Nalarmerdeka.com – Sebuah penelitian terbaru yang dirilis oleh salah satu Kader PMII dalam artikelnya, menyoroti fonemena paradoksal ditubuh PMII Universitas Al-Qolam Malang. Organisasi Ekstra Kampus (Ormerk) terbesar mahasiswa ini dinilai sedang mengalami krisis identitas serius; memenangkan pertarungan politik kampus secara mutlak, namun mengalami dekadensi kualitas intelektual dan moral.
Apasih yang menyebabkan dekadensi PMII Universitas Al-Qolam?
Berdasarkan observasi, hampir 90% posisi strategis di Universitas Al-Qolam dikuasai oleh kader PMII. Namun, dominasi ini lebih terasa sebagai hegemoni semu. Kekuasaan yang didapat tidak berbasis pada meritokrasi, melainkan mobilisasi.
Dalam proses suksesi lembaga intra, Kader didorong maju untuk meneruskan dinasti politik kecil kampus. Kekhawatiran untuk kalah dipemira kemarin merupakan bukti kecilnya, "Masa kita kalah dengan kotak kosong? " Ucap salah satu kader PMII.
Kritik tajam juga datang dari pihak rektorat, dalam proses fit and proper test Wakil Rektor 1 Universitas Al-Qolam sempat menyebut bahwa pengurus dema/sema yang terpilih pada periode sebelum-sebelumya "hanya pintar ngomong saja, tapi tidak bisa kerja " tuturnya.
Dengan data diatas menimbulkan masalah yang sangat serius, Mengapa banyak mahasiswa Universitas Al-Qolam enggan bergabung atau bahkan membenci PMII? Jawabannya terletak pada Eksklusivitas dan Pragmatisme.
Mahasiswa umum melihat bahwa PMII terlalu sibuk dengan urusan internal dan perebutan kursi, sehingga melupakan fungsi advokasi. Ketika mahasiswa umum melihat rahasia umum aturan tak tertulis bahwa syarat menjadi ketua HMPS atau DEMA harus anak PMII, mereka merasa teralienasi di kampusnya sendiri.
Sistem yang tertutup ini mematikan kompetisi yang sehat. Mahasiswa non-organisasi yang mungkin memiliki potensi akademik dan manajerial hebat akhirnya memilih mundur karena merasa tidak akan bisa menembus tembok tebal birokrasi organisasi ekstra tersebut.
Jadi, Masuk PMII berarti tidak relevan ya?
Fadhilah Rohmatul Ula dkk menegaskan, meskipun secara politik organisasi ini mengalami dekadensi, Namun, secara sosiologis PMII tetap menjadi penyedia modal sosial dan ideologi yang vital bagi kampus.
Di Tengah Gersangnya Kampus, Penelitian ini menyoroti bahwa kurikulum formal di Universitas Al-Qolam cenderung berfokus pada teori akademik. Di sinilah PMII hadir mengisi ruang kosong tersebut sebagai Sekolah Kehidupan.
"Kemampuan public speaking, manajemen massa, lobi, dan penyelesaian konflik adalah keterampilan mahal yang diajarkan secara gratis melalui proses kaderisasi PMII," tulis laporan tersebut.
Hasil observasi peneliti bahkan menemukan pola menarik: alumni PMII Al-Qolam cenderung lebih adaptif dan survive di dunia kerja dibandingkan mahasiswa non-organisasi. Hal ini dikarenakan mentalitas petarung yang ditempa selama proses kaderisasi yang keras, sesuatu yang tidak bisa didapatkan hanya dengan duduk di bangku kuliah.
Selain itu, riset ini menggunakan Teori Social Capital dari Robert Putnam untuk menjelaskan daya tarik utama PMII. Bergabung dengan PMII membuka akses ke jejaring alumni (IKA-PMII) yang luas, mulai dari birokrat, politisi, hingga profesional.
Bagi mahasiswa perantau atau mereka yang berasal dari ekonomi menengah ke bawah, jejaring ini adalah aset berharga untuk mobilitas sosial vertikal. Koneksi ini seringkali menjadi pintu pembuka karir yang tidak dimiliki oleh mahasiswa kuliah-pulang.
Di akhir, penulis memberikan rekomendasi agar PMII kembali fokus pada kekuatan utamanya tersebut.
"PMII Universitas Al-Qolam harus melakukan autokritik radikal. Organisasi harus berhenti menjadikan Jabatan Intra sebagai tujuan utama kaderisasi. Perlu diterapkan mekanisme Audit Kompetensi Internal di mana kader yang didorong maju ke DEMA/SEMA adalah mereka yang benar-benar memiliki kapasitas intelektual dan moral, bukan sekadar kedekatan emosional dengan senior atau berdasarkan mobilisasi saja. Hanya dengan cara itulah, marwah pergerakan bisa dikembalikan dan PMII bisa kembali dicintai, bukan sekadar ditakuti atau dicurigai " Tegasnya.
Penulis: Fadhilah rohmatul ula, Muhammad Alfarizi, Dea Fanisa ayu (Kader PMII Rayon "Liberalis" Averrous)
