![]() |
| Buku karya Soren Kierkegard dengan judul Makna Cinta: Menjadi Autentik dengan Mencintai Tanpa Syarat. / Foto: Maulidin |
Nalarmerdeka.com – Kopenhagen, 1840. Hujan deras mengguyur alun-alun Kongens Nytorv. Di tengah kepanikan orang-orang mencari tempat berteduh, seorang pemuda berdiri mematung. Payungnya—satu-satunya "teman" setianya—tiba-tiba terbalik ditiup angin. Rusak. Tidak bisa melindunginya sama sekali.
Seperti hati yang patah. Seperti janji yang diingkari.
Pemuda itu adalah Søren Kierkegaard. Di momen itu, ia sempat berpikir untuk menjadi seorang pembenci manusia (misanthrope). Namun, ia memilih jalan lain: ia memaafkan payung itu. Dalam catatan hariannya, ia menulis sebuah fragmen yang ganjil namun indah:
"Kadang aku berjalan mondar-mandir di kamar, berpura-pura seolah aku sedang di luar rumah, lalu bersandar pada payung itu, membukanya, menaruh dagu di gagangnya, dan mendekatkannya ke bibirku."
Ini bukan lelucon. Ini adalah pintu masuk ke dalam kepala salah satu filsuf paling berpengaruh di dunia; sosok yang bisa menulis tentang dosa asal di satu halaman, lalu membahas nikmatnya berkeringat di halaman berikutnya.
"Lengan yang Kering": Rahasia Manusia yang Tidak Pernah Utuh
Kierkegaard punya teori aneh tentang dirinya: ia merasa seperti bayi yang dibaptis di Irlandia. Konon, orang Irlandia tidak tega membenamkan bayi sepenuhnya ke dalam air; mereka menyisakan satu lengan agar tetap kering.
Lengan itu adalah simbol kebebasan lama atau unsur pagan yang tak tersentuh doktrin. Kierkegaard merasa dirinya seperti itu—seorang pemikir Kristen radikal yang tidak pernah bisa sepenuhnya "tenggelam" dalam iman. Selalu ada bagian dalam dirinya yang liar dan tidak mau mati. Ia menulis untuk membaptis dirinya sendiri berkali-kali, namun selalu menyelamatkan "satu lengan" agar tidak kehilangan jati dirinya yang lama.
Manifesto Kesepian "Introvert Premium"
Meskipun mewarisi kekayaan besar dari ayahnya, Kierkegaard tidak menggunakan uangnya untuk kemewahan sosial. Ia menggunakan segalanya sebagai baju besi.
Uang menjadi pelindung agar masalah finansial tidak mengganggu pikirannya.
Senyum menjadi topeng untuk menyembunyikan tangisan batin.
Pengetahuan menjadi selimut bagi jiwanya yang sakit.
Teman menjadi jarak agar ia tidak perlu benar-benar dekat dengan siapa pun.
Ia adalah seorang introvert premium. Ia bahkan rela memberi uang kepada orang terdekatnya hanya agar mereka tidak terlalu dekat dengannya. Ia ingin diperhatikan, tetapi takut jika ada orang yang benar-benar peduli.
Regine Olsen: Luka yang Sengaja Dipelihara
Kisah hidup Kierkegaard tak pernah lepas dari Regine Olsen. Ia melamar gadis berusia 18 tahun itu, namun kemudian meninggalkannya dan menyesalinya seumur hidup.
Ia meninggalkan Regine bukan karena tidak cinta. Justru sebaliknya, ia merasa cintanya terlalu besar—sebuah "hasrat historis-duniawi" yang menuntut pengorbanan. Ia merasa dirinya tidak akan pernah bisa menjadi suami yang normal. Ia memilih menjadi luka yang dikenang daripada menjadi pasangan yang biasa-biasa saja.
Tragedi ini melahirkan karya-karya besar seperti Either/Or dan Fear and Trembling. Baginya, hidup adalah jarak antara apa yang kita harapkan dan apa yang benar-benar terjadi. Responsnya hanya dua: tertawa atau menangis. Kierkegaard memilih melakukan keduanya secara bersamaan.
Kecemasan adalah Tanda Kita "Bukan Milik Dunia Ini"
Dalam bukunya The Concept of Anxiety (1842), ia menjelaskan bahwa kecemasan (Angst) adalah keinginan terhadap apa yang ditakuti—sebuah penolakan yang sekaligus ketertarikan.
Namun, Kierkegaard tidak melihat kecemasan sebagai penyakit. Baginya, kecemasan adalah bukti bahwa kita bukan sekadar hewan. Mengutip Hamann, ia percaya bahwa jika kita tidak pernah gelisah, kita tidak akan pernah merindukan "rumah" yang sebenarnya di akhirat. Kecemasan adalah bukti bahwa dunia ini bukan perhentian terakhir kita.
Ia sadar bahwa setiap orang punya ideal tentang dirinya, namun kenyataannya kita sering menjadi "karikatur" dari ideal tersebut. Ia memimpikan menjadi pria sederhana yang puas merokok pipa di sore hari, namun ia justru berakhir sebagai pria yang terlalu banyak berpikir hingga menghancurkan pernikahannya sendiri.
Bergumul dengan Kegelisahan
Kierkegaard tidak ingin pengikut; ia ingin pembaca yang mau bergumul. Ia ingin kita berani berdiri di tengah hujan, memegang payung yang sudah berkhianat, dan tetap memaafkannya.
Membaca Kierkegaard dua ratus tahun kemudian adalah cara kita menyadari bahwa kita tidak sendirian dalam kegelisahan ini. Jika ia bisa memaafkan payung yang mengkhianatinya di tengah badai, mungkin kita juga bisa mulai memaafkan diri sendiri atas segala kontradiksi dan bagian diri yang sengaja tidak pernah kita celupkan sepenuhnya ke dalam air kehidupan.
Penulis: Maulidin
