![]() |
| Gedung Rektorat Universitas Indonesia di Kampus Depok, Jawa Barat, yang menjadi pusat administrasi sejak perpindahan kampus utama dari Salemba pada 1987. / Foto: Wikimedia Commons / Gunawan Kartapranata |
Nalarmerdeka.com – Di tepi Jalan Salemba, Jakarta Pusat, berdiri bangunan tua berwarna pucat yang hari ini menjadi bagian dari Fakultas Kedokteran. Dindingnya menyimpan sejarah panjang lebih dari satu abad—sejarah yang tidak hanya melahirkan dokter, tetapi juga kesadaran kebangsaan.
Dari tempat inilah, perjalanan Universitas Indonesia bermula, jauh sebelum republik ini lahir.
Akar Kolonial: 1851, Sekolah Dokter Jawa
Sejarah UI dapat ditelusuri hingga tahun 1851, ketika pemerintah kolonial Belanda mendirikan sekolah kedokteran bernama Dokter-Djawa School di Batavia, kini Jakarta. Sekolah ini didirikan untuk memenuhi kebutuhan tenaga medis murah yang dapat melayani kepentingan kolonial.
Pada awalnya, pendidikan berlangsung sederhana. Lama studi hanya dua tahun, dan para siswa berasal dari kalangan pribumi yang dipilih secara ketat. Mereka dididik untuk menjadi tenaga medis pembantu, bukan dokter setara Eropa.
Namun, perubahan besar terjadi pada 1898, ketika sekolah ini direorganisasi dan berganti nama menjadi STOVIA (School tot Opleiding van Inlandsche Artsen atau Sekolah Pendidikan Dokter Pribumi). STOVIA berlokasi di kawasan Weltevreden, Batavia—sekarang dikenal sebagai kawasan Salemba. Di sinilah pendidikan modern bagi kaum pribumi mulai berkembang.
STOVIA dan Lahirnya Kesadaran Nasional
STOVIA tidak hanya menjadi tempat belajar ilmu kedokteran. Ia menjadi ruang lahirnya kesadaran nasional. Pada 20 Mei 1908, mahasiswa STOVIA mendirikan organisasi Budi Utomo, yang kemudian dikenang sebagai tonggak Kebangkitan Nasional Indonesia. Tokoh seperti:
- dan tokoh pergerakan lainnya pernah menempuh pendidikan di sini. STOVIA menjadi simbol bahwa pendidikan modern dapat melahirkan perlawanan intelektual terhadap kolonialisme.
Transformasi Menjadi Perguruan Tinggi
Memasuki abad ke-20, sistem pendidikan tinggi di Hindia Belanda berkembang. Pada 1924, pemerintah kolonial mendirikan Geneeskundige Hoogeschool (GHS), sekolah tinggi kedokteran, sebagai kelanjutan STOVIA. Kemudian pada 1940, Belanda mendirikan Rechts Hogeschool (Sekolah Tinggi Hukum). Ini menjadi embrio fakultas hukum di masa depan.
Namun, perkembangan ini terhenti ketika Jepang menduduki Indonesia pada 1942–1945. Selama pendudukan Jepang, banyak institusi pendidikan ditutup atau direorganisasi sesuai kepentingan militer Jepang.
1947: Lahirnya Universiteit van Indonesië
Setelah Perang Dunia II, Belanda kembali dan mendirikan universitas modern bernama Universiteit van Indonesië pada 1947. Universitas ini memiliki beberapa fakultas, antara lain:
- Kedokteran di Batavia
- Hukum di Batavia
- Sastra
- Pertanian di Bogor
Inilah cikal bakal langsung Universitas Indonesia. Namun, universitas ini masih berada di bawah kontrol Belanda.
1950: Resmi Menjadi Universitas Indonesia
Peristiwa penting terjadi pada 2 Februari 1950. Setelah pengakuan kedaulatan Indonesia pada 1949, Universiteit van Indonesië resmi diambil alih oleh pemerintah Republik Indonesia. Namanya diubah menjadi Universitas Indonesia. Tanggal ini kemudian diperingati sebagai hari lahir resmi UI.
Pada masa awal kemerdekaan, UI memiliki kampus yang tersebar di berbagai kota:
- Jakarta
- Bogor
- Bandung
- Surabaya
- Makassar
Namun, kampus-kampus ini kemudian berkembang menjadi universitas mandiri:
- Universitas Padjadjaran (1957)
- Universitas Airlangga (1954)
- Universitas Hasanuddin (1956)
UI kemudian berpusat di Jakarta.
Kampus Salemba: Jantung Intelektual Republik
Kampus UI di Salemba menjadi pusat kegiatan akademik sejak 1950-an. Di sinilah generasi intelektual Indonesia dibentuk. Pada masa demokrasi parlementer, hingga Orde Baru, Salemba menjadi saksi:
- diskusi politik mahasiswa
- gerakan kritik terhadap pemerintah
- lahirnya intelektual nasional
Fakultas Kedokteran, Fakultas Hukum, dan Fakultas Ekonomi menjadi pusat pendidikan elite Indonesia. Banyak tokoh nasional lahir dari kampus ini.
1987: Perpindahan Besar ke Depok
Perubahan terbesar dalam sejarah UI terjadi pada 1987, ketika kampus utama dipindahkan ke Depok, Jawa Barat. Pemerintah membangun kampus baru seluas sekitar 320 hektare. Perpindahan ini dilakukan karena:
- Kampus Salemba terlalu sempit
- Jumlah mahasiswa terus bertambah
- Kebutuhan fasilitas modern
Kampus Depok dirancang sebagai kampus terpadu. Dengan danau, hutan kota, dan fasilitas lengkap, UI menjadi salah satu kampus terbesar di Asia Tenggara. Namun, Fakultas Kedokteran dan beberapa fasilitas tetap berada di Salemba.
Era Modern dan Status Otonomi
Perkembangan penting berikutnya terjadi pada 2000, ketika UI ditetapkan sebagai Badan Hukum Milik Negara (BHMN) melalui Peraturan Pemerintah. Kemudian pada 2012, statusnya berubah menjadi Perguruan Tinggi Negeri Badan Hukum (PTN-BH). Status ini memberikan otonomi lebih luas dalam:
- pengelolaan akademik
- keuangan
- organisasi
UI berkembang menjadi universitas riset modern.
Warisan Lebih dari Satu Abad
Hari ini, Universitas Indonesia telah berkembang jauh dari sekolah dokter kecil pada 1851. Ia memiliki:
- puluhan ribu mahasiswa
- berbagai fakultas dan program studi
- jaringan alumni di seluruh Indonesia
Namun, jejak sejarahnya masih terasa. Bangunan tua di Salemba. Cerita mahasiswa STOVIA. Dan perjalanan panjang dari kolonialisme menuju kemerdekaan.
Universitas Indonesia bukan sekadar kampus. Ia adalah saksi bagaimana pendidikan menjadi bagian penting dalam perjalanan bangsa Indonesia. Dari ruang kelas sederhana di Batavia, hingga kampus luas di Depok, sejarah UI adalah cerita tentang perubahan—tentang ilmu, kekuasaan, dan lahirnya kesadaran nasional. Dan seperti dinding tua di Salemba, sejarah itu masih berdiri hingga hari ini.
Penulis: Muhammad Jazuli
