![]() |
| Gedung rektorat Universitas Airlangga di Surabaya, kampus yang diresmikan pada 10 November 1954. / Foto: Wikimedia Commons / CC License. |
Nalarmerdeka.com – Di tengah denyut sejarah Surabaya sebagai Kota Pahlawan, berdiri sebuah institusi pendidikan tinggi yang namanya diambil dari raja besar Nusantara: Universitas Airlangga.
Kampus ini bukan sekadar tempat belajar, melainkan hasil dari perjalanan panjang sejarah kolonial, perjuangan kemerdekaan, dan cita-cita besar membangun bangsa melalui ilmu pengetahuan.
Peresmian Universitas Airlangga pada 10 November 1954 bukanlah kebetulan. Tanggal itu dipilih dengan penuh makna—bertepatan dengan Hari Pahlawan, hari yang mengingatkan bangsa Indonesia pada keberanian arek-arek Surabaya melawan penjajah. Momentum tersebut menjadi simbol bahwa pendidikan adalah bagian dari perjuangan bangsa.
Akar Kolonial: Pendidikan Dokter di Masa Hindia Belanda
Sejarah Universitas Airlangga tidak dapat dilepaskan dari pendidikan kedokteran kolonial. Pada awal abad ke-20, pemerintah Hindia Belanda mendirikan sekolah dokter bernama Nederlandsch Indische Artsen School (NIAS) di Surabaya pada tahun 1913. Sekolah ini bertujuan mendidik tenaga medis pribumi untuk memenuhi kebutuhan layanan kesehatan kolonial.
NIAS kemudian berkembang dan menjadi bagian dari sistem pendidikan tinggi kedokteran yang lebih luas. Selain NIAS, terdapat pula Geneeskundige Hoogeschool (GHS), sekolah tinggi kedokteran yang memiliki standar pendidikan lebih tinggi.
Kehadiran lembaga-lembaga ini berkaitan erat dengan berdirinya Rumah Sakit Dr. Soetomo, yang menjadi pusat pendidikan klinis. Rumah sakit tersebut bukan hanya tempat perawatan pasien, tetapi juga laboratorium hidup bagi para calon dokter. Dari sinilah fondasi akademik Universitas Airlangga dibangun—dari ruang-ruang kelas kedokteran kolonial hingga ruang praktik medis.
Dari Cabang Universitas Indonesia Menuju Kampus Mandiri
Setelah Indonesia merdeka pada tahun 1945, kebutuhan akan pendidikan tinggi nasional semakin mendesak. Pada masa awal kemerdekaan, fakultas-fakultas di Surabaya belum berdiri sebagai universitas mandiri, melainkan menjadi cabang dari Universitas Indonesia. Dua fakultas utama yang menjadi cikal bakal Universitas Airlangga adalah:
- Fakultas Kedokteran
- Fakultas Kedokteran Gigi
Fakultas-fakultas ini memainkan peran penting dalam mencetak tenaga medis bagi negara yang baru merdeka. Namun, pemerintah Indonesia menyadari bahwa Surabaya, sebagai kota terbesar kedua di Indonesia, membutuhkan universitas mandiri. Keputusan untuk mendirikan universitas sendiri di Surabaya pun diambil sebagai bagian dari pembangunan nasional.
Peresmian oleh Presiden Soekarno: 10 November 1954
Tonggak sejarah itu akhirnya tiba pada 10 November 1954. Pada hari itu, Presiden Soekarno secara resmi meresmikan Universitas Airlangga. Peresmian dilakukan dalam suasana penuh simbolisme, bertepatan dengan Hari Pahlawan. Dalam pidatonya, Soekarno menekankan pentingnya universitas sebagai pusat pembentukan karakter bangsa. Pendidikan tinggi bukan hanya tempat mencari ilmu, tetapi juga tempat membangun kesadaran nasional.
Dengan peresmian tersebut, Universitas Airlangga resmi berdiri sebagai universitas negeri mandiri. Pada awal berdirinya, universitas ini memiliki 2 fakultas, puluhan dosen dan ratusan mahasiswa.
Namun, dari awal yang sederhana itulah, perjalanan panjang dimulai.
Nama Airlangga: Menghidupkan Kembali Kejayaan Nusantara
Nama “Airlangga” bukan dipilih secara sembarangan. Nama ini diambil dari Airlangga, raja besar yang memerintah Kerajaan Kahuripan pada abad ke-11. Raja Airlangga dikenal sebagai pemimpin yang berhasil:
- mempersatukan wilayah Jawa Timur
- memulihkan peradaban setelah masa kekacauan
- membangun pusat ilmu pengetahuan
Dengan menggunakan nama Airlangga, universitas ini diharapkan menjadi simbol kebangkitan ilmu pengetahuan di Indonesia, khususnya di Jawa Timur. Lambang universitas yang menampilkan Garuda Mukti juga melambangkan kebijaksanaan, kekuatan, dan ilmu pengetahuan.
Perkembangan Pesat: Dari Dua Fakultas ke Puluhan Fakultas
Seiring waktu, Universitas Airlangga berkembang pesat. Pada dekade 1960-an dan 1970-an, berbagai fakultas baru didirikan, seperti:
- Fakultas Hukum
- Fakultas Ekonomi
- Fakultas Farmasi
- Fakultas Kedokteran Hewan
- Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik
Kampus pun berkembang ke berbagai lokasi di Surabaya, termasuk:
- Kampus A (Dharmawangsa)
- Kampus B
- Kampus C (Mulyorejo)
Perluasan ini mencerminkan meningkatnya kebutuhan masyarakat akan pendidikan tinggi. Universitas Airlangga tidak lagi hanya dikenal sebagai kampus kedokteran, tetapi sebagai universitas multidisipliner.
Peran dalam Membangun Bangsa
Sejak berdiri, Universitas Airlangga telah melahirkan ribuan lulusan yang berperan penting dalam pembangunan Indonesia. Lulusan universitas ini menjadi dokter, hakim, ekonom, akademisi hingga pejabat negara.
Universitas Airlangga juga menjadi pusat penelitian, khususnya di bidang kesehatan dan ilmu sosial. Keberadaan universitas ini membantu memperkuat posisi Surabaya sebagai pusat pendidikan di Indonesia.
Universitas Airlangga Hari Ini: Warisan Sejarah dan Masa Depan
Hari ini, Universitas Airlangga telah berkembang menjadi salah satu universitas terbaik di Indonesia. Dengan puluhan fakultas, puluhan ribu mahasiswa dan jaringan internasional.
Namun, di balik modernitasnya, universitas ini tetap menyimpan jejak sejarah panjang—dari sekolah dokter kolonial, cabang universitas nasional, hingga menjadi universitas mandiri.
Tanggal 10 November tetap menjadi pengingat bahwa universitas ini lahir dari semangat perjuangan. Sebagaimana Surabaya mempertahankan kemerdekaan dengan darah dan pengorbanan, Universitas Airlangga mempertahankan masa depan bangsa melalui ilmu pengetahuan.
Universitas ini bukan hanya bangunan dan ruang kelas. Ia adalah simbol. Simbol bahwa perjuangan tidak selalu dilakukan dengan senjata. Tetapi juga dengan pena, buku, dan ilmu pengetahuan.
