Ad
Scroll untuk melanjutkan membaca

Bukan Mahasiswanya yang Apatis, Tapi Kaderisasinya yang Kehilangan Relevansi

Nalarmerdeka.com – Fenomena merosotnya minat mahasiswa terhadap organisasi ekstra kampus (ormek) bukan lagi sekadar isu pinggiran, melainkan telah menjadi lonceng bahaya yang berbunyi nyaring di lingkungan Universitas Al-Qolam.

Sudah tidak dapat dipungkiri lagi, tingkat apatisme mahasiswa khususnya mahasiswa baru terhadap dunia pergerakan mencapai titik yang mengkhawatirkan. Ruang-ruang diskusi yang dulunya riuh, kini sering kali sepi peminat. Namun, menuding mahasiswa sebagai generasi yang malas atau pragmatis adalah sebuah kesimpulan yang terburu-buru dan tidak adil.

Apatisme ini lahir bukan tanpa sebab. Ada keresahan mendalam di kalangan mahasiswa bahwa organisasi di Universitas Al-Qolam kini lebih mementingkan pragmatisme dalam pengkaderan ketimbang substansi intelektual. Masalah ini bermuara pada satu titik krusial, kegagalan sistem kaderisasi dalam membaca zaman.

Benturan Generasi dan Algoritma Usang

Kita harus membuka mata bahwa demografi mahasiswa Al-Qolam hari ini didominasi oleh Generasi Z. Ini adalah generasi digital native yang tumbuh dengan karakteristik unik, mereka responsif, menyukai pendekatan fleksibel, partisipatif, berbasis isu konkret, dan terintegrasi secara digital.

Mereka terbiasa dengan arus informasi yang cepat dan pola komunikasi egaliter. Sayangnya, realitas di lapangan menunjukkan kontradiksi yang tajam. Metode pengkaderan yang diterapkan organisasi justru memperlihatkan kekakuan yang parah. Berdasarkan hasil observasi mendalam, kaderisasi di tingkat rayon masih terpaku pada alur yang relatif tetap dan monoton: dimulai dari rekrutmen, pengenalan organisasi, penyampaian materi ideologis, penugasan, hingga evaluasi.

Sekilas, pola ini tampak sistematis dan terstruktur. Namun, jika dibedah lebih dalam, sistem ini sangat bergantung pada metode klasik. Ciri utamanya adalah durasi waktu yang sangat panjang, komunikasi satu arah (ceramah), dan pendekatan yang bersifat hierarkis dan doktriner.

Inilah yang bisa kita sebut sebagai algoritma kaderisasi lama. Algoritma ini mungkin efektif satu atau dua dekade lalu, tetapi hari ini, ia mengalami kegagalan fatal saat berhadapan dengan software pemikiran Gen Z.

Ketidaksesuaian yang Menciptakan Jarak Psikologis

Terdapat jurang ketidaksesuaian yang lebar antara algoritma kaderisasi yang dijalankan dengan karakter mahasiswa hari ini. Algoritma kaderisasi memaksa mahasiswa duduk berjam-jam mendengarkan doktrin dengan hierarki senioritas yang kental. Sementara itu, Gen Z menuntut efisiensi waktu, interaksi interaktif, kebiasaan digital, dan kebutuhan akan rasionalisasi logis atas apa yang mereka kerjakan.

Fampak dari ketidaksesuaian ini sangat serius. Mahasiswa mungkin hadir secara fisik di dalam forum-forum pengkaderan karena kewajiban atau tekanan sosial, tetapi jiwa dan pikiran mereka tidak di sana. Mereka tidak merasa terlibat secara emosional.

Mereka hadir secara jasmani, tetapi absen secara psikologis. Akibatnya, proses transfer nilai dan ideologi menjadi tumpul dan tidak berbekas. Organisasi gagal memenangkan hati kadernya sendiri.

Lantas, mengapa angka mahasiswa apatis begitu tinggi?

Penting untuk digarisbawahi bahwa apatisme mahasiswa bukanlah penyebab utama lemahnya kaderisasi, melainkan sebuah respons atau gejala dari sistem yang sudah kedaluwarsa.

Mahasiswa sejatinya tidak menolak nilai-nilai luhur organisasi. Mereka tidak anti terhadap perjuangan atau intelektualitas. Yang mereka tolak adalah cara penyampaian yang tidak lagi relevan dengan cara mereka belajar, berinteraksi, dan memahami dinamika masyarakat.

Gen Z adalah generasi yang realistis dan rasional. Ketika mereka melihat sebuah sistem yang tidak efisien dan tidak berhubungan dengan kehidupan mereka, mereka akan menarik diri.

Masalah utamanya bukan terletak pada mentalitas mahasiswa, melainkan pada keengganan organisasi untuk melakukan otokritik terhadap sistem kaderisasi yang belum mengikuti perubahan generasi.

Solusi Apa Untuk Melawan Kepunahan Itu?

Jika organisasi ingin kembali diminati dan relevan, tidak ada jalan lain selain melakukan rekonstruksi total terhadap algoritma kaderisasi. Organisasi harus berani merombak metode lama agar lebih adaptif.

Pertama, ubah metode penyampaian dari monolog menjadi dialogis dan partisipatif. Mahasiswa baru bukan gelas kosong yang harus diisi air, melainkan mitra berpikir yang kritis.

Kedua, pecah durasi kegiatan yang panjang dan melelahkan menjadi sesi-sesi yang lebih ringkas, padat, dan berbobot. Efisiensi waktu adalah kunci menghargai atensi Gen Z.

Ketiga, materi kaderisasi harus dikaitkan dengan isu-isu nyata yang dekat dengan kehidupan mahasiswa. Abstraksi ideologi harus dibumikan menjadi solusi atas masalah konkret yang mereka hadapi sehari-hari.

Keempat, berikan ruang partisipasi aktif sejak awal. Jangan biarkan hierarki senioritas membungkam kreativitas kader baru.

Perlu ditegaskan, rekonstruksi ini bukan berarti menghilangkan substansi atau melunakkan ideologi kaderisasi. Justru sebaliknya, ini adalah upaya penyelamatan substansi agar bisa diterima dengan baik. Kita hanya menyesuaikan "kemasan" dan "pola interaksi" agar selaras dengan frekuensi Generasi Z. Dengan melakukan transformasi algoritma ini, harapan untuk menghapus stigma apatisme dan membangkitkan kembali gairah berorganisasi di Universitas Al-Qolam bukanlah mimpi kosong. Organisasi harus berubah, atau bersiap ditinggalkan oleh zaman.

Penulis:muhammad rizki abdulah, abdul aziz (kader PMII Rayon Liberalis Averrous)

Baca Juga
Tag:
Berita Terbaru
  • Bukan Mahasiswanya yang Apatis, Tapi Kaderisasinya yang Kehilangan Relevansi
  • Bukan Mahasiswanya yang Apatis, Tapi Kaderisasinya yang Kehilangan Relevansi
  • Bukan Mahasiswanya yang Apatis, Tapi Kaderisasinya yang Kehilangan Relevansi
  • Bukan Mahasiswanya yang Apatis, Tapi Kaderisasinya yang Kehilangan Relevansi
  • Bukan Mahasiswanya yang Apatis, Tapi Kaderisasinya yang Kehilangan Relevansi
  • Bukan Mahasiswanya yang Apatis, Tapi Kaderisasinya yang Kehilangan Relevansi
Posting Komentar
Ad
Ad
Tutup Iklan
Ad