Ad
Scroll untuk melanjutkan membaca

Socrates di Mata Montaigne: Menemukan Kebijaksanaan dalam Kesederhanaan

 

Ilustrasi percakapan imajiner antara Socrates dan Michel de Montaigne, simbol kebijaksanaan dalam kesederhanaan. / Foto: Gemini / Nalarmerdeka 

Nalarmerdeka.com – Di era ketika citra diri dikurasi dalam hitungan detik dan kebijaksanaan sering kali disamakan dengan deretan gelar atau kutipan rumit, sosok Socrates terasa "mengganggu". Ia tidak menulis buku, tidak mendirikan sekolah megah, bahkan tidak pernah mengklaim dirinya bijak. Namun, dua ribu tahun kemudian, namanya tetap tegak sebagai simbol keberanian berpikir dan ketenangan batin.

Salah satu pembaca paling jernih atas Socrates adalah filsuf abad ke-16, Michel de Montaigne. Dalam esai-esainya, Montaigne tidak sekadar memuja Socrates sebagai monumen sejarah. Ia mengaguminya karena satu hal yang sering kita lupakan: kemanusiaannya yang wajar.

Jebakan Otoritas dan Kerumitan

Montaigne memulai dengan pengamatan yang sangat relevan hari ini: sebagian besar pengetahuan kita bersumber dari otoritas, bukan pengalaman langsung. Kita percaya pada sesuatu karena nama besar; kita mengutip karena reputasi; kita mengagumi Socrates mungkin hanya karena "semua orang mengaguminya".

Namun, apa yang sebenarnya dilakukan Socrates? Ia tidak berbicara tentang metafisika yang melayang jauh dari bumi. Ia berjalan di pasar, berbincang dengan tukang, pemuda, hingga politisi. Topiknya sangat biasa: keadilan, keberanian, dan bagaimana menjalani hidup yang baik. Ia tidak memikat dengan retorika indah, melainkan dengan pertanyaan sederhana yang sering kali menjengkelkan namun membongkar kepalsuan.

Mengapa Kita Meremehkan yang Sederhana?

Ada kecenderungan manusia modern untuk menyamakan kompleksitas dengan kedalaman. Kita curiga pada kejelasan dan menganggap yang sederhana itu dangkal. Padahal, menurut Montaigne, kekuatan sejati sering tersembunyi dalam bentuk yang paling alami.

Bandingkan Socrates dengan Cato the Younger. Cato dikenang karena sikap keras dan kematian tragisnya demi prinsip politik—sosok heroik yang monumental. Namun Socrates berbeda. Ia tidak mati di medan perang dengan pedang di tangan. Ia meminum racun dengan tenang, tanpa teriakan, tanpa drama, dan tanpa kebencian.

Keberanian Socrates bukanlah ledakan emosi sesaat, melainkan sebuah kestabilan jiwa. Dan kestabilan jauh lebih sulit dicapai daripada kepahlawanan teatrikal.

Kebijaksanaan Tanpa Gelar

Salah satu gagasan paling menggugah dari Montaigne adalah: manusia sebenarnya jauh lebih kuat daripada yang mereka kira. Kita sering merasa rapuh tanpa buku, teori, atau gelar. Kita menganggap kebijaksanaan hanya lahir dari perpustakaan. Jiwa Socrates lebih dekat pada mereka daripada pada para orator besar.

Bagi Socrates dan Montaigne, ilmu seharusnya menjadi latihan bagi jiwa, bukan beban yang membuat kita gentar. Apa gunanya filsafat jika justru membuat kita takut menghadapi hidup? Apa gunanya buku tebal jika kita justru semakin cemas terhadap kematian?

Ilmu Sebagai Karakter, Bukan Sekadar Informasi

Dalam tradisi keilmuan Islam, ilmu diibaratkan sebagai Nur (cahaya). Ia seharusnya menerangi jalan, bukan memperkeruh pikiran. Socrates menunjukkan bahwa filsafat sejati adalah soal pembentukan karakter.

Sering kali kita melihat fenomena sebaliknya: orang yang baru mengenal filsafat atau ilmu tertentu justru menjadi semakin gelisah, skeptis yang berlebihan, dan terasing dari kehidupan nyata. Ilmu hukum bisa melahirkan sinisme; ilmu ekonomi bisa memicu sikap terlalu transaksional; bahkan ilmu psikologi bisa membuat orang terjebak menganalisis diri tanpa akhir.

Masalahnya bukan pada ilmunya, melainkan pada penghayatannya. Jika setelah belajar kita justru menjauh dari kebijaksanaan orang biasa, mungkin yang kita kumpulkan baru sebatas konsep, belum menjadi karakter.

Penulis: Maulidin

Baca Juga
Tag:
Berita Terbaru
  • Socrates di Mata Montaigne: Menemukan Kebijaksanaan dalam Kesederhanaan
  • Socrates di Mata Montaigne: Menemukan Kebijaksanaan dalam Kesederhanaan
  • Socrates di Mata Montaigne: Menemukan Kebijaksanaan dalam Kesederhanaan
  • Socrates di Mata Montaigne: Menemukan Kebijaksanaan dalam Kesederhanaan
  • Socrates di Mata Montaigne: Menemukan Kebijaksanaan dalam Kesederhanaan
  • Socrates di Mata Montaigne: Menemukan Kebijaksanaan dalam Kesederhanaan
Posting Komentar
Ad
Ad
Tutup Iklan
Ad