![]() |
| KH. Hasyim Asy’ari. / Foto: Wikimedia Commons / Public Domain |
Nalarmerdeka.com – Di sebuah desa sederhana bernama Gedang, Jombang, pada 14 Februari 1871, lahirlah seorang anak yang kelak menjadi salah satu ulama paling berpengaruh dalam sejarah Indonesia, KH. Hasyim Asy'ari. Ia lahir dari keluarga pesantren. Ayahnya, Kiai Asy’ari, adalah seorang pengasuh pesantren, sementara ibunya, Nyai Halimah, juga berasal dari garis keturunan ulama.
Lingkungan ini membentuk masa kecil Hasyim dalam disiplin yang ketat, tetapi penuh makna. Sejak dini, ia sudah terbiasa dengan suasana mengaji, membaca kitab, dan menyerap nilai-nilai keislaman. Di pesantren, ia tidak hanya belajar ilmu, tetapi juga belajar bagaimana menjadi manusia.
Tradisi pesantren menanamkan satu prinsip penting: ilmu harus berjalan bersama adab. Nilai inilah yang menjadi fondasi kuat dalam perjalanan hidupnya.
Pengembaraan Intelektual: Mencari Ilmu, Membentuk Diri
Memasuki usia remaja, Hasyim mulai melakukan pengembaraan intelektual, sebuah tradisi umum di kalangan santri. Ia berpindah dari satu pesantren ke pesantren lain, belajar kepada banyak kiai besar di Jawa dan Madura. Dari setiap tempat, ia tidak hanya membawa pulang ilmu, tetapi juga pengalaman dan kebijaksanaan.
Pengembaraan ini mencapai puncaknya ketika ia berangkat ke Makkah. Di sana, ia belajar kepada ulama-ulama besar dunia Islam. Ia mendalami hadis, fikih, dan berbagai cabang ilmu agama lainnya. Makkah pada saat itu adalah pusat intelektual Islam, tempat bertemunya pelajar dari berbagai penjuru dunia.
Di kota suci itu, Hasyim tidak hanya belajar teks, tetapi juga memahami konteks. Ia melihat bagaimana Islam dipahami secara beragam, bagaimana tradisi dan pembaruan saling berhadapan, dan bagaimana ilmu menjadi alat untuk membentuk peradaban. Pengalaman ini memperluas cakrawala berpikirnya.
Ia pulang ke Indonesia bukan hanya sebagai seorang santri, tetapi sebagai seorang ulama dengan visi besar.
Mendirikan Tebuireng: Pendidikan sebagai Jalan Perubahan
Sekembalinya ke tanah air, Hasyim melihat kenyataan pahit. Umat Islam hidup dalam keterbelakangan, terjajah secara politik, dan lemah secara intelektual. Ia menyadari bahwa perubahan tidak bisa hanya dilakukan melalui perlawanan fisik, tetapi harus dimulai dari pendidikan. Pada tahun 1899, ia mendirikan Pesantren Tebuireng di Jombang.
Pesantren ini bukan sekadar tempat belajar agama. Tebuireng adalah simbol perlawanan terhadap kebodohan. Di sana, Hasyim membangun sistem pendidikan yang menekankan keseimbangan antara ilmu dan akhlak. Ia ingin mencetak generasi yang tidak hanya alim, tetapi juga berintegritas. Ia dikenal sebagai guru yang tegas. Ia tidak mentoleransi kemalasan, tetapi juga tidak pernah berhenti membimbing. Baginya, menjadi santri adalah proses pembentukan karakter.
Melalui Tebuireng, ia sedang membangun sesuatu yang lebih besar dari sekadar pesantren. Ia sedang membangun kesadaran.
Pemikiran tentang Ilmu dan Adab: Fondasi Peradaban
Salah satu warisan intelektual terpenting Hasyim Asy’ari adalah pandangannya tentang hubungan antara ilmu dan adab. Ia percaya bahwa ilmu tanpa adab akan kehilangan arah. Pandangan ini ia tuangkan dalam kitab Adab al-‘Alim wa al-Muta‘allim.
Dalam karya tersebut, ia menegaskan bahwa tujuan mencari ilmu bukanlah untuk mendapatkan kedudukan atau kekuasaan, tetapi untuk mendekatkan diri kepada Tuhan dan memberi manfaat kepada sesama. Ia melihat bahwa krisis terbesar umat bukanlah kekurangan ilmu, tetapi hilangnya moralitas. Orang yang berilmu tetapi tidak bermoral justru dapat menjadi sumber kerusakan.
Karena itu, ia menekankan pentingnya keikhlasan, kerendahan hati, dan tanggung jawab dalam menuntut ilmu. Bagi Hasyim, pendidikan adalah proses memanusiakan manusia.
Agama dan Perjuangan Sosial: Islam sebagai Kekuatan Pembebas
Hasyim Asy’ari tidak memandang agama sebagai sesuatu yang terpisah dari kehidupan sosial. Baginya, Islam harus hadir dalam realitas, membela yang lemah, dan melawan ketidakadilan. Ia hidup pada masa penjajahan, masa di mana martabat manusia diinjak-injak. Ia memahami bahwa penjajahan bukan hanya merampas tanah, tetapi juga merampas harga diri.
Dalam pandangannya, menjaga kehormatan manusia adalah bagian dari ajaran agama. Karena itu, pendidikan yang ia bangun tidak hanya bertujuan mencetak ahli agama, tetapi juga manusia yang memiliki kesadaran sosial. Ia mengajarkan bahwa keberagamaan sejati harus melahirkan keberpihakan pada kebenaran.
Warisan dan Makna Sejarahnya Hari Ini
KH. Hasyim Asy’ari wafat pada 25 Juli 1947. Ia meninggalkan dunia yang masih dalam perjuangan. Namun, warisannya tidak pernah benar-benar pergi. Ia hidup dalam tradisi pesantren, dalam kitab-kitab yang masih dipelajari, dan dalam nilai-nilai yang masih dipegang hingga hari ini. Warisan terbesarnya bukan hanya lembaga, tetapi cara berpikir.
Ia mengajarkan bahwa ilmu adalah alat pembebasan. Ia menunjukkan bahwa pendidikan adalah jalan perubahan. Ia membuktikan bahwa kekuatan terbesar tidak selalu datang dari kekuasaan, tetapi dari integritas.
Dari sebuah pesantren sederhana di Tebuireng, ia telah menanam benih yang terus tumbuh. Dan sejarah mencatat, perubahan besar sering kali lahir dari ruang-ruang sunyi, dari tangan seorang guru yang percaya bahwa membangun manusia adalah bentuk perjuangan paling abadi.
Penulis: Muhammad Jazuli
