![]() |
| John Tobing, pencipta lagu Darah Juang, yang menjadi simbol perjuangan mahasiswa Indonesia. / Foto: Gemini / Nalarmerdeka |
Nalarmerdeka.com – Kabar duka menyelimuti dunia pergerakan dan aktivisme Indonesia. Johnson Marhasak Lumbantobing, atau yang lebih dikenal sebagai John Tobing, mengembuskan napas terakhirnya pada Rabu (25/2/2026) pukul 20.45 WIB di Rumah Sakit Akademik (RSA) UGM, Yogyakarta.
Sang maestro yang melahirkan "himne wajib" mahasiswa dan rakyat ini berpulang setelah menjalani perawatan intensif. Sebelumnya, kondisi kesehatan John memang sempat menurun sejak akhir 2025 akibat serangan stroke.
Lahir dari Kegelisahan di Gejayan
Lagu "Darah Juang" bukan sekadar gubahan nada bagi John Tobing. Diciptakan sekitar tahun 1991-1992 di sebuah rumah kontrakan di kawasan Gejayan, melodi ini lahir dari rahim keresahan John saat masih menjadi mahasiswa Fakultas Filsafat UGM angkatan 1986.
Melihat ketimpangan sosial dan kondisi bangsa yang saat itu ia nilai sedang "dibodohi oleh bangsanya sendiri", John menggubah melodi yang kemudian disempurnakan liriknya melalui kolaborasi dengan Dadang Juliantara serta masukan dari kawan-kawan aktivis lainnya.
Identitas yang Sempat Tersembunyi
Meski "Darah Juang" bergema kencang di tengah pendudukan Gedung DPR/MPR pada Mei 1998, John Tobing justru sempat tak menyadari bahwa karyanya telah menjadi ruh perjuangan mahasiswa secara masif. Identitasnya sebagai pencipta lagu tersebut baru diketahui luas bertahun-tahun kemudian.
"Bunda relakan darah juang kami, Padamu kami berjanji..."
Penggalan lirik tersebut hingga kini tetap menjadi suara kolektif bagi buruh yang tak sekolah, pemuda desa yang tak kerja, serta rakyat yang hak-haknya terampas.
Jejak Pengabdian Terakhir
Selain sebagai musisi pergerakan, John Tobing juga pernah mencatatkan diri dalam dunia politik praktis sebagai Wakil Ketua PDI Perjuangan Riau. Sepanjang hidupnya, ia telah melahirkan ratusan karya musik, namun "Darah Juang" tetap menjadi warisan paling monumental yang melampaui zaman.
Kepergian John Tobing adalah kehilangan besar bagi dunia seni dan aktivisme. Kini, sang kreator telah tiada, namun spirit perlawanan dalam bait-bait lagunya dipastikan akan terus bergema di setiap sudut jalanan tempat perjuangan rakyat disuarakan.
Selamat jalan, John Tobing. Restuilah perjuangan.
Penulis: Maulidin
