Ad
Scroll untuk melanjutkan membaca

Renatus Cartesius: Sang Peragu yang Melahirkan Kepastian Modern

Potret René Descartes, filsuf Prancis yang dikenal sebagai Bapak Filsafat Modern dan pencetus “Cogito Ergo Sum”. / Foto: Wikimedia Commons

Nalarmerdeka.com – Di tengah kegaduhan intelektual Eropa abad ke-17, ketika otoritas gereja masih menjadi hakim kebenaran dan tradisi dianggap sebagai fondasi pengetahuan, lahirlah seorang pemikir yang justru memulai filsafatnya dari keraguan. Ia adalah René Descartes, atau dalam latinisasi namanya dikenal sebagai Renatus Cartesius—seorang filsuf yang kelak disebut sebagai Bapak Filsafat Modern.

Ironisnya, warisan terbesar Descartes bukanlah kepastian, melainkan keraguan. Tetapi dari keraguan itulah, ia menemukan kepastian paling fundamental yang pernah dicapai manusia.

Dunia Lama yang Mulai Retak

Descartes lahir pada 31 Maret 1596 di La Haye en Touraine, sebuah kota kecil di Prancis. Ia tumbuh dalam dunia yang sedang berubah. Abad ke-17 adalah masa transisi, ketika sains mulai menantang otoritas agama, dan rasionalitas perlahan menggantikan dogma.

Sejak muda, Descartes dikenal sebagai anak yang cerdas namun penuh kegelisahan intelektual. Ia menempuh pendidikan di Collège Royal Henry-Le-Grand, sebuah sekolah Jesuit ternama. Di sana ia mempelajari filsafat skolastik, tradisi pemikiran yang telah mendominasi Eropa selama berabad-abad. Namun, alih-alih menemukan kepastian, Descartes justru menemukan keraguan.

Ilmu yang ia pelajari terasa rapuh. Para filsuf berbeda pendapat satu sama lain. Tidak ada fondasi yang benar-benar kokoh. Semua tampak berdiri di atas asumsi yang belum tentu benar. Sejak saat itu, ia mulai mempertanyakan segalanya.

Keraguan sebagai Metode

Berbeda dengan para pemikir sebelumnya yang berusaha menghindari keraguan, Descartes justru menjadikannya sebagai metode. Ia bertanya: Bagaimana jika semua yang kita yakini ternyata salah? Bagaimana jika indra kita menipu? Bagaimana jika dunia ini hanyalah ilusi? Descartes bahkan membayangkan kemungkinan adanya “setan jahat” yang menipu seluruh persepsi manusia.

Bagi Descartes, keraguan bukanlah akhir, melainkan alat. Ia ingin meruntuhkan seluruh bangunan pengetahuan lama, untuk kemudian membangunnya kembali di atas fondasi yang benar-benar pasti.

Metode ini kemudian ia tuliskan dalam karyanya yang terkenal, Discourse on the Method, sebuah buku yang tidak hanya mengubah filsafat, tetapi juga sains modern.

Cogito Ergo Sum: Kepastian yang Tak Terbantahkan

Setelah meragukan segalanya, Descartes akhirnya menemukan satu hal yang tidak dapat diragukan: Bahwa ia sedang meragukan. Dan jika ia meragukan, maka ia sedang berpikir. Dan jika ia berpikir, maka ia ada. Dari sinilah lahir kalimat paling terkenal dalam sejarah filsafat: Cogito, ergo sum. Aku berpikir, maka aku ada.

Kalimat ini bukan sekadar ungkapan, melainkan revolusi. Untuk pertama kalinya dalam sejarah, kepastian tidak lagi didasarkan pada dunia luar, tradisi, atau otoritas, melainkan pada kesadaran diri manusia. Manusia tidak lagi bergantung pada dunia untuk memastikan keberadaannya. Manusia cukup berpikir. Dan itu sudah cukup.

Pemikiran ini kemudian ia kembangkan lebih jauh dalam karya lainnya, Meditations on First Philosophy, yang menjadi salah satu teks paling berpengaruh dalam sejarah filsafat Barat.

Kesepian Intelektual Seorang Pemikir

Descartes bukan hanya seorang filsuf, tetapi juga seorang pengembara intelektual. Ia menghabiskan sebagian besar hidupnya berpindah-pindah, dan akhirnya menetap di Belanda, tempat ia menemukan kebebasan berpikir yang lebih besar. Di sana, ia hidup dalam kesunyian. Ia menulis, berpikir, dan meragukan. Kesepian menjadi bagian dari hidupnya. Namun justru dalam kesunyian itulah, ia mengubah dunia.

Descartes juga memberikan kontribusi besar dalam matematika. Ia menciptakan sistem koordinat Kartesius, yang memungkinkan geometri dan aljabar disatukan. Sistem ini masih digunakan hingga hari ini. Ia bukan hanya mengubah cara manusia berpikir. Ia juga mengubah cara manusia memahami ruang.

Akhir Hidup di Negeri Asing

Pada tahun 1649, Descartes menerima undangan dari Ratu Christina untuk mengajar filsafat di Swedia. Namun, iklim dingin dan jadwal yang berat membuat kesehatannya menurun. Pada 11 Februari 1650, René Descartes meninggal dunia karena pneumonia. Ia wafat jauh dari tanah kelahirannya. Tetapi pemikirannya tidak pernah mati.

Warisan yang Mengubah Dunia

Sebelum Descartes, manusia mencari kepastian di luar dirinya. Setelah Descartes, manusia menemukannya di dalam dirinya. Ia memindahkan pusat kebenaran dari dunia eksternal ke kesadaran internal. Ia mengajarkan bahwa berpikir adalah bukti keberadaan. Bahwa meragukan bukanlah kelemahan, melainkan keberanian intelektual. Bahwa kepastian sejati tidak diwariskan, melainkan ditemukan.

Descartes membuka jalan bagi lahirnya filsafat modern, sains modern, dan cara berpikir modern. Hari ini, ketika manusia mempertanyakan dunia, mempertanyakan kebenaran, bahkan mempertanyakan dirinya sendiri—mereka sedang berjalan di jalan yang pertama kali dibuka oleh Renatus Cartesius. Seorang peragu. Yang justru melahirkan kepastian.

Penulis: Muhammad Jazuli 

Baca Juga
Tag:
Berita Terbaru
  • Renatus Cartesius: Sang Peragu yang Melahirkan Kepastian Modern
  • Renatus Cartesius: Sang Peragu yang Melahirkan Kepastian Modern
  • Renatus Cartesius: Sang Peragu yang Melahirkan Kepastian Modern
  • Renatus Cartesius: Sang Peragu yang Melahirkan Kepastian Modern
  • Renatus Cartesius: Sang Peragu yang Melahirkan Kepastian Modern
  • Renatus Cartesius: Sang Peragu yang Melahirkan Kepastian Modern
Posting Komentar
Ad
Ad
Tutup Iklan
Ad