Ad
Scroll untuk melanjutkan membaca

Ibnu Rusyd: Ulama Andalusia yang Diasingkan karena Membela Akal

Ilustrasi Ibnu Rusyd (Averroes), filsuf, ulama, dan hakim asal Cordoba yang hidup pada 1126–1198 M serta dikenal sebagai komentator terbesar Aristoteles. / Foto: Wikimedia Commons / Public Domain.

Nalarmerdeka.com – Di sebuah kota bernama Cordoba, pada tahun 1126 M, lahirlah seorang anak dari keluarga terhormat yang kelak mengguncang fondasi pemikiran dunia Islam. Namanya adalah Ibnu Rusyd. Ia bukan sekadar ulama. Ia hakim, dokter, filsuf, dan pembela akal di tengah zaman yang mulai mencurigai rasio. Ironisnya, pembelaannya terhadap akal justru membuatnya diasingkan oleh peradaban yang membesarkannya sendiri.

Lahir dari Keluarga Ulama dan Hakim

Ibnu Rusyd lahir dengan nama lengkap Abu al-Walid Muhammad ibn Ahmad ibn Rusyd pada 14 April 1126 M di Cordoba, wilayah Andalusia, yang saat itu berada di bawah kekuasaan Islam. Ia berasal dari keluarga ulama besar Mazhab Maliki. Kakeknya, Abu al-Walid Muhammad, adalah seorang Qadhi al-Qudhat (hakim agung), begitu pula ayahnya, Abu al-Qasim Ahmad ibn Rusyd, yang juga menjabat sebagai hakim.

Lingkungan keluarga ini membentuk Ibnu Rusyd menjadi seorang sarjana multidisipliner. Ia mempelajari Fikih, Teologi, Kedokteran, Matematika, Astronomi, dan terutama: filsafat. Di sinilah jalan hidupnya mulai terbentuk.

Membela Filsafat di Tengah Kecurigaan

Pada abad ke-12, filsafat di dunia Islam mulai dicurigai. Banyak ulama menganggap filsafat berbahaya bagi iman. Salah satu tokoh yang paling berpengaruh dalam kritik terhadap filsafat adalah Al-Ghazali, yang dalam bukunya Tahafut al-Falasifah (Kerancuan Para Filsuf) menyatakan bahwa beberapa pandangan filsafat bertentangan dengan Islam.

Namun Ibnu Rusyd mengambil jalan berbeda. Ia justru membela filsafat. Ia menulis karya monumental berjudul Tahafut al-Tahafut (Kerancuan atas Kerancuan), sebagai jawaban atas kritik Al-Ghazali. Baginya, tidak ada pertentangan antara agama dan akal. Ia menulis:

"Kebenaran tidak akan bertentangan dengan kebenaran."

Menurut Ibnu Rusyd, filsafat adalah cara untuk memahami ciptaan Tuhan melalui akal yang juga diberikan oleh Tuhan.

Penafsir Terbesar Aristoteles

Ibnu Rusyd dikenal sebagai komentator terbesar karya-karya Aristoteles. Ia menulis komentar panjang, sedang, dan pendek atas hampir seluruh karya Aristoteles. Karena jasanya ini, di dunia Barat ia dikenal dengan nama Averroes.

Ia percaya bahwa akal manusia adalah alat untuk memahami hukum alam, dan dengan memahami hukum alam, manusia semakin mengenal kebesaran Tuhan. Filsafat, bagi Ibnu Rusyd, bukan ancaman bagi iman, tetapi justru jalannya.

Dokter Istana dan Hakim Agung

Kecerdasannya membuat Ibnu Rusyd diangkat sebagai:

- Hakim (Qadhi) di Seville

- kemudian menjadi Hakim Agung di Cordoba

- dan akhirnya menjadi dokter pribadi khalifah Dinasti Muwahhidun, Abu Ya’qub Yusuf

Ia juga menulis buku kedokteran penting berjudul: Al-Kulliyat fi al-Tibb. Buku ini menjadi rujukan kedokteran di Eropa selama berabad-abad. Ibnu Rusyd adalah simbol ulama yang menguasai agama sekaligus sains.

