan untuk menghadirkan Tuhan secara jujur dalam cara kita menjalani hidup bersama.
Penulis: Muhammad Jazuli
