Oleh: Muhammad Jazuli
Nalarmerdeka.com – donesia kerap disebut sebagai negara kepulauan terbesar di dunia. Namun jauh sebelum konsep negara modern lahir, Nusantara telah tumbuh sebagai peradaban maritim. Laut bukan batas, melainkan jalan. Ia menghubungkan pulau-pulau, mempertemukan bangsa-bangsa, dan melahirkan pertukaran budaya lintas benua.
Ngaji Budaya #8 mengajak kita membaca kembali sejarah laut Nusantara—sebagai ruang ekonomi, ruang spiritual, sekaligus ruang peradaban.
Sriwijaya dan Majapahit: Kekuatan dari Samudra
Pada abad ke-7, Sriwijaya muncul sebagai kerajaan bahari yang menguasai jalur perdagangan Asia Tenggara. Dengan armada laut yang kuat dan posisi strategis di Selat Malaka, Sriwijaya menjadi pusat perdagangan dan pembelajaran Buddha internasional. Berabad-abad kemudian, Majapahit memperluas pengaruhnya melalui kekuatan maritim.
Sumpah Palapa yang diikrarkan Mahapatih Gajah Mada menunjukkan ambisi penyatuan wilayah Nusantara melalui jalur laut. Kedua kerajaan ini membuktikan bahwa kejayaan Nusantara lahir dari kemampuan menguasai samudra.
Teknologi Lokal: Perahu yang Menembus Zaman
Salah satu simbol kejayaan maritim Nusantara adalah Pinisi, kapal kayu khas Sulawesi Selatan yang dibuat tanpa paku logam tradisional. Pinisi bukan sekadar kapal, melainkan warisan pengetahuan:
- Teknik konstruksi turun-temurun
- Pengetahuan angin dan arus
- Navigasi berbasis bintang
Pada 2017, seni pembuatan Pinisi diakui sebagai Warisan Budaya Takbenda oleh UNESCO. Selain Pinisi, ada pula perahu Sandeq dari Mandar yang terkenal sebagai salah satu perahu layar tercepat di dunia tradisional.
Jalur Rempah: Aroma yang Mengubah Sejarah Dunia
Cengkeh, pala, dan lada dari Maluku membuat Nusantara menjadi pusat perdagangan global. Jalur rempah mempertemukan pedagang Arab, Gujarat, Tiongkok, hingga Eropa. Rempah bukan sekadar komoditas. Ia membawa:
- Penyebaran Islam melalui jaringan perdagangan
- Hubungan diplomatik antar kerajaan
- Kedatangan bangsa Eropa yang kemudian memicu kolonialisme
Sejarah global dan sejarah Indonesia bertemu di lautan.
Budaya Pesisir: Identitas yang Terus Hidup
Masyarakat pesisir memiliki tradisi khas yang memperlihatkan hubungan intim dengan laut, seperti:
- Sedekah laut di Jawa
- Pesta laut di Sulawesi
- Tradisi pelaut Bugis dan Mandar
- Kehidupan komunitas Bajo yang dikenal sebagai “pengembara laut”
Bagi masyarakat maritim, laut adalah ibu sekaligus guru.
Tantangan dan Relevansi Hari Ini
Ironisnya, di era modern, orientasi pembangunan sering lebih berpusat pada daratan. Padahal lebih dari dua pertiga wilayah Indonesia adalah laut. Menghidupkan kembali kesadaran maritim berarti:
- Menguatkan ekonomi kelautan
- Menjaga ekosistem pesisir
- Menghargai warisan budaya bahari
Bangsa yang melupakan lautnya, perlahan melupakan jati dirinya.
Ombak sebagai Ingatan
Laut Nusantara menyimpan cerita tentang keberanian, perdagangan, diplomasi, dan pertemuan peradaban. Dari Sriwijaya hingga Pinisi, dari rempah hingga kolonialisme—semuanya berawal dari ombak.
Ngaji budaya hari ini mengingatkan: Indonesia bukan sekadar gugusan pulau, tetapi peradaban maritim yang membentuk sejarah dunia. Selama angin masih berhembus dan layar masih terkembang, jejak maritim Nusantara akan tetap hidup.
Referensi:
1. UNESCO. Phinisi, Art of Boatbuilding in South Sulawesi.
2. Sriwijaya dalam kajian O.W. Wolters.
3. Southeast Asia in the Age of Commerce – Anthony Reid
4. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia. Program Jalur Rempah Indonesia.