Ketika Akal Dinyatakan Bersalah

Namun masa kejayaan itu tidak berlangsung selamanya. Setelah khalifah Abu Ya’qub Yusuf wafat, penggantinya, Abu Yusuf al-Mansur, berubah sikap terhadap filsafat. Tekanan dari kelompok konservatif semakin kuat. Ibnu Rusyd dituduh menyimpang, sesat bahkan berbahaya.

Pada tahun 1195 M, ia diasingkan ke Lucena, sebuah kota kecil dekat Cordoba. Lebih tragis lagi, buku-bukunya dibakar. Seorang ulama besar, yang sepanjang hidupnya membela kebenaran melalui ilmu, kini diperlakukan seperti musuh. Peradaban yang dulu melahirkannya, kini menolaknya.

Wafat dalam Pengasingan

Beberapa tahun kemudian, penguasa mencabut pengasingannya. Namun waktu sudah terlambat. Ibnu Rusyd wafat pada 10 Desember 1198 M, di kota Marrakesh, Maroko, dalam usia 72 tahun. Jenazahnya kemudian dipindahkan kembali ke Cordoba, tanah kelahirannya.

Ada sebuah kisah simbolik yang terkenal. Ketika jenazahnya dipindahkan, peti mati Ibnu Rusyd diletakkan di satu sisi keledai, dan buku-bukunya di sisi lainnya. Seolah sejarah sedang berkata: hidupnya adalah keseimbangan antara manusia dan pemikirannya.

Diasingkan di Timur, Dihormati di Barat

Ironisnya, ketika dunia Islam mulai melupakannya, Eropa justru memuliakannya. Karya-karyanya diterjemahkan ke dalam bahasa Latin dan dipelajari di universitas-universitas Eropa. Pemikirannya memengaruhi:

- Universitas Paris

- Universitas Bologna

- dan para pemikir Kristen seperti Thomas Aquinas

Ibnu Rusyd menjadi salah satu fondasi kebangkitan intelektual Eropa. Ia yang diasingkan di dunia Islam, justru menjadi guru bagi dunia Barat.

Warisan yang Terlupakan

Kisah Ibnu Rusyd bukan sekadar biografi seorang ulama. Ia adalah simbol pertarungan abadi: antara akal dan ketakutan. Ia percaya bahwa iman tidak perlu takut pada pertanyaan. Bahwa Tuhan tidak perlu dilindungi dari akal manusia.

Namun sejarah menunjukkan, sering kali peradaban justru takut pada pemikirnya sendiri. Ibnu Rusyd pernah diasingkan. Buku-bukunya pernah dibakar. Namanya pernah dihapus. Namun pikirannya tidak pernah benar-benar mati.

Hari ini, ia dikenang sebagai salah satu pemikir terbesar dalam sejarah manusia. Dan mungkin, pertanyaan terbesarnya masih relevan hingga sekarang: Apakah peradaban bisa maju, jika ia takut pada akalnya sendiri?

Penulis: Muhammad Jazuli 

Baca Juga
Tag:
Berita Terbaru
  • Ibnu Rusyd: Ulama Andalusia yang Diasingkan karena Membela Akal
  • Ibnu Rusyd: Ulama Andalusia yang Diasingkan karena Membela Akal
  • Ibnu Rusyd: Ulama Andalusia yang Diasingkan karena Membela Akal
  • Ibnu Rusyd: Ulama Andalusia yang Diasingkan karena Membela Akal
  • Ibnu Rusyd: Ulama Andalusia yang Diasingkan karena Membela Akal
  • Ibnu Rusyd: Ulama Andalusia yang Diasingkan karena Membela Akal
Posting Komentar
Ad
Ad
Tutup Iklan
Ad